Posts in Category: Insight

Pengalaman Saat Sakit : Keluarga, Sahabat dan Bagaimana Jika…

Saat saya sakit menjelang akhir Desember 2020, saya memberikan briefing pada team Excellent di hari Sabtu, 26 Desember 2020. Briefing dilakukan secara online dan semua team bisa mengikutinya.

Briefing itu untuk mengabarkan mengenai soal sakitnya saya dan mamanya Vavai Vivian, delegasi pekerjaan di Excellent dan juga mengenai tindakan yang harus dilakukan di internal Excellent.

Hari Sabtu biasanya libur dan saya jarang sekali meminta seluruh team berkumpul di hari libur, jadi jika sampai itu dilakukan, berarti memang kriterianya sangat penting.

Disitu saya sempat menyampaikan pesan, “Mumpung saya masih bisa bicara dan memberikan pesan…”, karena memang saya sendiri tidak tahu apakah bisa melewati kondisi sakit tersebut atau tidak. Kondisi yang saya rasakan berat sekali jadi saya harus siap kemungkinan terburuk dan sedapat mungkin memberikan pesan yang jelas selagi saya harus fokus pada upaya pemulihan kesehatan.

Banyak orang yang mungkin denial (menyangkal) atau malah menganggap sepele situasi saat ini, namun jika mengalami sakit dimasa pandemi seperti ini, sakit apapun itu, sebaiknya menyikapinya dengan serius dan jangan mengabaikan sinyal pesan dari tubuh.

Kita bisa menyangkal dan menganggap semuanya baik-baik saja, padahal bisa jadi hal itu kita lakukan karena kita takut jika yang kita khawatirkan malah terbukti. Contoh sikap seperti itu saya tuliskan disini : https://www.vavai.com/takut-swab-pcr-rapidtest-antigen/

Setelah masuk rumah sakit dan menjalani perawatan, banyak pikiran berkecamuk dibenak saya. Karena saya dan Dear Rey dirawat, kemudian disusul oleh mbah kakungnya Vavai Vivian, saya risau memikirkan bagaimana kondisi Vavai Vivian dan bagaimana kondisi psikologis mereka.

Awalnya saya menyampaikan kondisi yang membesarkan hati pada mereka. Namun setelah berjalan beberapa waktu saya menyadari, meski Zeze Vavai baru kelas 3 SMP dan Vivian kelas 5 SD, mereka cukup memahami situasi. Jadi berikut-berikutnya saya menyampaikan kondisi riil pada mereka, sambil tetap menyampaikannya dalam kata-kata semangat dan mengambil sisi baik dari apa yang dialami.

Misalnya saat video call, saya minta Dear Rey jangan sambil tiduran. Usahakan sambil duduk dan tampilkan wajah cerah. Karena saat yang sakit berjuang untuk pemulihan, anak-anak di rumah juga mengkhawatirkan kondisi orang tua/keluarganya.

Alih-alih bilang, “Ibu/Papap makannya sedikit…”, lebih baik menggunakan bahasa diplomatis, “Hari ini ibu/papap makan lebih banyak dari kemarin”.

Kalau makannya lebih sedikit dari kemarin, bisa bilang : “Ibu/Papap hari ini bisa makan biskuit dan buah selain makan nasi…”.

Jadi selalu gunakan kalimat-kalimat penyemangat. Ini bukan dengan maksud berbohong melainkan menyampaikan fakta yang sama namun dengan sudut pandang berbeda.

Meski masih perusahaan kecil, saya juga punya tanggung jawab di Excellent. Ada sekitar 20 orang staff di Excellent. Mereka juga tentu punya keluarga, bahkan sebagian besar menjadi tulang punggung pendapatan keluarga. Jadi sakitnya saya tidak boleh mengganggu operasional Excellent.

Karena saya fokus pada upaya pemulihan kesehatan, saya mendelegasikan sebagian besar fungsi dan wewenang saya pada team. Meski proses ini sudah dilakukan sejak beberapa waktu yang lalu, delegasi wewenang saat sakit kemarin mungkin mencapai 90-95%, sehingga praktis sebenarnya Excellent bisa berjalan meski saya tidak hadir/in charge disana.

Saya terharu tiap hari selalu ada staff Excellent yang japri pada saya, bertanya mengenai kondisi dan menyemangati saya. Saya bilang apa adanya pada mereka meski juga dengan tetap semangat. Saya bilang pada mereka, “Kondisi hari ini lebih jelek daripada kemarin, mungkin karena efek obat. Mudah-mudahan bisa segera recover”.

