Penjualan Langsung : Keliling dan Mangkal

Setelah membuka kios dan berjualan langsung, saya berusaha mengembangkan varian distribusi. Langkah pertama adalah menghubungi beberapa penjual sayur untuk mendistribusikan pisang.

Jika pisangnya dari kebun sendiri, hal ini bisa berjalan lancar, tapi kalau kita membeli di pasar untuk dijual kembali ke tukang sayur, kemungkinan tidak akan bisa. Marginnya terlalu tipis, kualitas barang juga sukar dipastikan.

Bahkan kiriman dari pengepul juga marginnya tidak besar jika dijualnya ke pihak yang akan menjual kembali, kecuali kita bisa mendapatkan harga yang bagus dengan pisang yang berkualitas.

Sambil tetap menjalankan 2 kegiatan (kios dan distribusi ke tukang sayur), saya mencoba alternatif penjualan keliling dan mangkal di pinggir jalan.

Saya mencoba survei dan keliling beberapa tempat yang kira-kira cocok. Kebetulan saya punya sepupu yang biasanya berjualan beras dan paman yang biasanya berjualan buah potong. Mereka setuju untuk berjualan pisang asal dibuatkan media untuk berjualan.

Jadi saya kontak paman yang lain, minta bantuannya untuk membuatkan bronjong (keranjang kiri kanan) sebagai tempat pisang sekalian bisa untuk mangkal berjualan. Bronjongnya diletakkan dibagian belakang, kiri dan kanan sepeda motor.

Bentuknya sederhana tapi fungsinya sesuai. Saya mengambil ide dari penjual nanas madu. Sebenarnya saya minta kayu vertikal dan horisontalnya lebih tinggi dan panjang agar lebih mudah membuat display pisang. Untuk awalan yang dibuat saat ini cukup, tapi saya minta desainnya lebih disempurnakan.

Setelah jadi, saya coba simulasikan penempatan pisangnya. Saat berangkat dari rumah atau saat sedang berjalan, sebagian besar pisang ada didalam bronjong. Jadi nggak ada kemungkinan pisang jatuh atau terlempar. Saat awal berjualan, displaynya memang belum rapi. Belum lengkap dan belum tertata, tapi tidak apa-apa buat awalan.

Di Excellent (usaha saya dibidang IT, https://www.excellent.co.id), ada satu prinsip yang diambil dari pola di Microsoft, yaitu release early release often. Apa sih arti dari prinsip itu?

Artinya adalah, rilis awal dan rilis lebih sering. Maksud dari prinsip itu adalah, jika kita menunggu sampai segala sesuatu berjalan sempurna, bisa jadi nggak akan pernah kita mulai. Jika sudah sampai titik cukup memadai (MVP, Minimum Viable Product), tidak apa-apa dirilis atau dijalankan. Nanti seiring waktu, kita dapat melengkapinya berdasarkan feedback atau masukan dari pengguna.

Jadi, meski media untuk berjualan belum terlalu bagus dan belum 100% sesuai harapan, saya tetap mulai menjalankannya.

Saya memberikan modal awal, media untuk berjualan, pisang untuk dijual dan pesan sponsor : “Bang, tantangan terberat berjualan adalah jika seharian berjualan tidak ada satupun yang terjual. Tapi nggak apa-apa, masya kita mau guling-gulingan karena nggak ada yang terjual. Nanti kita review apa kekurangannya…”

Sebenarnya saya berkata begitu untuk menguatkan diri saya sendiri, hehehe… Sepupu dan paman saya kan sudah pernah berjualan, jadi mereka harusnya sudah cukup paham.

Jumat kemarin mereka mulai berjualan. Jam 9 pagi saya dikabari oleh adik saya yang saya minta untuk mengecek. Kata dia,

“Pisang Kepok kuning tinggal 2 sisir, pisang ambon 1 sisir. Itu juga karena pisang Ambonnya masih mentah Penjualan Langsung : Keliling dan Mangkal

“Pisang Tanduk terjual 12 buah,” katanya melanjutkan laporan.

Kesimpulan awal : peluang berjualan keliling dan mangkal masih ada. Asal mau berusaha, tetap ada peluang.

Laporan dari sepupu saya lebih keren lagi.

“Om Vavai, pisang yang saya bawa sudah habis. Besok kirim lagi ya…”.

Secara bercanda saya bilang, “Itu pisang habis dibagi-bagi atau dimakan atau dijual”

“Tentu saja dijual om, nih uangnya ada di saya…” katanya sambil tertawa.

Jadi posisi sekarang saya berusaha merapikan dan menjaga kestabilannya. Secara peluang ada. Ibarat survival di hutan dan berusaha menghidupkan api, apinya sudah ada. Saya perlu menjaganya agar tidak mati dan bisa terus membesar.

Comments are Disabled