Menyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Saat awal menanam pisang, saya tahu lokasinya rentan banjir, karena sebelumnya lahan tersebut merupakan sawah. Posisinya juga tidak jauh dari kali Citarum. Karena hal itu, saat menanam pisang, lubang tanam tidak terlalu dalam. Saya dan Qchen adik saya memilih untuk meninggikan pokok/pangkal tanaman agar tidak terendam.

Selain itu, dibuat juga beberapa parit kecil dan kolam penampungan air.

Setelah menanam bibit, pentingnya saluran air tidak terlalu terlihat, karena saya justru harus menghadapi musim kemarau. Alih-alih menghadapi banjir, saya justru menghadapi kekeringan yang memaksa saya mengebor air dan menerapkan sistem irigasi tetes. Bisa dilihat pada beberapa foto yang saya tambahkan.

Saat musim hujan kembali datang, barulah pentingnya parit kembali muncul. Hujan beberapa hari berturut-turut menyebabkan genangan yang jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan tanaman pisang layu dan kemudian mati.

Harusnya hal ini disiapkan dan diprediksi sejak awal, ya namanya juga petani pemula, susah tahu penting tapi tidak langsung action karena tidak terlihat nilai pentingnya, ditambah lagi budgetnya diarahkan untuk keperluan yang lebih urgent.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Saat itu musim kering. Tanaman merana kekurangan air. Jika budget yang ada saya gunakan untuk menggali saluran air menghadapi musim hujan, bibit yang ada keburu mati. Ibarat orang sudah setengah mati kehausan, bukannya dikasih air malah uangnya digunakan untuk memperbaiki saluran.

Ehm, kayaknya nyari pembenaran, Iya, anggaplah begitu, hehehe…

Nah sekarang setelah tanaman terendam, apa yang harus dilakukan. Setelah berkunjung ke kebun dan melihat langsung, saya memutuskan untuk segera membuat saluran air berupa parit di masing-masing jalur. Paritnya agak lebar karena tanahnya digunakan untuk meninggikan pangkal/bonggol tanaman pisang.

Nantinya parit akan dibuat lebih dalam. Diatasnya bisa saja nanti dipasangi rel untuk mengambil hasil panen, tapi itu urusan berikutnya.

Di beberapa sudut kebun dibuatkan kolam penampungan agar jika ada air berlebih bisa ditampung, sekaligus sebagai cadangan air saat musim kemarau.

Untuk lahan kebun Zeze Zahra, saya mengerahkan 5 orang yang berbarengan membuat parit. Yang mengerjakan adalah petani sekitar yang biasa membuat parit untuk tanaman timun dan biasa bekerja di sawah. Masing-masing jadi dapat benefit. Petani dapat penghasilan tambahan, keperluan Zeze Zahra juga dapat segera dituntaskan. Diperkirakan akan memakan waktu 10 hari sampai tuntas semua.

Saat ini sebagian besar parit sudah selesai dan air sudah tidak menggenangi tanaman. Apakah sudah menyelesaikan masalah? Belum tentu, karena masih harus dilihat perkembangannya. Yang jelas, tiap proses akan selalu memberikan kesempatan kita untuk belajar.

Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita. Tsah… Menyiasati Tantangan Berkebun PisangMenyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Tantangan Berjualan : Cuaca dan Isu

Beberapa rekan di Komunitas Pisang Indonesia bertanya pada saya, “Kok nggak ada update kios Aneka Pisang Zeze Zahra lagi?”

Sebagian mungkin menyangka tokonya sudah bubar, kehabisan modal atau nggak laku jadi malu buat update, hehehe…

Sebenarnya sejak Desember saya sudah menyiapkan catatan perkembangan penghasilan kios. Sejak dibuka awal November 2020, saya sempat menulis summary penghasilan kios di awal Desember dan rencananya akan update lagi diawal Januari 2021 terkait summary penghasilan bulan Desember 2020.

Qodarullah, menjelang akhir Desember 2020 saya terpapar covid-19. Gejalanya menurut dokter masih kategori sedang tapi buat saya sendiri rasanya berat. Apalagi saya terpapar beserta isteri dan bapak mertua, sehingga pikiran saya terpecah antara fokus pada kesehatan diri sendiri, keluarga dan perhatian pada anak-anak.

Saat mengetahui hasil swab PCR positif, saya langsung mendelegasikan sebagian besar pekerjaan saya di Excellent (usaha konsultan IT) ke team saya. Untuk kios pisang dijalankan oleh “karyawan” yang sudah mulai menangani kios pisang sejak pertengahan November 2020.

Saya termasuk beruntung karena sejak awal memahami bahwa bisnis tidak akan berjalan jika semuanya harus ditangani sendiri, sehingga baik di Excellent maupun Zeze Zahra, saya bertahap melatih orang yang nantinya akan menangani usaha tersebut. Di kios pisang Zeze Zahra, awalnya saya menangani hampir 100% pekerjaan. Setelah ada team yang membantu, perlahan saya mulai mengurangi porsi wewenang saya. Mulai dari 90%, 80% sampai akhirnya saya mulai melepas karyawan untuk menangani sepenuhnya.