Saat masuk rumah sakit, hari pertama saya tidak bisa tidur karena AC tidak bisa dimatikan (ruangan kedap). Selimut yang diberikan tipis sekali dan saat ke rumah sakit hanya dibekali pakaian ganti tanpa selimut. Saya tertolong karena saya bawa sarung, kebiasaan saat hiking bahwa sarung adalah perlengkapan multi fungsi.

Masalah kedua adalah minum. Tidak ada dispenser di kamar dan juga tidak ada air minum kemasan di kamar. Entah karena status steril entah karena perawatan kami ditanggung oleh pemerintah jadi fasilitasnya terbatas. Akhirnya kami mendapat air minum saat makan dan juga dibantu oleh perawat.

Sayangnya air minum kondisinya netral (tidak dingin tidak panas, malah cenderung dingin kena AC) sehingga saat makan maupun minum obat rasanya tidak keruan.

Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya pilihan saya adalah keluarga dan rekan-rekan. Saya dikirimi menu tambahan oleh keluarga, dikirimi termos air panas berikut air minum dalam kemasan, buah dan lain-lain. Kebetulan di RS ini saya boleh menerima kiriman sehingga proses recovery terbantu.

Saya sampai membeli pemanas air Xiaomi dan berbagai macam perlengkapan termasuk alat pijat listrik agar bisa membantu proses recovery.

Sekitar 10 hari saya di rumah sakit, saya hanya bisa berjalan mondar mandiri dari tempat tidur, ke meja depan dan ke kamar mandi. Favorit saya adalah saat hari cerah dan matahari bersinar, saya mepet ke jendela agar bisa mendapatkan sinar matahari. Cuaca cerah, udara segar dan sinar matahari pagi menjadi hal berharga yang saya nanti-nantikan. Hanya beberapa hari cerah yang bisa saya dapatkan karena di akhir Desember cuaca lebih banyak mendung dan hujan lebat.

Selama saya sakit hampir 2 minggu di RS, keluarga dan sebagian team Excellent bergiliran mengantarkan berbagai keperluan. Team saya di kios Aneka Pisang Zeze Zahra juga mengirimkan pisang Barangan yang bagus sekali, yang membantu saya recovery karena bisa saya jadikan menu sarapan dan tambahan kalori saat nasi belum terlalu bisa masuk. Eh ini bukan iklan ya, tapi memang pisang itu bisa jadi pilihan konsumsi saat sakit, dikala mulut agak susah makan nasi atau sayur.

Sebagian team Excellent berkunjung ke rumah, ngobrol dengan Vavai dan Vivian agar menjadi selingan dan tidak suntuk. Keluarga yang lain mengirimkan madu, obat tambahan dan lain-lain termasuk makanan apapun yang sekiranya bisa lebih cocok di lidah saya.

Kesemuanya menyadarkan pada saya bahwa punya keluarga dan sahabat itu merupakan salah satu harta terbaik. Kebaikan hati itu harus diingat agar satu waktu saya bisa membalas semua kebaikan itu.

Jalannya berkelok dan mendaki,
Siapa menanti tak pernah kutahu,
Sunyikupun kekal : menjajah diri,
Dan anginpun gelisah menderu…

Penjualan Langsung : Keliling dan Mangkal

Setelah membuka kios dan berjualan langsung, saya berusaha mengembangkan varian distribusi. Langkah pertama adalah menghubungi beberapa penjual sayur untuk mendistribusikan pisang.

Jika pisangnya dari kebun sendiri, hal ini bisa berjalan lancar, tapi kalau kita membeli di pasar untuk dijual kembali ke tukang sayur, kemungkinan tidak akan bisa. Marginnya terlalu tipis, kualitas barang juga sukar dipastikan.

Bahkan kiriman dari pengepul juga marginnya tidak besar jika dijualnya ke pihak yang akan menjual kembali, kecuali kita bisa mendapatkan harga yang bagus dengan pisang yang berkualitas.

Sambil tetap menjalankan 2 kegiatan (kios dan distribusi ke tukang sayur), saya mencoba alternatif penjualan keliling dan mangkal di pinggir jalan.

Saya mencoba survei dan keliling beberapa tempat yang kira-kira cocok. Kebetulan saya punya sepupu yang biasanya berjualan beras dan paman yang biasanya berjualan buah potong. Mereka setuju untuk berjualan pisang asal dibuatkan media untuk berjualan.

