Posts in Category: Pisang

Bekerja Keras dan Responsif

Hari Jumat beberapa waktu yang lalu, ada yang menghubungi saya melalui WA. Menawarkan apakah saya berminat mengambil pisang darinya.

Sama seperti tawaran rekan-rekan yang lain, secara prinsip saya terbuka terhadap peluang itu. Masalahnya hanya satu, yaitu bahwa kios saya masih kecil. Jadi kalau misalnya dikirim 1 truk, ya saya belum sanggup. Karena saya juga masih merintis usaha sekaligus membangun jaringan.

Anggaplah saya bisa menjual 5 sisir pisang per hari, berarti dalam seminggu kesanggupan saya rata-rata 30 sisir. Itu yang kadang jadi nggak klop, karena kalau pemasok kirim ke saya hanya 30 sisir, rugi bandar dan rugi di biaya transportasi.

Kadang ada juga yang berkomunikasi dengan saya, namun saat saya coba hubungi, responnya kurang optimal. Antara mau dengan tidak, bahkan saya sampai harus bertanya beberapa kali untuk memastikan hal tertentu.

Yang menghubungi saya kali ini berbeda. Saya tanyakan harga, dia terbuka pada pilihan harga. Misalnya ada 3 kategori pisang yang bisa mereka deliver. Anggaplah grade A, grade B dan grade C. Misalnya grade A adalah pisang 1 sisir dengan berat 3 kg, grade B pisang dengan berat 2 kg dan seterusnya.

Saya tanyakan foto, dia kirimkan foto. Bahkan dia tawarkan, jika perlu dia kirimkan sample. Saya tanyakan kapan bisa dikirimkan sample jika saya berminat, dia bilang hari itu juga bisa dikirimkan.

Keren. Jika awalnya minat saya hanya 40%-60% (saya hanya minat 40% karena saya punya kebun sendiri dan juga belum yakin apakah mau ambil stock dari yang lain atau tidak), perlahan tingkat peminatan saya naik.

Saat dia sampaikan pisang yang mau dikirimkan ada 3 tipe, yaitu Barangan, Mas Kirana dan Tanduk, saya semakin cocok. Karena ketiga pisang tersebut belum produtif dikebun saya.

Saya sampaikan pesan terakhir, jika mau datang diusahakan sebelum jam 4. Ini sebagai ujian juga sebenarnya, karena jam 5 saya tutup kios dan saya tidak leluasa jika saat hendak tutup kios harus ngobrol detail. Ujian terakhir ini juga lulus, karena dia bilang oke.

Sekitar pukul 14.00 WIB, ada mobil berhenti di depan kios Zeze Zahra. Saya ke depan dan ternyata benar yang datang adalah yang sebelumnya diskusi dengan saya di WA. Berdua dengan rekannya yang sama-sama wanita, dia mulai menurunkan box pisang dibantu pak driver.

Saya sampaikan padanya, wah keren ya, hebat sekali. Perempuan, panas-panas mau datang ke Bekasi. Menurunkan box pisang. Mau merintis jalur pemasaran dan mendatangi calon prospek satu per satu. Jika saya ingin merekrut team untuk perusahaan saya, saya butuh sosok seperti mereka, yang mau bekerja keras dan merintis jalur dari awal.

Saya check, kualitas pisangnya OK. Rapi dan bagus. Saya lihat tingkat tua-nya cukup merata. Buahnya halus menandakan penanganan pasca panennya rapi. Akhirnya saya memilih beberapa grade yang hendak saya ambil dan hendak saya coba display di tempat saya. Dari niatan awal mengambil beberapa sisir sebagai sample akhirnya saya mengambil lebih banyak daripada rencana semula.

Sabtu pagi saya display di toko offline Zeze Zahra. Paralel saya display juga di toko online. Kemudian update ke sosial media.

Beberapa pesanan langsung masuk secara online. Ada juga yang membeli secara offline dari display di toko offline Zeze Zahra. Jadi saya cukup percaya diri untuk mengeksekusi rencana lanjutan, yaitu mengembangkan jalur pemasaran. Misalnya membuka kios baru, membuat jalur pemasaran langsung menggunakan stand (gerobak jualan) dan juga jalur pemasaran keliling perumahan di tempat terpisah.

2 hari sebelumnya saya membaca status salah satu member di Komunitas Petani Pisang, mengenai “jalan sunyi” para petani atau penjual pisang, yang bagi orang lain kelihatannya berat menjalani pekerjaan. Pakaian bercak-bercak terkena getah. Kelihatan lelah dibandingkan mereka-mereka yang bisa tiduran atau ngerumpi ngalor-ngidul.

Tidak apa-apa, kan masing-masing punya jalan hidup berbeda. Sepanjang kita sendiri menikmati kegiatan positif yang kita lakukan, ya jalani saja. Terlalu ribet jika harus memikirkan komentar orang lain yang tidak memberikan value bagi kegiatan kita.