Awalnya saya tiap hari datang ke kios, menjaga kios dibantu karyawan. Saya mengajari karyawan mengenali pisang bagus, menhadapi pembeli yang menawar, menentukan harga jual dan lain-lain termasuk membuat catatan penjualan. Setelah sekitar 2 minggu, saya masih datang ke kios tapi lebih banyak di lantai 2. Saya biarkan karyawan menjaga kios dan hanya sesekali mengecek kebawah. Diatas saya bekerja remote untuk pekerjaan di Excellent.

Setelah direview dan hasilnya cukup baik, saya memberikan delegasi wewenang lebih besar. Saya memberikan modal kerja di awal Desember untuk masa 1 bulan. Jadi jika ada kiriman pisang dari kebun Zeze Zahra sendiri, hitungannya akan dibeli (karena akan jadi penghasilan kebun, terpisah pembukuan dari kios, meski sesama Zeze Zahra). Jika ada kiriman pisang untuk jenis pisang yang belum ada, dia juga bisa langsung membayarnya.

Jadi di kios, semua penghasilan akan masuk ke dalam catatan pendapatan, tidak dikurangi pengeluaran maupun pembelian. Untuk biaya pembelian, makan, transport dan lain-lain akan diambil dari modal yang saya berikan diawal bulan. Cara ini memudahkan pencatatan, karena untuk mengetahui profit atau tidak, bisa langsung mengurangi pendapatan dengan pengeluaran dari modal.

Bulan Desember 2020 penjualan secara umum berlangsung baik. Kadang menurun saat cuaca tidak baik, misalnya hujan terus-terusan. Meski demikian, pola pikir pembeli juga bisa berubah. Beberapa kali penjualan meningkat saat cuaca dingin, mendung dan libur akhir pekan, karena cuaca dingin membuat orang malas keluar dan pingin makan cemilan yang ringan namun hangat. Pisang rebus cocok untuk itu sehingga trend penjualan pisang Tanduk, Kepok dan Uli meningkat.

Saya dirawat di RS mulai tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 kemudian dilanjutkan dengan isolasi hingga 2 minggu kemudian. Sejak sebelum sakit saya memang hanya beberapa kali singgah di kios Zeze Zahra karena lebih banyak aktif di Excellent mengingat pekerjaan proyek IT di akhir tahun biasanya lebih padat daripada bulan-bulan lain. Setelah sakit, praktis saya hampir tidak pernah datang ke kios, hanya menerima laporan dari karyawan yang menjaga.

Apakah karyawannya bisa dipercaya? Insya Allah bisa, karena bukan sekedar karyawan biasa. Masih termasuk saudara, besar bersama, kerja sama bukan kali ini saja, jadi sudah ada proses kualifikasi sebelumnya.

Awal tahun 2021 penjualan pisang di kios Zeze Zahra trendnya menurun. Selain karena daya beli masyarakat di masa pandemi memang berkurang, kondisi cuaca dan suasana tahun baru juga berkontribusi pada penurunan ini. Meski demikian saya bilang pada Adul-karyawan yang menjaga kios Zeze Zahra-untuk tidak patah semangat. Kalaupun ada pisang yang tidak terjual, kami sudah ada saluran untuk mendistribusikannya.

Minggu kedua sampai dengan menjelang akhir bulan Januari 2021 trend penjualan semakin menurun. Adul beberapa kali bilang pada saya bahwa penjualan lebih sepi daripada hari-hari sebelumnya.

Apa sebabnya? Kios aneka pisang Zeze Zahra ada di wilayah perumahan. Ada isu beredar bahwa pemilik kios aneka pisang Zeze Zahra sakit covid, jadi pembeli takut beli pisang di kios. Bahwa saya sakit memang benar, apalagi saya juga sengaja lapor ke RT dan puskesmas semenjak saya sakit hingga sembuh. Jadi isunya sendiri tidak salah.

Bahwa pembeli jadi takut masuk akal juga, karena kecenderungan orang biasanya menghindari hal-hal yang mengkhawatirkan, tanpa peduli bahwa saya terpapar covid dari kantor isteri, tanpa peduli bahwa saya sudah lama tidak ke kios, bahkan sebelum saya sakit.

Ini sebenarnya perkembangan dan tantangan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, tapi saya bisa memaklumi dan secara umum, nothing can I do terkait hal ini, karena lebih terkait mindset dan persepsi calon pembeli.