Jadi saya kontak paman yang lain, minta bantuannya untuk membuatkan bronjong (keranjang kiri kanan) sebagai tempat pisang sekalian bisa untuk mangkal berjualan. Bronjongnya diletakkan dibagian belakang, kiri dan kanan sepeda motor.

Bentuknya sederhana tapi fungsinya sesuai. Saya mengambil ide dari penjual nanas madu. Sebenarnya saya minta kayu vertikal dan horisontalnya lebih tinggi dan panjang agar lebih mudah membuat display pisang. Untuk awalan yang dibuat saat ini cukup, tapi saya minta desainnya lebih disempurnakan.

Setelah jadi, saya coba simulasikan penempatan pisangnya. Saat berangkat dari rumah atau saat sedang berjalan, sebagian besar pisang ada didalam bronjong. Jadi nggak ada kemungkinan pisang jatuh atau terlempar. Saat awal berjualan, displaynya memang belum rapi. Belum lengkap dan belum tertata, tapi tidak apa-apa buat awalan.

Di Excellent (usaha saya dibidang IT, https://www.excellent.co.id), ada satu prinsip yang diambil dari pola di Microsoft, yaitu release early release often. Apa sih arti dari prinsip itu?

Artinya adalah, rilis awal dan rilis lebih sering. Maksud dari prinsip itu adalah, jika kita menunggu sampai segala sesuatu berjalan sempurna, bisa jadi nggak akan pernah kita mulai. Jika sudah sampai titik cukup memadai (MVP, Minimum Viable Product), tidak apa-apa dirilis atau dijalankan. Nanti seiring waktu, kita dapat melengkapinya berdasarkan feedback atau masukan dari pengguna.

Jadi, meski media untuk berjualan belum terlalu bagus dan belum 100% sesuai harapan, saya tetap mulai menjalankannya.

Saya memberikan modal awal, media untuk berjualan, pisang untuk dijual dan pesan sponsor : “Bang, tantangan terberat berjualan adalah jika seharian berjualan tidak ada satupun yang terjual. Tapi nggak apa-apa, masya kita mau guling-gulingan karena nggak ada yang terjual. Nanti kita review apa kekurangannya…”

Sebenarnya saya berkata begitu untuk menguatkan diri saya sendiri, hehehe… Sepupu dan paman saya kan sudah pernah berjualan, jadi mereka harusnya sudah cukup paham.

Jumat kemarin mereka mulai berjualan. Jam 9 pagi saya dikabari oleh adik saya yang saya minta untuk mengecek. Kata dia,

“Pisang Kepok kuning tinggal 2 sisir, pisang ambon 1 sisir. Itu juga karena pisang Ambonnya masih mentah Penjualan Langsung : Keliling dan Mangkal

“Pisang Tanduk terjual 12 buah,” katanya melanjutkan laporan.

Kesimpulan awal : peluang berjualan keliling dan mangkal masih ada. Asal mau berusaha, tetap ada peluang.

Laporan dari sepupu saya lebih keren lagi.

“Om Vavai, pisang yang saya bawa sudah habis. Besok kirim lagi ya…”.

Secara bercanda saya bilang, “Itu pisang habis dibagi-bagi atau dimakan atau dijual”

“Tentu saja dijual om, nih uangnya ada di saya…” katanya sambil tertawa.

Jadi posisi sekarang saya berusaha merapikan dan menjaga kestabilannya. Secara peluang ada. Ibarat survival di hutan dan berusaha menghidupkan api, apinya sudah ada. Saya perlu menjaganya agar tidak mati dan bisa terus membesar.

Perkembangan Usaha Penjualan Pisang “Zeze Zahra” Setelah 1 Bulan

Catatan : Ini adalah catatan saya yang diposting tanggal 1 Desember 2020 di group Komunitas Petani Pisang.

Hari ini genap 1 bulan saya berjualan pisang melalui kios “Aneka Pisang Zeze Zahra”. Bagaimana perkembangannya? Apakah kolaps? Menyerah atau kapok berjualan pisang? Bahwa berjualan pisang itu tidak seindah ilusi awalnya?