Itu sebabnya saya kagum pada para petani pisang yang selalu berkomitmen mengatasi kendala yang dialami. Yang tidak pernah menyerah. Yang berusaha belajar meningkatkan kualitas tanaman mereka. Kagum pada para penjual pisang, laki-laki maupun perempuan, yang tetap enjoy mengangkat box atau tandan pisang, meski berat dan butuh kerja keras, karena pada akhirnya kerja keras itu akan berbuah manis juga kedepannya.

Saling Menghargai

Bulan November lalu saat baru awal membuka kios pisang, saya mendapat kiriman pisang Tanduk dari kawan. Dia mengambil pisang dari Sukabumi.

Khusus pisang Tanduk memang belum produktif di kebun sendiri, jadi saya mendatangkannya dari Sukabumi.

Saya kenal dia lewat group komunitas ini. Sebelum akhirnya mengirim pisang (ini pengiriman kedua, pengiriman pertama sekitar 2 minggu sebelumnya), kami deal dulu soal harga. Pertanyaannya juga njelimet, karena dia jual per kg sedangkan saya eceran per buah.

Saat saya minta foto pisang, dia kirimkan fotonya. Saat saya tanya berat rata-rata per tandan, dia info beratnya. Giliran saya tanya, “Jumlah buah per tandan rata-rata berapa?”, jawaban dia kayaknya setengah sebel,

“Wah gak pernah hitung kang. Coba akang hitung di foto itu”

Lah, gimana bisa saya hitung hehehe…

Saya maklum juga, namanya penjual dan pedagang, masing-masing belum kenal. Pernah juga dapat pengalaman pahit, jadi masing-masing berusaha melindungi diri sendiri, kalau kira-kira kurang cocok ya tidak lanjut.

Agar bisa tahu perkiraan, saya membeli pisang Tanduk 1 tandan di pasar baru Bekasi. Saya timbang kemudian saya hitung buahnya. Meski mungkin tidak tepat 100%, minimal saya punya perkiraan jumlah per tandan dan harga jual atau harga beli per buah atau per tandan.

Selanjutnya adalah kesepakatan soal jumlah pesanan. Dia tanya, saya mau ambil berapa ton.

Zeze Zahra ini masih kios kecil, jadi kalau ambil hitungan ton, bisa-bisa saya yang harus menghabiskan pisangnya. Makan pisang tanduk segitu banyak, bisa-bisa nanti keluar buntut (ekor) hehehe…

Akhirnya deal lagi, mereka bawa beberapa kwintal sekalian kirim ke tempat lain. Nanti saya boleh pilih pisang yang mau saya ambil.

Saat mereka datang, saya konsisten dengan janji saya. Mereka kan datang dari jauh, jadi saya juga menghargai itu. Apalagi bicara bisnis bukan sekali dua kali, tapi harapannya panjang. Kalau mereka bisa supply barang bagus, saya bisa jual mudah, untungnya bisa di kedua belah pihak.

Saya juga sampaikan soal penanganan pasca panen. Sayang kalau pisang pada patah karena dilempar. Atau pisang muda sudah ditebang. Karena boleh pilih pisang yang saya ambil, saya memilih kriteria yang sesuai dengan yang saya inginkan. Cara ini paling tidak bisa menjadi masukan ke petani agar harga pisang tidak jatuh dan pembeli akhir juga tidak kecewa.

Saya pernah baca di salah satu komunitas petani pisang mengenai petani yang pisangnya ditawar pedagang, setelah deal pisang diangkut tapi belum dibayar. Saat ditagih, pedagang bilang pisangnya kecil atau kurang bagus dan lain-lain. Nyesek buat petani, karena kan deal awalnya bukan begitu.

Karena saya juga petani, saya nggak mau seperti itu. Kalau nggak deal, ya lebih baik dari awal, biar sama-sama oke.

Karena baru awal usaha, mungkin bagi veteran pedagang atau petani, hal ini dianggap idealisme pemula. Tapi saya pikir bicara usaha dan bisnis yang dilandasi niat baik pasti pinginnya panjang dan bagus bagi kedua belah pihak.

Perkembangan Kios Pisang “Zeze Zahra”

Setelah dibuka di hari Minggu 01 November 2020, bagaimana perkembangan penjualan pisang di kios aneka pisang “Zeze Zahra”?

Di screenshot summary yang saya buat bisa terlihat frekuensi penjualan. Hari pertama ada 29 sisir. Hari kedua 12 sisir pisang plus 7 buah pisang tanduk. Hari ketiga (hari ini) sampai dengan siang ini ada penjualan 16 sisir pisang dan 4 buah pisang tanduk.

Apakah sudah sesuai dengan harapan? Relatif. Mengapa? Karena saya bilang pada keluarga agar tidak shock jika berjualan tanpa ada satupun yang terjual. Kalau bicara perasaan, nanti jadi baper dan sedih, hehehe…

Saya bilang pada keluarga, terjual 1 sisir saja di hari pertama buat saya sudah senang. Artinya pecah telur. Artinya goal. Berhasil menjual.