Setelah selesai isolasi dan dinyatakan sembuh oleh dokter, saya mencoba mampir ke kios aneka pisang Zeze Zahra. Saya melihat sebagian besar rak kosong dan stock yang ada tidak terlalu bagus. Akhirnya saya briefing pada Adul bahwa meski pembeli menurun, stock harus dijaga kuantitas dan kualitasnya. Kalaupun saya harus mengeluarkan biaya untuk stock dan ada kemungkinan lebih besar pengeluaran daripada pendapatan, buat saya tidak masalah.

Sejak awal membuka kios, saya memperkirakan 3 bulan pertama adalah masa “bakar uang” dalam arti bahwa saya tidak terlalu berharap dapat profit karena tahu masa awal usaha adalah masa ketidakpastian. Masih pengenalan. Jadi sudah ada cadangan untuk itu.

Kalau cuaca buruk mengurangi penjualan, isu soal pemilik yang sakit menambah pengurangan penjualan, stock yang tidak ada dan tidak bagus justru akan memperparah keadaan.

Sejak beberapa waktu yang lalu stock dirapikan kembali. Pisang yang sudah tidak terlalu bagus tampilannya disingkirkan. Tiap hari selalu ada stock fresh. Apalagi kebun pisang Zeze Zahra sudah mulai produksi jadi penambahan stock bisa dilakukan lebih mudah.

Sekitar seminggu terakhir, nilai penjualan mulai menunjukkan trend meningkat. Masih fluktuatif tapi trendnya sudah mulai meningkat. Kenyataan bahwa saya sudah sembuh dan mulai aktivitas, warga yang tahu dari pak RT bahwa saya sudah sembuh dan stock yang terjaga ditambah dengan lini penjualan langsung keliling (dan mangkal menggunakan sepeda motor, ada di cerita saya sebelumnya) berkontribusi pada peningkatan ini.

Bagi yang pernah membaca tulisan saya sebelumya pasti paham bahwa saya selalu berusaha belajar dari apa yang dihadapi. Jadi hal inipun menjadi media pembelajaran bagi saya. Saya tuliskan disini agar bisa menjadi pembelajaran juga bagi yang lain, bahwa tantangan bisa muncul dari arah mana saja, dari hal-hal yang mungkin tidak terduga.

Agar bisa refreshing sejenak dari usaha jualan, hari Minggu pekan lalu saya mengajak team Zeze Zahra untuk berkunjung ke kebun pisang, untuk melihat potensi panen pisang yang sudah mulai produktif di awal 2021, melihat perkembangan kebun dan relasinya dengan perkembangan kios pisang Zeze Zahra, sekaligus makan siang bersama sambil mengobrol mengenai semangat saya mengembangkan Zeze Zahra dan Excellent Farm.

No retreat no surrender Tantangan Berjualan : Cuaca dan Isu

Belajar Mengurus Kebun

Saat musim panas kekeringan, saat musim hujan kebanjiran. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kebun pisang Zeze Zahra.

Zeze Zahra baru mulai menanam pisang awal tahun lalu, tepat setahun jika diukur saat mulai membeli lahan. Saat itu kondisi kebun juga terendam luapan kali Citarum. Namun saat mulai menanam, hujan sudah mulai jarang dan periode April-Juli kondisi kebun kering sekali sehingga saya harus mengebor air untuk menjaga bibit agar tidak sampai shutdown.

Ini salah satu video di akhir Juni 2020 : https://www.youtube.com/watch?v=QGG99Jo9enY

Menjelang akhir tahun, hujan yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Bibit yang ditanam dan bisa bertahan hidup akhirnya mulai berbuah. Awal tahun hujan semakin sering dan kondisi kebun mulai tergenang. Saluran yang dibuat untuk pengairan tidak memadai sehingga perlu dirapikan dan dibuat lebih dalam.

Hal ini yang menarik dan membuat hidup jadi lebih bernuansa, karena kita bisa selalu belajar dari kondisi yang ada. Namanya usaha, mungkin saja bisa berhasil dan mungkin juga gagal, tapi kalau sudah dicoba tentu tidak lagi ada penyesalan “kenapa nggak dicoba ya…””

Banjir, terutama luapan dari sungai/kali memang kadang membuat kita bingung cara mengatasinya, namun setelah surut, lumpur dari sungai menjadi pupuk yang menyuburkan kebun.

Jadi kalau ada yang tanya, itu pakai pupuk apa kok bisa subur kebunnya. Selain dibantu pupuk kandang, kebun pisang Zeze Zahra juga dibantu pupuk lumpur dari kali Citarum Belajar Mengurus Kebun

Keluar Rumah Setelah Isolasi

Setelah perawatan di rumah sakit sejak tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 dilanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah hingga menjelang pekan keempat Januari 2021, akhirnya hari ini saya melakukan test keluar rumah, yaitu main ke kebun pisang di Karawang.

Meski hasil swab PCR sudah negatif dan gejala sakit sudah tidak dirasakan, saya memang tetap berhati-hati karena khawatir badan belum terlalu fit untuk kembali aktivitas sebagaimana biasa.