Perkembangannya sejauh ini berjalan dengan baik. Apakah kolaps? Alhamdulillah tidak. Apakah menyerah? Juga tidak. Apakah kapok berjualan pisang? Juga tidak. Berjualan pisang memang bertemu banyak hal, baik kendala maupun hal yang menyenangkan, tapi justru hal itu yang membuat hidup jadi indah untuk dijalani, tsahelah…

Secara total, berjualan pisang selama 1 bulan penuh dari 1 November 2020 sampai dengan 30 November 2020 memiliki omset sekitar 14 juta rupiah. Ini omset ya, bukan profit. Kalau begitu, berapa profitnya? Profitnya rahasia, tapi nggak besar-besar amat juga.

Kadang ada yang pingin tahu sampai detail, harap dipahami juga bahwa ada beberapa hal yang sungkan saya ekspos karena terkait dengan negoisasi dengan pihak lain juga.

Sebagai contoh misalnya untuk keripik pisang. Keripiknya saya ambil dari adik saya dengan margin super tipis. Tidak apa-apa, karena sedikit banyak bisa membantu produksi adik saya. Saat menjual ke reseller, marginnya juga tipis, tidak apa-apa yang penting delivery barang bisa cepat dan stabil.

Saya juga menerima kiriman pisang tertentu dari rekan lain. Misalnya pisang Barangan, Raja Bulu dan pisang Tanduk. Marginnya juga tidak terlalu besar, tapi tidak masalah asal kualitas bagus, semua bisa senang. Petani senang dapat harga bagus. Supplier senang dapat margin lumayan. Saya senang karena bisa mudah jual pisang yang bagus dan pembeli juga senang karena pisangnya enak, bagus dan kualitas super. Masing-masing pihak bisa mendapat kebaikan dan hasil yang menyenangkan dari awalan yang bagus. Saling mendukung dan berusaha selalu meningkatkan kualitas.

Dari data selama 1 bulan, penjualan terlaris ada di kisaran 1 juta rupiah, penjualan paling sepi ada di kisaran 100 ribu rupiah. Fluktuasi tiap harinya, tergantung pada stock yang ada dan pada situasi di Zeze Zahra. Misalnya saat hujan lebat, mungkin penjualan sedikit karena orang jarang yang beredar. Saat akhir pekan, penjualan lumayan ramai karena ada banyak yang berolahraga di lapangan depan Zeze Zahra.

Apakah hasil penjualan tersebut bisa menutup biaya? Kalau yang dimaksud adalah biaya total, tentu saja belum. Sejak awal berjualan, saya menyiapkan waktu 3 bulan untuk pengenalan kios dan melihat kondisi pasaran (market overview). Jadi sampai 2 bulan kedepan saya masih menganggap tahapannya adalah tahapan “pengeluaran”. Bagi saya, di bulan pertama sudah ada pemasukan sudah melebihi ekspektasi saya.

Saat awal berjualan ada yang bertanya, “Itu stock display banyak yang matang, kalau nggak laku nanti gimana?”. Jawabannya mudah banget. Kalau nggak laku, nanti jadi busuk lha ya Perkembangan Usaha Penjualan Pisang “Zeze Zahra” Setelah 1 Bulan

Iya, beneran. Kalau stock banyak yng tidak laku, hasilnya jadi busuk. Dan itu benar terjadi di minggu pertama saya berjualan. Bagaimana cara mengatasinya? Sebelum sampai busuk, ada yang saya jadikan kue bolu, ada yang saya jadikan sale pisang. Yang terlewat busuk saya kirimkan ke ternak kambing untuk tambahan pakan.

Di Excellent (induk usaha Zeze Zahra), saya menyebutnya “Biaya pembelajaran”. Kita bisa menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum melakukan usaha, namun tetap ada kemungkinan hal-hal tertentu yang baru ditemukan atau dialami setelah menjalaninya.

Penanganan stock yang expired ini memerlukan usaha disisi pengaturan stock matang. Jadi saya mengatur mana pisang yang diperam dan mana yang dibiarkan terkena angin sepoi-sepoi. Jumlahnya tidak banyak-banyak, tapi dibuat urutan secara timeline/timelapse. Misalnya pisang Ambon yang diperam hari ini ada 5 sisir, besok diperam lagi 5 sisir dan seterusnya. Jadi stock tidak sampai kosong, tapi juga tidak berlebihan.

Jika di minggu pertama misalnya ada 20% stock yang expired, di minggu berikutnya jumlah tersebut bisa turun drastis. Selain pengaturan stock, saya juga kadang melepas pisang dengan harga lebih rendah dari label. Semacam “Tidak apa-apa untung tipis atau balik modal saja daripada tidak dapat sama sekali”.