Kalau bisa menjual 29 sisir pisang, oh tentu senang sekali. Melebihi ekspektasi. Melebihi harapan. 1 sisir terjual saja sudah senang, apalagi sampai 29 sisir.

Tapi hati-hati. Hari pertama sih bisa saja penjualan ramai. Karena baru buka. Ada tetangga yang mungkin tidak enak hati saat lewat akhirnya jadi beli. Ada teman yang mendengar saya buka kios pisang mungkin membeli sebagai dukungan moral. Ada juga pembeli yang mungkin exciting atau kaget dan akhirnya beli.

Jadi kalau hari pertama terjual melebihi harapan, harus tetap waspada. Bisa saja hari kedua berkurang. Hari pertama itu hari libur. Pantas agak ramai karena lokasi didepan lapangan olah raga. Hari Senin, Selasa dan selanjutnya bisa berbeda, karena sudah masuk hari kerja.

Ternyata hari kedua tetap ada penjualan. Memang menurun dibawah 50% dibandingkan hari pertama, tapi berarti tetap ada demand. Hari ketiga juga tetap ada penjualan, malah lebih banyak dibandingkan hari kedua. Berarti tinggal menjaga kualitas dan ketersediaan stock.

Saya membuat tabel sederhana di spreadsheet. Ada jumlah penjualan harian (tidak saya tampilkan) dan ada jumlah frekuensi penjualan per hari per pisang. Kalau di IT ini istilahnya big data. Kecil-kecilan. Riset mengenai permintaan per jenis dan klasifikasi tertentu.

Misalnya menurut saya pisang yang enak itu pisang Ambon dan Raja Bulu. Ternyata penjualan terbesar nomor satu adalah pisang kepok, terutama jenis Kepok Kuning. Nomor 2 malah Raja Sereh. Itu kan pisang sepet kalau masih mentah. Ya iyalah, tapi kan orang seneng pisang itu karena rasanya kres-kres dan bentuknya montok.

Saya boleh tidak suka pada jenis pisang tertentu, tapi kalau orang suka pisang itu, ya saya akan ikuti permintaannya. Saya kurang suka pisang Kepok dan Raja Sereh tapi karena itu permintaan nyata di pelanggan, saya akan ikuti hal tersebut. Saya akan “follow the money”

Hari pertama ada yang bertanya pisang Tanduk dan kebetulan saya belum punya stock. Hari Selasa pagi saya sudah mendapatkan stock pisang Tanduk. Hari pertama stock pisang kepok kuning menurun drastis, saya langsung hubungi adik saya untuk kirim tambahan.

Kata orang Kepok putih tidak laku, karena itu buat makanan burung. Tapi ada juga yang mencari jenis kepok itu, tapi yang masih mentah karena hendak dijadikan keripik.

Saat ini datanya baru sampai hari ketiga, jadi memang masih mungkin berubah, tapi paling tidak itu bisa menjadi gambaran awal untuk pengambilan keputusan.

Menunggu kios juga harus luwes. Ada ibu-ibu yang datang dan bingung hendak membeli pisang apa. Saya tanyakan, dia ingin membeli pisang buah atau pisang untuk diolah? Kalau pisang buah, saya tawarkan pisang Ambon (Kuning dan Hijau), pisang Raja Bulu, Pisang Raja Sereh dan Pisang Lampung. Kalau untuk olahan, saya tawarkan pisang Kepok, Pisang Uli, Pisang Nangka dan Pisang Tanduk.

Jadi kita harus luwes memberikan solusi. Bukan sekedar menjual terus terserah mereka. Bisa saja seperti itu, tapi jadi nggak repeat order. Saya saya kalau beli sesuatu merasa dibantu, saya akan repeat order pada yang bersangkutan.

Menunggu kios pisang juga bisa garing kalau tidak ada kegiatan lain. Termangu-mangu menanti pembeli. Kebetulan hobi dan pekerjaan saya di IT, jadi saya bisa sambil bekerja secara remote. Saya juga bisa membuat toko online di Tokopedia atau Shopee atau Bukalapak atau ditempat lain sebagai alternatif penjualan.

Penampilan juga harus rapi dan wangi. Jangan mentang-mentang jualan pisang kita jadi bau pisang semua-muanya. Hehehe… Kalau tampilan kita bersih dan rapi, paling tidak akan selaras dengan kebersihan dari produk yang kita jual.

Saya mau bicara soal penentuan harga pisang, tapi ini saja sepertinya sudah cukup panjang. Jadi nanti dilanjutkan lagi tulisannya di sesi berikutnya.

Pengalaman Memulai Jualan Pisang

Ini adalah cerita, share pengalaman. Bukan tips bukan saran, karena bisa saja beda situasi jika diterapkan ditempat lain.