Saya memilih main ke kebun pisang dengan beberapa pertimbangan, antara lain :

  1. Di kebun pisang relatif jarang bertemu dengan orang lain dan bisa tetap menjaga jarak. Meski sudah dinyatakan sembuh, saya pikir tetap lebih baik berjaga-jaga
  2. Saya bisa melepas masker saat jauh dari orang lain dan bisa menghirup udara segar di kebun
  3. Saya bisa langsung mandi sinar matahari. Jadi bisa berolahraga (karena berjalan di kebun), mendapat sinar matahari pagi sekaligus mendapat udara segar

Selain alasan diatas, saya juga memang sudah lama tidak ke kebun pisang, jadi sekalian mengecek suasana dan perkembangan kebun.

Agar tidak mampir, dari rumah saya menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari alat makan, minum, air mineral, buah, sarung, pakaian ganti, makanan ringan dan lain-lain. Saya seperti orang hendak kemping dan itu memang sengaja saya lakukan agar tidak perlu berhenti di jalan untuk membeli makanan atau minuman.

Alhamdulillah, meski hari Senin kemarin sempat hujan dan beberapa area kebun terendam banjir, perjalanan saya ke kebun lancar dan cuaca cerah. Saat sampai di kebun pisang, matahari bersinar tanpa halangan dan saya bisa mendapatkan tujuan yang yang saya inginkan.

Suasana di kebun becek karena sisa hujan sebelumnya. Jadi saya harus memakai sepatu bot tinggi. Tidak lupa memakai lotion anti nyamuk karena selepas hujan dan suasana lembab dibawah naungan daun pisang banyak nyamuk nakal berkeliaran.

Saat ini sebagian besar pohon pisang sudah berbuah. Ada yang sudah mendekati tua dan ada juga yang belum lama berbuah. Malah ada beberapa yang baru keluar tandan buah.

Secara umum kebun cukup baik, hanya saja drainase-nya kurang bagus karena hujan cukup lebat menimbulkan genangan air cukup tinggi. Jika terus terendam selama beberapa hari, pohon pisang bisa layu dan membusuk.

Ada juga pohon pisang yang sudah berbuah tumbang karena hempasan angin. Ini agak sulit dihindari, meski saya sudah berupaya menanam pohon pisang tegar seperti pisang kepok di pinggir kebun sebagai pelindung terpaan angin.

Area yang saya tanami bibit pisang Cavendish Fhia-17 juga tumbuh subur, meski sebagian area bekas kebun jagung terendam air cukup tinggi. Saya berdiskusi dengan yang merawat kebun agar membuat sodetan atau saluran air sehingga air tergenang bisa dibuang melalui saluran di pinggir kebun.

Saya membatasi diri di kebun hanya sampai menjelang Dzuhur agar tidak terlalu lelah. Setelah menebang beberapa tandan pisang yang sudah tua, kami kemudian beranjak pulang sebelum sore dengan terlebih dahulu main ke rumah pak Amoy, si bapak yang merawat kebun, sawah, bebek dan kambing.

Saya khusus kesana untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Amoy selama saya sakit. Kami dijamu makan siang bersama sekaligus membawa pulang telur bebek dan kelapa muda.

Keluar Rumah Setelah Isolasi

Setelah perawatan di rumah sakit sejak tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 dilanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah hingga menjelang pekan keempat Januari 2021, akhirnya hari ini saya melakukan test keluar rumah, yaitu main ke kebun pisang di Karawang.

Meski hasil swab PCR sudah negatif dan gejala sakit sudah tidak dirasakan, saya memang tetap berhati-hati karena khawatir badan belum terlalu fit untuk kembali aktivitas sebagaimana biasa.

Saya memilih main ke kebun pisang dengan beberapa pertimbangan, antara lain :

  1. Di kebun pisang relatif jarang bertemu dengan orang lain dan bisa tetap menjaga jarak. Meski sudah dinyatakan sembuh, saya pikir tetap lebih baik berjaga-jaga
  2. Saya bisa melepas masker saat jauh dari orang lain dan bisa menghirup udara segar di kebun
  3. Saya bisa langsung mandi sinar matahari. Jadi bisa berolahraga (karena berjalan di kebun), mendapat sinar matahari pagi sekaligus mendapat udara segar

Selain alasan diatas, saya juga memang sudah lama tidak ke kebun pisang, jadi sekalian mengecek suasana dan perkembangan kebun.

Agar tidak mampir, dari rumah saya menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari alat makan, minum, air mineral, buah, sarung, pakaian ganti, makanan ringan dan lain-lain. Saya seperti orang hendak kemping dan itu memang sengaja saya lakukan agar tidak perlu berhenti di jalan untuk membeli makanan atau minuman.