Selain dari kios, sebenarnya hasil penjualan juga dibantu dari lini penjualan langsung. Zeze Zahra sebenarnya diposisikan sebagai pangkalan. Jadi beberapa reseller mengambil pisang dari Zeze Zahra dengan harga khusus, nanti mereka yang berjualan keliling atau mangkal ditempat lain. Saya pernah menuliskannya disini dengan judul “Penjualan Langsung”.

Menjual ke reseller mengurangi margin/keuntungan, tapi tidak masalah asal prosesnya stabil dan lancar. Untung tipis tapi mengalir lancar daripada untung besar tapi tersendat. Untuk lini penjualan langsung ini, saya bahkan memberikan modal awal agar mereka bisa berjualan dengan leluasa.

Saya siapkan keranjang/bronjong untuk berjualan, saya sediakan pisang untuk jualan awal, saya berikan modal awal untuk uang kembalian dan uang operasional bahkan saya sediakan kendaraan untuk berjualan. Besar sekali dong biayanya? Besar kecilnya relatif tapi tetap ada kalkulasi detail untuk setiap rupiah yang dikeluarkan.

Kelihatannya mudah ya, kalau ada uang untuk modal. Usaha apa saja lancar…

Nggak juga. Kalau kata alm Bob Sadino, “Usaha apa yang bagus?” jawabannya adalah “Usaha yang dijalankan”. Kalau nggak dijalankan hasilnya nggak akan ada. Mimpi saja jadinya. Masih lumayan kalau mimpi yang nantinya akan dijalani, tapi kalau hanya sampai ditahapan mimpi, hasilnya juga hanya angan-angan semu.

Ada juga kalimat “The devil is in the detail”, bahwa kalau nggak hati-hati, kalkulasinya tidak detail. Tidak memperhatikan rincian usaha. Bisa bermasalah nantinya. Modal besar, tidak perhitungkan detail yang ada malah bocor dimana-mana.

Sejak awal, Aneka Pisang Zeze Zahra dirilis dalam rangka menyiapkan lini penjualan untuk hasil dari kebun pisang yang diperkirakan mulai panen massal di kisaran Januari-Februari 2021. Dengan mengetahui hambatan-hambatan yang dialami sejak awal, saya punya waktu untuk menyiapkan eskalasi dan solusi untuk hambatan tersebut lebih dini.

Buat rekan-rekan yang menjadi petani atau pedagang, tetap semangat ya. Semoga lelahmu menjadi berkah bagi penghidupan yang dijalani.

Jalannya berkelok dan mendaki
Siapa menanti tak pernah kutahu
Sunyiku pun kekal: menjajah diri
Dan angin pun gelisah menderu

Ah, ingin aku istirahat dari mimpi
Namun selalu kudengar ia menyeru
Tentang jejak di tanah berdebu
Diam-diam aku pun berangkat pergi

Menyiasati Kekurangan Hidup : Kebun dan Kios Pisang Zeze Zahra

Beberapa rekan bertanya, dimana lokasi Zeze Zahra? Jawaban saya tergantung. Tergantung yang ditanya kios aneka pisang Zeze Zahra atau kebun pisang Zeze Zahra.

Kios aneka pisang Zeze Zahra ada di Bekasi Timur. Dekat rumah saya dikawasan perumahan pinggiran kota. Kebun pisang Zeze Zahra ada di wilayah Batujaya Karawang. Butuh waktu sekitar 1.5 sd 2 jam dari kios ke kebun.

Jauh amat? Iya lah. Mahal kalau bertani pisang di kota Bekasi. Tanahnya saja bisa 5-15 juta per meter persegi. Untuk lahan 100 meter bisa habis uang 500 juta rupiah. Nggak bisa tanam pohon pisang, harus tanam pohon duit baru bisa kembali modal, hehehe…

Di Karawang pelosok, harga tanah masih cukup terjangkau. Saat awal mula bertanam pisang, saya berencana membeli lahan 100 meter saja. Disesuaikan dengan kemampuan dan daya beli. Ternyata lahan yang dijual rata-rata diatas 1000 meter. Jadilah saya ambil tabungan, agar bisa mendapat lahan yang sesuai.