Saat masih kecil, saya pernah berjualan es mambo, kue-kue buatan enyak (ibu) saya dan juga pernah berjualan petasan . Jadi meski pekerjaan saya belakangan lebih banyak terkait IT, saya tetap ada latar belakang pengalaman berjualan. Tapi isteri saya tidak memiliki latar belakang berjualan. Jadi saat saya sampaikan rencana berjualan pisang dengan membuka kios pisang, isteri saya heboh karena timbul banyak pertanyaan. Apa laku? Gimana kalau nggak laku? Gimana kalau pisangnya nggak laku dan jadi ada yang busuk? Gimana kalau ada yang komplain? Gimana menentukan harga jual? Gimana kalau rugi?

Pengalaman 1 : Exit Strategy
Oke, satu per satu ya. Pertanyaan pertama, “Apa laku?”
Ya harus dicoba lha ya. Kalau nggak dicoba, bagaimana bisa tahu akan laku atau tidak? Bagaimana memastikan agar bisa laku? Pilih pisang yang bagus, yang cakep dan yang menarik minat.

Gimana kalau nggak laku? Itu sebabnya kalau berencana jualan harus berpikir komprehensif. Kan berpikir saja mah nggak perlu bayar. Kita cuma memikirkan gimana kalau ada yang nggak laku, rugi dong? Iyalah. Terus bagaimana kalau terus rugi, bisa bangkrut dong? Iyalah. Terus kalau iyalah, gimana bisa usaha lagi.

Harus dipikirkan exit strategi-nya. Jalan keluarnya. Kalau pisang tampilannya kurang menarik, dia harus dipindah dari display utama. Harus ditentukan mau diapakan. Kalau pisang olahan seperti pisang nangka, itu bisa dijadikan kue pisang. Pisang uli atau kepok, dijadikan pisang goreng. Pisang ambon atau tanduk bisa dijadikan sebagai sale pisang.

Kalau pisangnya masih bagus hanya lepas dari sisir (patah), saya kirimkan ke team saya yang bekerja di lokasi lain. Pilihan lain adalah dikirimkan ke yayasan yang dikelola. Untuk cemilan anak-anak. Karena masalahnya hanya di tampilan saja.

Kalau sudah tidak bisa diselamatkan sama sekali atau sudah terlambat untuk diselamatkan, ya berarti dikirim jadi makanan ternak.

Hal-hal diatas akan mendidik kita mengenai manajemen ketersediaan stock. Berdasarkan data frekuensi penjualan setiap hari yang pada interval waktu tertentu dibuatkan ringkasannya (kesimpulan), akan terlihat pisang mana yang sebaiknya diperbanyak stocknya dan pisang mana yang cukup beberapa sisir saja ketersediaannya. Data tersebut juga akan membantu kita dalam mengatur perkiraan jumlah pisang matang dan pisang mentah.

Saat awal berencana berjualan pisang, saya tahu salah satu kendala utama adalah mengatasi masalah stock. Jika stock terlalu banyak sedangkan hasil penjualan sedikit, akan banyak pisang yang tidak menghasilkan pendapatan yang memadai. Benar bisa diolah kembali, namun nilai ekonominya jauh lebih rendah. Kalau stock dibuat sedikit saja, pembeli bisa jadi ragu untuk datang, karena hanya sedikit. Kita sebagai pembeli kelapa muda misalnya, tentu memilih penjual kelapa muda yang punya stock banyak dibandingkan yang sedikit, karena di penjual kelapa muda dengan stock banyak, kita bisa memilih mana yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Masalahnya, kita tidak akan pernah tahu kisaran stock yang paling tepat jika tidak pernah mencobanya.

Saya memprediksi, 2 minggu hingga 1 bulan pertama adalah tahap pengenalan. Jadi by design harus ada persiapan budget untuk berdarah-darah di periode tersebut. Istilah di startup IT semacam bakar uang. Seperti Gojek dan Grab yang awal-awal banyak memberikan promo. Fokusnya adalah mengenalkan layanan dan membesarkan pangsa pasar. Bedanya, investor mereka punya power budget yang besar, berbeda dengan kita-kita yang punya power terbatas. Jadi budget yang disiapkan juga harus diperkirakan dan dikelola sebaik-baiknya.

Maksud sebaik-baiknya, budget diutamakan untuk hal-hal yang sifatnya mandatory atau wajib. Contohnya, untuk membeli pisang dengan kualitas yang bagus. Harganya bisa lebih mahal daripada pisang yang diserok seadanya. Pisang dengan harga 10 ribu per kg misalnya, sebenarnya oke saja kalau kita bisa jual diatas itu. Tapi pisang dengan harga seribu rupiah per kg tetap terasa mahal jika tidak bisa terjual dan menjadi sampah. Jadi harus dibedakan mana yang sifatnya pemborosan dan mana yang memang harus dilakukan.

Saya memang mengeluarkan budget untuk kebersihan tempat dan display, karena target pasar yang dikejar membutuhkan hal tersebut. Bisa saja saya menyewa tempat dengan budget lebih rendah dengan tampilan sederhana jika memang lingkungan target pembelinya membutuhkan hal tersebut.