Alhamdulillah, meski hari Senin kemarin sempat hujan dan beberapa area kebun terendam banjir, perjalanan saya ke kebun lancar dan cuaca cerah. Saat sampai di kebun pisang, matahari bersinar tanpa halangan dan saya bisa mendapatkan tujuan yang yang saya inginkan.

Suasana di kebun becek karena sisa hujan sebelumnya. Jadi saya harus memakai sepatu bot tinggi. Tidak lupa memakai lotion anti nyamuk karena selepas hujan dan suasana lembab dibawah naungan daun pisang banyak nyamuk nakal berkeliaran.

Saat ini sebagian besar pohon pisang sudah berbuah. Ada yang sudah mendekati tua dan ada juga yang belum lama berbuah. Malah ada beberapa yang baru keluar tandan buah.

Secara umum kebun cukup baik, hanya saja drainase-nya kurang bagus karena hujan cukup lebat menimbulkan genangan air cukup tinggi. Jika terus terendam selama beberapa hari, pohon pisang bisa layu dan membusuk.

Ada juga pohon pisang yang sudah berbuah tumbang karena hempasan angin. Ini agak sulit dihindari, meski saya sudah berupaya menanam pohon pisang tegar seperti pisang kepok di pinggir kebun sebagai pelindung terpaan angin.

Area yang saya tanami bibit pisang Cavendish Fhia-17 juga tumbuh subur, meski sebagian area bekas kebun jagung terendam air cukup tinggi. Saya berdiskusi dengan yang merawat kebun agar membuat sodetan atau saluran air sehingga air tergenang bisa dibuang melalui saluran di pinggir kebun.

Saya membatasi diri di kebun hanya sampai menjelang Dzuhur agar tidak terlalu lelah. Setelah menebang beberapa tandan pisang yang sudah tua, kami kemudian beranjak pulang sebelum sore dengan terlebih dahulu main ke rumah pak Amoy, si bapak yang merawat kebun, sawah, bebek dan kambing.

Saya khusus kesana untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Amoy selama saya sakit. Kami dijamu makan siang bersama sekaligus membawa pulang telur bebek dan kelapa muda.

Saling Menghargai

Bulan November lalu saat baru awal membuka kios pisang, saya mendapat kiriman pisang Tanduk dari kawan. Dia mengambil pisang dari Sukabumi.

Khusus pisang Tanduk memang belum produktif di kebun sendiri, jadi saya mendatangkannya dari Sukabumi.

Saya kenal dia lewat group komunitas ini. Sebelum akhirnya mengirim pisang (ini pengiriman kedua, pengiriman pertama sekitar 2 minggu sebelumnya), kami deal dulu soal harga. Pertanyaannya juga njelimet, karena dia jual per kg sedangkan saya eceran per buah.

Saat saya minta foto pisang, dia kirimkan fotonya. Saat saya tanya berat rata-rata per tandan, dia info beratnya. Giliran saya tanya, “Jumlah buah per tandan rata-rata berapa?”, jawaban dia kayaknya setengah sebel,

“Wah gak pernah hitung kang. Coba akang hitung di foto itu”

Lah, gimana bisa saya hitung hehehe…

Saya maklum juga, namanya penjual dan pedagang, masing-masing belum kenal. Pernah juga dapat pengalaman pahit, jadi masing-masing berusaha melindungi diri sendiri, kalau kira-kira kurang cocok ya tidak lanjut.

Agar bisa tahu perkiraan, saya membeli pisang Tanduk 1 tandan di pasar baru Bekasi. Saya timbang kemudian saya hitung buahnya. Meski mungkin tidak tepat 100%, minimal saya punya perkiraan jumlah per tandan dan harga jual atau harga beli per buah atau per tandan.

Selanjutnya adalah kesepakatan soal jumlah pesanan. Dia tanya, saya mau ambil berapa ton.

Zeze Zahra ini masih kios kecil, jadi kalau ambil hitungan ton, bisa-bisa saya yang harus menghabiskan pisangnya. Makan pisang tanduk segitu banyak, bisa-bisa nanti keluar buntut (ekor) hehehe…

Akhirnya deal lagi, mereka bawa beberapa kwintal sekalian kirim ke tempat lain. Nanti saya boleh pilih pisang yang mau saya ambil.

Saat mereka datang, saya konsisten dengan janji saya. Mereka kan datang dari jauh, jadi saya juga menghargai itu. Apalagi bicara bisnis bukan sekali dua kali, tapi harapannya panjang. Kalau mereka bisa supply barang bagus, saya bisa jual mudah, untungnya bisa di kedua belah pihak.

Saya juga sampaikan soal penanganan pasca panen. Sayang kalau pisang pada patah karena dilempar. Atau pisang muda sudah ditebang. Karena boleh pilih pisang yang saya ambil, saya memilih kriteria yang sesuai dengan yang saya inginkan. Cara ini paling tidak bisa menjadi masukan ke petani agar harga pisang tidak jatuh dan pembeli akhir juga tidak kecewa.

