Pengalaman Saat Sakit : Keluarga, Sahabat dan Bagaimana Jika…

Saat saya sakit menjelang akhir Desember 2020, saya memberikan briefing pada team Excellent di hari Sabtu, 26 Desember 2020. Briefing dilakukan secara online dan semua team bisa mengikutinya.

Briefing itu untuk mengabarkan mengenai soal sakitnya saya dan mamanya Vavai Vivian, delegasi pekerjaan di Excellent dan juga mengenai tindakan yang harus dilakukan di internal Excellent.

Hari Sabtu biasanya libur dan saya jarang sekali meminta seluruh team berkumpul di hari libur, jadi jika sampai itu dilakukan, berarti memang kriterianya sangat penting.

Disitu saya sempat menyampaikan pesan, “Mumpung saya masih bisa bicara dan memberikan pesan…”, karena memang saya sendiri tidak tahu apakah bisa melewati kondisi sakit tersebut atau tidak. Kondisi yang saya rasakan berat sekali jadi saya harus siap kemungkinan terburuk dan sedapat mungkin memberikan pesan yang jelas selagi saya harus fokus pada upaya pemulihan kesehatan.

Banyak orang yang mungkin denial (menyangkal) atau malah menganggap sepele situasi saat ini, namun jika mengalami sakit dimasa pandemi seperti ini, sakit apapun itu, sebaiknya menyikapinya dengan serius dan jangan mengabaikan sinyal pesan dari tubuh.

Kita bisa menyangkal dan menganggap semuanya baik-baik saja, padahal bisa jadi hal itu kita lakukan karena kita takut jika yang kita khawatirkan malah terbukti. Contoh sikap seperti itu saya tuliskan disini : https://www.vavai.com/takut-swab-pcr-rapidtest-antigen/

Setelah masuk rumah sakit dan menjalani perawatan, banyak pikiran berkecamuk dibenak saya. Karena saya dan Dear Rey dirawat, kemudian disusul oleh mbah kakungnya Vavai Vivian, saya risau memikirkan bagaimana kondisi Vavai Vivian dan bagaimana kondisi psikologis mereka.

Awalnya saya menyampaikan kondisi yang membesarkan hati pada mereka. Namun setelah berjalan beberapa waktu saya menyadari, meski Zeze Vavai baru kelas 3 SMP dan Vivian kelas 5 SD, mereka cukup memahami situasi. Jadi berikut-berikutnya saya menyampaikan kondisi riil pada mereka, sambil tetap menyampaikannya dalam kata-kata semangat dan mengambil sisi baik dari apa yang dialami.

Misalnya saat video call, saya minta Dear Rey jangan sambil tiduran. Usahakan sambil duduk dan tampilkan wajah cerah. Karena saat yang sakit berjuang untuk pemulihan, anak-anak di rumah juga mengkhawatirkan kondisi orang tua/keluarganya.

Alih-alih bilang, “Ibu/Papap makannya sedikit…”, lebih baik menggunakan bahasa diplomatis, “Hari ini ibu/papap makan lebih banyak dari kemarin”.

Kalau makannya lebih sedikit dari kemarin, bisa bilang : “Ibu/Papap hari ini bisa makan biskuit dan buah selain makan nasi…”.

Jadi selalu gunakan kalimat-kalimat penyemangat. Ini bukan dengan maksud berbohong melainkan menyampaikan fakta yang sama namun dengan sudut pandang berbeda.

Meski masih perusahaan kecil, saya juga punya tanggung jawab di Excellent. Ada sekitar 20 orang staff di Excellent. Mereka juga tentu punya keluarga, bahkan sebagian besar menjadi tulang punggung pendapatan keluarga. Jadi sakitnya saya tidak boleh mengganggu operasional Excellent.

Karena saya fokus pada upaya pemulihan kesehatan, saya mendelegasikan sebagian besar fungsi dan wewenang saya pada team. Meski proses ini sudah dilakukan sejak beberapa waktu yang lalu, delegasi wewenang saat sakit kemarin mungkin mencapai 90-95%, sehingga praktis sebenarnya Excellent bisa berjalan meski saya tidak hadir/in charge disana.

Saya terharu tiap hari selalu ada staff Excellent yang japri pada saya, bertanya mengenai kondisi dan menyemangati saya. Saya bilang apa adanya pada mereka meski juga dengan tetap semangat. Saya bilang pada mereka, “Kondisi hari ini lebih jelek daripada kemarin, mungkin karena efek obat. Mudah-mudahan bisa segera recover”.

Saat masuk rumah sakit, hari pertama saya tidak bisa tidur karena AC tidak bisa dimatikan (ruangan kedap). Selimut yang diberikan tipis sekali dan saat ke rumah sakit hanya dibekali pakaian ganti tanpa selimut. Saya tertolong karena saya bawa sarung, kebiasaan saat hiking bahwa sarung adalah perlengkapan multi fungsi.

Masalah kedua adalah minum. Tidak ada dispenser di kamar dan juga tidak ada air minum kemasan di kamar. Entah karena status steril entah karena perawatan kami ditanggung oleh pemerintah jadi fasilitasnya terbatas. Akhirnya kami mendapat air minum saat makan dan juga dibantu oleh perawat.

Sayangnya air minum kondisinya netral (tidak dingin tidak panas, malah cenderung dingin kena AC) sehingga saat makan maupun minum obat rasanya tidak keruan.

Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya pilihan saya adalah keluarga dan rekan-rekan. Saya dikirimi menu tambahan oleh keluarga, dikirimi termos air panas berikut air minum dalam kemasan, buah dan lain-lain. Kebetulan di RS ini saya boleh menerima kiriman sehingga proses recovery terbantu.

Saya sampai membeli pemanas air Xiaomi dan berbagai macam perlengkapan termasuk alat pijat listrik agar bisa membantu proses recovery.

Sekitar 10 hari saya di rumah sakit, saya hanya bisa berjalan mondar mandiri dari tempat tidur, ke meja depan dan ke kamar mandi. Favorit saya adalah saat hari cerah dan matahari bersinar, saya mepet ke jendela agar bisa mendapatkan sinar matahari. Cuaca cerah, udara segar dan sinar matahari pagi menjadi hal berharga yang saya nanti-nantikan. Hanya beberapa hari cerah yang bisa saya dapatkan karena di akhir Desember cuaca lebih banyak mendung dan hujan lebat.

Selama saya sakit hampir 2 minggu di RS, keluarga dan sebagian team Excellent bergiliran mengantarkan berbagai keperluan. Team saya di kios Aneka Pisang Zeze Zahra juga mengirimkan pisang Barangan yang bagus sekali, yang membantu saya recovery karena bisa saya jadikan menu sarapan dan tambahan kalori saat nasi belum terlalu bisa masuk. Eh ini bukan iklan ya, tapi memang pisang itu bisa jadi pilihan konsumsi saat sakit, dikala mulut agak susah makan nasi atau sayur.

Sebagian team Excellent berkunjung ke rumah, ngobrol dengan Vavai dan Vivian agar menjadi selingan dan tidak suntuk. Keluarga yang lain mengirimkan madu, obat tambahan dan lain-lain termasuk makanan apapun yang sekiranya bisa lebih cocok di lidah saya.

Kesemuanya menyadarkan pada saya bahwa punya keluarga dan sahabat itu merupakan salah satu harta terbaik. Kebaikan hati itu harus diingat agar satu waktu saya bisa membalas semua kebaikan itu.

Jalannya berkelok dan mendaki,
Siapa menanti tak pernah kutahu,
Sunyikupun kekal : menjajah diri,
Dan anginpun gelisah menderu…

Comments are Disabled