Contoh pengelolaan budget misalnya, saya memakai meja bekas yang saya pakai di Excellent (kantor tempat saya bekerja sebagai team IT). Pisau untuk memotong saya ambil dari stock pisau di rumah. Untuk memotong tandan buah, saya gunakan gergaji kecil yang cukup bagus dan ergonomis dengan harga tidak sampai 50 ribu rupiah. Saat waktunya makan siang, saya pulang ke rumah untuk makan siang di rumah, jadi bisa berhemat.
Saat awal merintis usaha ya harus mau berkorban. Sacrifice. Kalau awal usaha pendapatan baru 50 ribu rupiah tapi makan habis 70 ribu rupiah berarti nombok. Meskipun punya budget, lama-lama akan habis juga. Jadi harus realistis dan mau menekan ego.

Pengalaman 2 : Menentukan Harga Jual
Bagaimana caranya menentukan harga jual? Karena baru pertama kali jualan pisang, ya tentu saya bingung. Keluarga juga bingung.

Kekhawatirannya pasti sama di semua orang yang baru mau usaha. Diberikan harga A, khawatir kemahalan, tidak ada yang beli. Diberikan harga B, khawatir terlalu murah dan tidak menutup biaya. Berarti harus dicari tahu harga yang tepat.

Ya itu masalahnya. Harga tepatnya berapa? Jangan ngomong tinggi padahal kosong. Contohnya ngomong, “Key of Success adalah Kunci Kesuksesan”. Kelihatannya elite ngomong pakai bahasa Linggis padahal nggak ada maknanya.

Percaya ya, nggak ada harga yang tepat. Nggak ada yang tahu. Kalau tidak pernah coba dilakukan.

Berarti kita harus cari tahu. Berarti mesti survei. Ini yang biasa dilakukan perusahaan, tapi kita lakukan dengan cara sederhana namun tetap kita bungkus dengan bahasa keren : riset pasar, hehehe…

Saya sering membeli pisang, karena saya memang penggemar pisang. Tapi yang saya beli hanya pisang yang saya sukai. Pisang Ambon pernah. Pisang Tanduk pernah. Pisang Raja Bulu pernah. Pisang Barangan, Lampung dan pisang Ampyang juga pernah. Tapi ada lebih banyak jenis pisang yang tidak pernah saya beli atau saya lupa harga. Jadi tetap harus ada riset. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk, membeli pisang dari pedagang eceran. Dari tukang sayur atau dari penjual lain dipinggir jalan.

Saya berikan uang 100 ribu rupiah pada salah satu rekan yang biasa membantu saya. Pesannya : “Beli pisang masing-masing 1 sisir, jenisnya boleh pisang apa saja tapi yang umum dijual atau dibeli”. Dari situ akan ketahuan harga pasaran pisang. Tidak tepat sama karena tergantung besar kecilnya pisang dan juga tergantung penjualnya. Kalau penjualnya pingin cepat kaya kan bisa saja jual dengan harga mahal dan bertemu dengan kita yang lugu ya klop, pisang terjual dengan harga maksimum, hehehe..

Harga boleh berbeda tergantung penjual, tapi kalau kita membeli 2 atau 3x dengan ukuran yang umum, akan bisa didapatkan perkiraan harga pasaran. Kita bisa bandingkan lagi dengan bertanya pada teman yang biasa membeli pisang agar prediksi harga pasaran bisa lebih mendekati harga umumnya.

Mengapa tidak tanya ke penjual saja. Tanya ke penjual sayur, “Bang, pisang Ambon berapa?”. Kalau dijawab, nanti tanya lagi pisang yang lain dan seterusnya. Yang ada, bukannya dapat harga, kita malah kena damprat, “Kamu mau beli pisang apa tanya-tanya seperti mau sensus” Pengalaman Memulai Jualan Pisang

Ya nggak apa-apa keluar biaya untuk survei. Kan pisangnya juga bisa dimakan atau diolah. Jadi bukan biaya yang keluar percuma.

Setelah mendapatkan harga pasaran untuk penjualan, tugas selanjutnya adalah mencari pisang untuk dijual. Meski dari kebun sendiri, biaya HPP (Harga Pokok Penjualan) bukan nol ya. Jangan mentang-mentang hasil tanam sendiri di pekarangan, dianggap biayanya nol, jadi dijual 10 ribu 1 tandan juga masih untung. Iya masih untung tapi bisa merusak harga.

Saya survei ke pasar, ke pengepul pisang. Kali ini datang untuk membeli pisang per tandan atau per sisir untuk dijual kembali. Pisang yang dipilih adalah pisang yang belum diproduksi di kebun sendiri. Jadi pisang untuk melengkapi display dagangan berdasarkan frekuensi yang ditanyakan.