Saya pernah baca di salah satu komunitas petani pisang mengenai petani yang pisangnya ditawar pedagang, setelah deal pisang diangkut tapi belum dibayar. Saat ditagih, pedagang bilang pisangnya kecil atau kurang bagus dan lain-lain. Nyesek buat petani, karena kan deal awalnya bukan begitu.

Karena saya juga petani, saya nggak mau seperti itu. Kalau nggak deal, ya lebih baik dari awal, biar sama-sama oke.

Karena baru awal usaha, mungkin bagi veteran pedagang atau petani, hal ini dianggap idealisme pemula. Tapi saya pikir bicara usaha dan bisnis yang dilandasi niat baik pasti pinginnya panjang dan bagus bagi kedua belah pihak.

Berencana dan Berdoa

Beberapa tahun yang lalu saya mengajukan pinjaman untuk mengembangkan usaha kakak saya, pinjaman ini saya ajukan kepada Boss di perusahaan saya bekerja, pinjaman yang kami ajukan di setujui, pinjaman ini kami alokasikan yang utama untuk memperluas tempat usaha.

Usaha warung Bakso kami cukup banyak peminatnya, sebelum kami mengajukan pinjaman pelanggan kami cukup banyak, meja dan bangku yang kami sediakan bisa menampung kurang lebih 30 orang di waktu bersamaan, di waktu-waktu tertentu seperti hari Jum’at, Sabtu dan Minggu banyak yang tidak mendapat tempat dan di tambah ruang parkir yang tidak ada, dalam memperluas tempat akhirnya dapat menampung pelanggan tersebut dan bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Dalam usaha apapun tidak dapat di prediksi harus maju dan sukses terus, menjadi harapan dan cita-cita dalam doa itu suatu hal yang harus dilakukan, namun dalam kenyataanya kitapun harus menyadarinya kalau dalam perjalannya kurang suksespun selalu berjalan beriringan, jadi harus di persiapkan hal itupun.

Pada dasarnya kita hanya membuat rencana saja dan berusaha untuk menjalankan rencana itu, namun kitapun harus menyadari rencana itu tidak bisa semuanya berakhir sesuai dengan harapan kita, karena pemilik hasil rencana terbaik itu sudah menggariskan takdir kita, berdoa menjadi keharusan untuk berharap menjadi takdir yang baik.

Rencana kami pun tidak semuanya di dalam rencana, beberapa bulan setelah kami melakukan pinjaman, keadaan usaha kami mulai goyang dengan peminatnya yang berkurang, lalu beberapa bulan kemudian orang tua (Ibu) jatuh sakit seseorang yang selalu support dalam berjalannya usaha tersebut dan akhirnya Allah mengambil haknya kembali untuk kembali kepangkuannya.

Rencana awal dari pendapatan warung bakso akan di alokasikan untuk pembayaran cicilan, semua itu harus berubah karena beberapa bulan kedepan pendapatan mulai tidak sesuai harapan, ditambah Covid-19 belum kunjung pergi yang membuat usaha di semua sektor terganggu, yang seharusnya saya tidak melakukan angsuran tersebut saya harus ikut mengangsur namun itu bukan menjadi keterpaksaan

Sebelum wafatnya Ibu ada satu pesan yang di harapkan, Ibu saya berharap saya memiliki rumah, disamping itu menjadi harapan Ibu, alokasi dana untuk memperluas usaha tersebut memang harus meniadakan 1 kamar tidur dan 1 ruang tamu, kamar yang di gusur itu kamar saya, jadi dana itu di alokasikan juga untuk mengganti kamar tersebut dengan membangun rumah yang tidak jauh dari tempat usaha dan rumah tersebut untuk Saya dan keluarga bersama Orang Tua, jadi pun jika saya harus ikut mengangsur anggap saja sebagai angsuran rumah, itu rencana di luar rencana yang kami susun, namun itu rencana Allah yang menjadi jalan yang harus kami tempuh.

Memiliki rumah sendiri dengan sedikit ruang kosong didepan sebagai taman, menjadi cita-cita saya entah beberapa tahun yang lalu sempat saya tulis, tulisan itu hilang dimakan waktu namun masih terbungkus rapih dalam Doa yang telah di panjatkan, mungkin juga itu doa yang di kabul setelah sekian tahun.

Beberapa Team Excellent (Teman kerja) pernah singgah di rumah itu, saat menikmati makan Bakso karena warung Bakso sudah tidak menampung pengunjung, namun sayapun sepertinya masih enggan menyebutkan rumah itu milik saya :).

Rumah ini menjadi salah satu alokasi tabungan saya setiap bulannya, jika saya harus cek tabungan atau saham bisa jada tidak sebesar yang lain, namun harus tetap di syukuri karena jika saya menabung dalam bentuk uang untuk membeli rumah bisa jadi tidak akan terealisasikan karena nilai rumah akan bertambah terus menerus.

di pertengahan Januari 2021 kami pun harus memangkas kembali tabungan, karena harus ada penambahan pagar rumah dibagian depan, saat ini jika team Excellent main kembali akan ada penampakan lain.