Jangan kaget ya, kadang penjual dengan level pengepul juga nggak kira-kira memberikan harga. 1 sisir pisang diminta 35 ribu sampai dengan 40 ribu per sisir. Saya beli pisang jenis tersebut di eceran saja harganya 15-30 ribu rupiah. Kalau dipengepul dijual dengan harga 35 ribu rupiah, lantas berapa harga penjualan di eceran?

Kita sama-sama tahu, semua juga ingin harga bagus. Petani ingin dapat harga bagus. Pengepul ingin dapat harga (dan margin bagus). Penjual eceran juga sama. Jadi memang harus keseimbangan.

Karena kita sudah tahu harga eceran, kita jadi punya dasar untuk menawar pada pengepul. Tidak dalam konteks menekan harga melainkan untuk memudahkan saat menjual eceran (karena saya juga petani dan tentu senang kalau harga jual di level petani bisa bagus). Kalau misalnya harga eceran 20 ribu rupiah, kita bisa ada kisaran margin jika mendapatkan pisang dengan harga dibawah itu, misalnya 15 ribu atau 17 ribu.

Bagaimana jika kita membeli pisang 1 tandan dan ukurannya beragam. Ada yang besar dan ada yang kecil. Bagaimana menentukan harga jual per sisir? Disini kita bisa dibantu timbangan. Saya membeli timbangan digital (sebenarnya untuk menimbang sale dan keripik pisang). Saya pilih salah satu pisang dengan perkiraan harga yang sudah diketahui. Misalnya 1 sisir pisang dengan ukuran yang sama yang pernah kita beli dihargai 15 ribu rupiah. Kita timbang beratnya. Nanti harga dibagi berat akan didapat harga per gram.

Contohnya, 1 pisang dengan perkiraan harga 15 ribu rupiah ternyata beratnya 1.5 kg. Berarti harga per gram 10 rupiah. Kalau ada pisang lain dengan berat 1 kg, perkiraan harganya 10 ribu rupiah. Pisang lain yang lebih kecil dengan berat 850 gram berarti harganya 8500 rupiah.

Bagaimana jika beratnya tidak bulat? Misalnya beratnya 935 gram. Apakah dijual dengan harga 9350 rupiah? Ya boleh saja. Tapi saya biasanya mengambil pembulatan kebawah. Misalnya jadi 9000 rupiah.

Setelah dapat harga dan dibandingkan dengan harga pokok sudah mendapat margin, saya membuat label harga. Saya membeli alat pembuat label harga merk Joyko. Mengapa diberi label? Karena repot jika harus mengingat harga masing-masing pisang, nanti kisaran harganya kacau.

Kalau sudah ada label harga, kita bisa dengan mudah mengecek harga. Kalaupun satu saat kita tidak ditempat dan kios ditunggui oleh orang lain atau oleh orang yang dipekerjakan, mereka bisa menjualnya dengan mudah karena harganya sudah ada.

Bagaimana kalau sudah ada label harga tapi tetap ditawar. Ya tidak apa-apa. Namanya konsumen kan boleh saja menawar. Kalau tawarannya nggak masuk ya disampaikan dengan sopan. Kalau bisa dipenuhi, kan bisa menyenangkan konsumen. Misalnya pisang dengan harga 15 ribu rupiah. Kondisinya sudah matang sempurna. Kalau lewat 1-2 hari kemungkinan tampilan tidak menarik. Daripada malah lepas hanya karena pembeli menawar lebih rendah seribu-dua ribu rupiah, bisa diiyakan meski marginnya jadi lebih kecil.

Kalau sudah beberapa kali, nanti keluwesan bisa didapat dengan sendirinya. Pernah salah tidak apa-apa kok, asal jangan keseringan. Kalau kita takut salah dan serba takut mengambil keputusan, sampai tahun dua juta juga kita nggak akan pernah mencoba sesuatu yang sebenarnya berpeluang dan menarik untuk dilakukan.

Panjang sekali cerpennya? Ini bukan cerpen, ini cerbung, cerita bersambung . Karena saya biasa menulis blog, jadi harap maklum kalau tulisannya panjang. Lagian salahnya sendiri kenapa dibaca, hehehe… Ini juga pengalaman pribadi, jadi dishare disini dengan harapan kalau ada kesalahan, rekan yang lain bisa menghindarinya. Jika ada yang bagus, bisa dicoba ditempat masing-masing.

Ikhtiar Berkebun Pisang

Pekerjaan saya sehari-hari berkaitan dengan IT. Hobby saya membaca buku, traveling dan bertani. Sebagai pengimbang pressure pekerjaan dibidang IT, saya memilih bertani dan beternak.

Diantara sekian banyak tanaman buah dan sayuran, tanaman pisang yang menjadi pilihan saya. Saya jadi ingat cerita orang yang percaya pada peramal, “Kamu cocok bisnis yang berkaitan dengan air”. Bisa jadi dia bisnis kolam renang atau air isi ulang atau jual air mineral atau malah bisnis dibidang perikanan atau akuarium.