Berencana dan Berdoa

Jika bagi wirausaha yang harus terpaksa meminjam uang, sebisa mungkin untuk cari yang tidak berbunga, karena tidak sedikit usaha harus gulung tikar karena bunga dan harus selalu diingat usaha kita kedepan hanya baru sebatas harapan saja, harapan untuk sukses.

Terima kasih pak Boss atas pinjaman tak berbunga karena meringankan kami.

Pisang Mulus Pisang Bintik-Bintik

Lain tempat bisa lain kebiasaan. Ada beberapa rekan yang bilang, “Mas, itu pisangnya kurang mulus. Bintik-bintik. Kurang dirawat ya?”

Kalau bilang kurang dirawat, nanti saya info ke supplier

Tapi jangan salah. Konsumen-terutama di seputaran Bekasi-memang suka pisang mulus, misalnya untuk pisang Cavendish atau Ambon. Tapi untuk pisang jenis tertentu seperti pisang Barangan malah lebih suka yang bintik-bintik.

Mbak-mbak supplier yang kirim pisang ke Zeze Zahra bilang, dia pernah membungkus pisangnya agar mulus dan nggak bintik-bintik, tapi hasilnya malah kurang laku. Mengapa konsumen lebih suka yang bintik-bintik, katanya secara rasa lebih enak. Apalagi untuk pisang yang bagian dalamnya kuning kemerahan atau merah muda atau pink.

Apakah bukan sekedar alasan? Nggak juga. Membungkus pisang itu malah tambah biaya kok. Jadi kalau tanpa dibungkus (tapi tetap dirawat) konsumen lebih suka, ya malah kebetulan.

Saya pribadi memang suka pisang seperti itu. Pengalaman menjual langsung ke klien, yang dikatakan oleh si supplier memang benar.

Tapi khusus pisang Ambon, Cavendish, Mas Kirana, Lampung dan beberapa pisang lain, konsumen lebih suka yang mulus.

Ada pengalaman sejenis di tempat lain?

Terpapar Covid

Alhamdulillah hasil swab PCR saya terakhir kemarin hari Selasa 19 Januari 2021, hasilnya sudah negatif. Kalau dihitung, tepat 1 bulan sejak saya merasakan indikasi gejala awal.

  • Gejala awal di tanggal 19 Desember 2020
  • Mulai merasakan gejala lebih berat di 23 Desember
  • Rapidtest antigen reaktif di 25 Desember
  • Swab PCR positif di 26 Desember 2020
  • Masuk RS di 27 Des 2020 sd 4 Januari 2020
  • Isolasi di rumah 4 Januari sd hari ini

Total swab PCR : 7x dan yang ke-7 baru negatif. Saya sakit bersama isteri dan bapak mertua. Awalnya isteri yang sakit, kemudian saya dan kemudian bapak mertua.

Pengalaman saya terhadap covid ini mengajarkan beberapa hal :

  1. Kalau kecapean, lupakan semua. Fokus ke kesehatan. Orang kecapean sangat mudah terpapar virus. Kadang suka berpikir, “Ini pekerjaan penting sekali. Jika saya tidak ada, tidak akan berjalan”. Saya jadi ingat tulisan di salah satu buku motivasi Dale Carnegie, “Kalaupun kamu meninggal, dunia akan tetap berjalan. Tetap ada yang menggantikan”. Jadi jangan seolah-olah kalau kita istirahat lantas semua hal jadi berhenti
  2. Virus ada proses inkubasi. Jadi bisa saja terpapar virus dari yang positif covid hari ini, baru minggu depan mulai ada gejala. Biasanya virus masuk kalau posisi badan kecapean, kondisi tidak fit dan dipaksakan aktivitas
  3. Kalau masih bisa diskip/tunda, hindari pertemuan seperti kondangan, makan di tempat makan dll karena rentan sekali
  4. Kalau salah satu anggota keluarga ada yg bergejala, harus segera memisahkan diri, jika perlu rawat inap. Yg lain harus pakai masker meski didalam rumah. Hindari dalam 1 ruangan berlama2. Meski suami isteri sebaiknya pisah ruangan dulu
    Kalau suami dan isteri sakit sekaligus seperti saya, sedih sekali rasanya karena anak-anak jadi nggak ada yg memperhatikan secara detail
  5. Jika ada gejala dan cukup berat sebaiknya segera cari RS utk rawat inap. Saat ini RS banyak yg penuh dan ini kenyataan. Saya sampai ke RS Mayapada Hospital di Lebak Bulus dan bahkan hanya sampai parkiran karena IGD penuh
  6. Jika bergejala tapi isolasi mandiri si rumah, berbahaya buat pasien maupun yg mengurus. Lebih baik relakan utk rawat inap agar bisa ditangani sebagaimana mestinya
  7. Di RS saya diberikan infusan, obat lewat infus maupun minum, obat avigan (antivirus), obat utk penyakit penyerta jika ada (misalnya obat darah tinggi) bahkan saya diberikan obat yg harus diminum jam 2 pagi
  8. Saya pernah sakit Typhus dan DBD namun gejala yg dirasakan saat covid ini menurut saya lebih dahsyat karena kita lemah secara fisik maupun mental
  9. Jangan lupa lapor pada RT dan Puskesmas (atau Satgas covid), agar ditracking dan dapat dikoordinasikan jika memerlukan bantuan, misalnya terkait rumah sakit rujukan. Biasanya puskesmas memiliki mekanisme swab PCR berkala terhadap pasien terkonfirmasi covid.