Saya pernah merasa antara mimpi dan ngelindur (hehehe…) mendapat pesan bahwa pisang bisa cocok sebagai usaha saya.

Saya jadi ingat saat saya bertemu dengan salah seorang rekanan prinsipal di sebuah tempat makan di Pacific Place Jakarta. Sementara mereka memilih makanan ringan yang kebanyakan berasal dari kentang, saya dengan mantap bertanya pada pelayannya, “Kalau pisang goreng ada?”.

Baik rekanan prinsipal maupun pelayan agak tersenyum simpul. Mungkin mereka ngikik, “Ini orang kampung mana sih, kok pesan pisang goreng disini…”

Padahal, saya tidak peduli soal nama. Kamu sebut namanya pisang goreng ataupun banana fritters atau nama apapun, silakan saja. Kalau memang ada, kan saya bisa pesan itu.

Karena tidak ada pisang goreng, akhirnya saya pesan yang lain. Setelah pelayan pergi, rekanan prinsipal bertanya, “Pak Vavai suka pisang goreng ya?”

Mas Arif Rahman yang menemani saya saat itu menjawab, “Pak Vavai punya perkebunan pisang bu…”

Hahaha, jawabannya kayak jawaban crazy rich, padahal kebunnya cuma secuil.

Kalau dalam konteks fakta dan ilmiah, pisang menjadi pilihan karena hal-hal sebagai berikut :

  1. Karena saya suka pisang
    Saya suka berbagai olahan pisang. Pisang rebus, pisang goreng, pisang sale, pisang buah dimakan langsung, kue pisang, bolu pisang dan lain-lain.

    Jika saya suka pisang, logikanya ada orang lain di Indonesia atau di dunia ini yang juga suka pisang. Secara bisnis berarti ada peluang, hehehe.
  1. Karena tidak harus ditunggui setiap hari
    Perawatan pohon pisang bisa dilakukan seminggu atau 2 minggu sekali. Berbeda dengan sayuran yang mungkin perlu perawatan lebih rutin.
  1. Banyak yang berguna dari pohon pisang
    Saat menjadi Pramuka, saya selalu diajari bahwa tunas kelapa menjadi lambang Pramuka karena kelapa bermanfaat dari ujung sampai pangkalnya. Nah selain kelapa, pisang juga punya banyak manfaat, yaitu :
    – Buahnya, untuk dimakan langsung ataupun diolah
    – Daunnya untuk pembungkus makanan, pepes dan lain-lain
    – Jantung pisang (terutama jantung pisang batu dan pisang kepok) bisa dijadikan sayur
    – Kulitnya untuk pakan ternak
    – Gedebongnya bisa untuk campuran pakan ternak atau untuk pupuk atau campuran untuk habitat ternak belut. Saya pernah nonton series falvorful origin di Netflix, di Yunan China, bagian dalam gedebong pisang bisa dijadikan sayur
  2. Reproduksi mudah. Kalau sudah tanam dan indukannya bagus, anakannya bisa jadi calon indukan. Tidak perlu invest anakan lagi. Lahan milik sendiri bisa memproduksi anakan pisang untuk bibit.

    Adik saya Qchen sudah biasa membuat bibit pisang menggunakan tunas dari bonggol. Meski daur hidupnya jadi lebih lama tapi prosesnya bisa perbanyak dan mudah direproduksi.
  1. Padat karya. Melibatkan banyak pihak
    Sesuai prinsip di Excellent, kita hendaknya menjadi angin musim semi bagi orang lain dan bagi masyarakat. Usaha yang dilakukan sedapat mungkin memberikan nilai manfaat bagi orang lain atau lingkungan sekitar.

    Mulai dari persiapan bibit, membersihkan lahan, menggali lubang tanam, penanaman, pemupukan, perawatan, penyiraman hingga saat panen dan penjualan bisa melibatkan banyak orang. Tiap tahap itu bisa menjadi sumber penghasilan dan penghidupan semua yang terlibat

Berkebun pisang bukannya tanpa resiko. Sama seperti usaha lain, selalu ada resikonya, antara lain :

  1. Kena banjir berhari-hari
    Lokasi lahan di Karawang dekat kali Citarum, jadi kerapkali kebanjiran saat kali Citarum meluap. Awal tahun 2020 kali Citarum sempat meluap dan menggenangi kebun selama 2 hari. Semua tanaman sayur dan padi di sekitar kebun yang masih muda musnah diterjang banjir.

    Untuk pohon pisang yang sudah berdiri (sudah permanen) selamat karena banjirnya lekas surut. Malah jadi blessing in disguise, karena luapan lumpur sungai menjadi pupuk
  1. Kena penyakit/hama tanaman. Terutama penyakit layu pucuk/fusarium. Kalau kena penyakit ini, pohon pisang mati layu sebelum berbuah bahkan saat berbuah saja bisa mati daunnya kuning dan layu
  2. Harga jual jatuh
    Banyak yang membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) usaha kebun pisang dengan mendasarkan pada estimasi pendapatan mengacu pada harga pisang di mall atau toko buah. Padahal hingga pisang sampai ke toko buah tentu melewati beberapa proses.

    Jika harga 1 sisir pisang mas kirana di toko buah seharga 40 ribu rupiah, bisa jadi harga di kebun hanya setengahnya. Karena ada estimasi pembagian keuntungan di pedagang perantara maupun perhitungan biaya transportasi.

    Itu sebabnya saya niatan buat belajar membuat sale pisang, keripik pisang, mendatangkan mesin pemotong keripik+perajangan dan mesin penghancur gedebong dan tangkai buah pisang untuk pupuk sebagai antisipasi jika produksi panen berlimpah.

Kalkulasi saya dalam ikhtiar berkebun pisang sebenarnya sederhana. Misalnya pisang diatur dalam jarak tanam 2 X 2 meter (normalnya 3X3 meter, di saya menggunakan skema 2 X 3 meter), maka dalam 100 meter lahan logikanya bisa mendapatkan 25 batang pohon pisang (asumsi ditanam sampai pinggir lahan).

Berarti 1 rumpun pohon pisang bertanggung jawab untuk Break Even Point (BEP) untuk 4 meter persegi lahan. Jika harga lahan misalnya 250 ribu rupiah per meter (supaya lebih mudah kalkulasi), maka 1 rumpun pohon pisang harus menanggung biaya lahan sebesar 1 juta rupiah, belum termasuk biaya tanam dan perawatan.

Anggaplah 1 sisir pisang harganya 20 ribu rupiah dan 1 tandan buah pisang rata-rata sebanyak 5 sisir, maka dari 1 tandan buah pisang hasilnya adalah 100 ribu rupiah. Berarti untuk BEP lahan, perlu panen 10X baru bisa BEP lahan, diluar biaya tanam dan perawatan.

Saat pertama kali tanam, bibit pisang akan butuh waktu sekitar 8-12 bulan untuk berbuah dan panen. Waktunya bisa lebih lama jika bibitnya berasal dari bibit bonggol yang lebih kecil. Tapi untuk berikutnya, masa panen akan lebih singkat, karena dalam 1 rumpun ada banyak anakan pisang. Kita bisa atur agar ada pergiliran. Saat 1 pohon sedang berbuah, pohon lain sudah siap-siap menyusul dan ada juga pohon remaja/anakan

Dalam 1 rumpun disisakan 3-4 pohon saja. Misalnya diatur sebagai berikut :

  1. Pohon berbuah
  2. Pohon muda siap berbuah
  3. Pohon remaja
  4. Pohon anakan

Sambil menunggu berbuah dan sambil merawat kebun, kita bisa juga menjual bibit anakan pisang dan menjual daun pisang

Bisa juga membuat kolam ikan di tengah kebun, sebagai sumber air sekaligus memberantas nyamuk, menghindari air tergenang, menampung dan menyimpan air lebih sekaligus untuk untuk pelihara ikan.

Angka-angka diatas memang kalkulasi kasar dan disederhanakan, hanya sebagai gambaran biaya dan pemasukan jika memiliki niat berkebun pisang.

Bonus : Suasana kebun pisang Akhir Juni 2020 Ikhtiar Berkebun Pisang

Bibit Pisang

Catatan : Tulisan ini awalnya dishare di Facebook :

Bibit PisangHalo all, jika ada yang punya bibit pisang Ampyang/Kreak/Angleng, boleh info ya. Saya lagi butuh buat…

Posted by Masim Vavai Sugianto on Tuesday, March 17, 2020

Halo all, jika ada yang punya bibit pisang Ampyang/Kreak/Angleng, boleh info ya. Saya lagi butuh buat diperbanyak dan menambah bibit plasma nutfah di kebun.

Saya terakhir makan pisang ini di daerah Prembun, Kebumen. Sepertinya banyak ditanam di daerah Jawa Tengah, terutama daerah BarlingMascaKeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen).

Pisang ini mirip seperti pisang barangan tapi ukurannya lebih panjang. Kalau dimakan rasanya kres-kres (jadi nggak lembek/lunak). Kalau orang sariawan biasanya nyeri pas makan pisang, nah kalau makan pisang ini nggak akan terasa nyeri karena tidak bergetah, malah setelah makan bisa terasa kenyang apalagi kalau makannya 1 sisir atau 1 tandan

Kalau ada yang punya dan bisa deliver, boleh kontak japri ya.

Selain bibit pisang Ampyang/Kreak/Angleng, saya juga butuh bibit pisang emas kirana, pisang susu, pisang raja bulu, pisang lampung dan pisang ambon. Jika bibitnya berasal dari pohon (anakan pisang) akan lebih baik lagi, karena berarti nggak salah bibit :-D.

Bibit dengan daun bentuk pedang (anakan pisang masih kecil) juga tidak apa-apa, malah lebih baik karena mudah dikemas dan dipaketkan.

Catatan : Foto hasil search di Google Bibit Pisang