Beberapa hari kedepan saya akan menuliskan pengalaman detail dari hari-hari awal sampai dengan hari ini, agar pengalamannya bisa dijadikan pembelajaran bagi rekan yang lain sekaligus untuk menghindarkan diri dari penyakit pandemi ini.

Persuasif

Saat berjualan pisang, kita mungkin beberapa kali bertemu dengan respon pembeli atau pertanyaan pembeli yang tidak semuanya enak. Kalau kita jadi preman, kita mungkin bisa spanneng atau esmosi atau darting, tapi karena kita berjualan, ya harap maklum, namanya orang bisa beda-beda sifat dan perilakunya.

Misalnya ada yang tanya, “Kang, ini pisangnya nggak ada yang cakepan lagi?”

Tsahelah pak, itu pisang kurang cakep gimana, sudah dipilihkan yang tua, yang matangnya bagus.

Tapi kan orang punya penilaian sendiri. Bisa jadi dia berkata demikian sebagai psywar, perang urat syaraf, agar kita merasa down dan akhirnya mengurangi harga. Bisa juga memang benar, karena tampilannya kurang menarik meski tua dan matang sempurna.

Kalau seperti ini kadang saya berkelit, “Pisang yang bagus kadang malah kulitnya nggak halus seperti kulit artis pak. Yang bintik-bintik malah lebih manis biasanya”

Kalau masih ngotot minta yang lebih mulus atau bilang masih kurang cakep, ya mungkin saya akan bilang, “Ini pisang sudah cakep, hanya kurang dibedakin saja pak”, hehehe…

Ada lagi ibu-ibu, yang bilang : “Mas, ini pisangnya sudah mateng nih. Sudah empuk. Lebih murah ya”. Saat saya bilang harga, misalnya 12 ribu rupiah, si ibu berkata, “7 ribu ya. Kan pisangnya sudah mateng. Sudah empuk”

Saya sebenarnya oke harganya bergerak sedikit, tapi dari 12 ribu ke 7 ribu terlalu drastis dan belum masuk kalkulasi. Jadi sambil tersenyum saya bilang, “Yang matang dan tua seperti itu malah lebih enak bu. Nggak perlu dikunyah. Jadi nggak capek mulutnya. Bisa meleleh dimulut seperti makan es krim”, hehehe…

Si ibu-ibu bilang, “Bisa aza ngelesnya…”

Saya sebenarnya belajar dari tukang sayur. Saat dia ditanya, “Bang, melonnya manis nggak?”. Dia jawab, “Ya belum saya makan bu. Kata penjual dipasar sih manis, tapi saya nggak bisa buktikan sendiri secara langsung”.

Lain kali ditanya lagi, “Bang, ini kok manggisnya kecil-kecil”. Apa jawaban si abang sayur? Dia jawab, “Yah, itu kan Allah yang menciptakan bu. Dia diciptakan kecil, terus gimana saya bikin jadi besar dan gendut” Persuasif

Memang tidak menjawab pertanyaan langsung, karena tujuannya sekedar untuk mencairkan suasana. Karena kalau situasinya santai, biasanya nggak terlalu “eker-ekeran” (berkutat) soal harga.

Saat berjualan memang harus persuasif. Tidak mendesak, soft selling (tidak to the point mendorong-dorong agar membeli) tapi lebih mengedepankan aspek kepuasan pembeli. Kalau pembeli ada anak kecil kadang saya berikan bonus pisang lampung beberapa buah.

Saya juga tidak terlalu ketat soal harga kalau jumlah pembeliannya cukup banyak, nanti saling subsidi silang antar pisang. Yang penting hitungannya masih masuk dan ada margin.

Sudah seperti itu apakah ada pelanggan atau calon pembeli yang tidak puas? Mungkin saja. Bisa saja mereka membandingkan situasi dengan saat dia beli di pasar langsung. Atau membandingkannya dengan saat membeli di orang lain. Wajarlah, kan kita tidak bisa selalu menyenangkan semua orang.