Karena lokasi cukup jauh, tidak mungkin saya tiap hari mondar mandir kesana. Selain karena saya masih aktif mengurus Excellent (PT Excellent Infotama Kreasindo, IT services provider, https://www.excellent.co.id), mondar-mandir kesana tentu menyita waktu dan melelahkan. Beruntung bagi saya karena saya mendapat orang kepercayaan, yaitu pak Amoy. Pak Amoy yang membantu mengurus sawah, ladang dan ternak disana.

Adik saya Qchen punya rumah di pinggiran kampung di kabupaten Bekasi. Harga tanah disana juga lebih rendah daripada di kota Bekasi. Qchen membeli tanah di pinggiran kampung. Tanah itu gersang sekali. Saya melihatnya saat musim kemarau dan tidak berminat sama sekali. Tapi Qchen membelinya karena dekat dengan rumahnya.

Ditangan Qchen, lahan gersang itu bisa disulap jadi hijau royo-royo. Dia menebarkan pesak (sekam padi) kemudian melapisinya dengan pupuk kandang. Lahannya jadi subur. Dia menanam kangkung, tanaman obat, palawija dan bibit pisang. Dia juga memelihara ayam dan kelinci. Bagi saya yang biasa menonton serial “Live Free or Die” di NatGeo, rumah dan kebun Qchen ini cocok bagi orang yang ingin mandiri pangan, bisa mencukupi sebagian besar kebutuhan hidup sehari-hari.

Kebun Qchen dijadikan sebagai plasma nutfah. Pusat bibit yang saya beli dari beberapa tempat. Bibit bonggol Fhia17, bibit pisang mas Kirana dari Lumajang, bibit pisang Barangan dari Medan, bibit pisang Raja Bulu+pisang Ampyang/Kreas dari Kebumen dan bibit pisang Tanduk Sukabumi mampir di kebun Qchen sebelum nantinya ditanam di kebun Zeze Zahra di Karawang.

Beberapa waktu yang lalu, Qchen menambah lahan disebelahnya. Setelah dibersihkan dari gulma dan semak, dia menjadikan lahan tersebut sebagai lahan ujicoba beberapa tanaman pisang pilihan.

Uangnya banyak amat bisa beli lahan beli bibit buka kios dan lain-lain. Uangnya tidak banyak, karena kami datang bukan dari keluarga yang berkecukupan. Tapi kami punya prinsip, jika ada hobi, keinginan dan tujuan yang ingin dicapai, kami akan berusaha mendapatkannya. Kami pernah berjualan pisang goreng, es mambo dan petasan Menyiasati Kekurangan Hidup : Kebun dan Kios Pisang Zeze Zahra saat kecil. Saya pernah mengajar les privat, membuka rental komputer, menjadi buruh pabrik hingga menjadi pemetik buah-buahan.

Uang serupiah dua rupiah yang didapatkan dikumpulkan. Butuh waktu cukup lama sampai bisa membeli perlengkapan. Perlengkapan itu (komputer, akses internet) itu yang digunakan untuk mencari uang yang lebih besar agar bisa membiayai tujuan lain seperti membeli lahan dan bertanam pisang.

Bagi rekan-rekan yang lahir dari keluarga petani, dari keluarga orang kebanyakan, jangan pernah malu dan menyerah. Bagi rekan-rekan yang berpeluh keringat, baju penuh getah pisang, kotor karena lumpur, jangan lupa mencucinya, hehehe… Maksudnya, jangan pernah menyesali dan merasa malu karenanya. Penghasilan yang didapatkan adalah penghasilan yang insya Allah berkah, diusahakan dengan niat baik, dijalani dengan cara yang baik dan akan menghasilkan hasil yang baik.

Jangan khawatir jika sekarang masih belum terlihat hasil luar biasa. Air mendidih di suhu 100 derajat. Bisa jadi usaha kita baru sampai 40, 50 atau 70 derajat. Terus konsisten memperbaiki kualitas diri, insya Allah hasilnya akan sepadan.

Jika sekarang belum punya lahan, kita bisa mulai dengan menjual buah. Jika saat ini belum punya modal besar, kita bisa mulai dengan menjual daun dan jantung pisang. Kita bisa mulai dari modal yang kecil dari usaha sendiri.

Saat harga pisang jatuh, kita bisa mencari akal dan alternatif lain. Bisa dalam bentuk pengolahan pisang bisa dalam bentuk pembuatan penganan. Kalau kita dalam posisi under pressure dibawah tekanan untuk bertahan hidup, kita pasti akan selalu menemukan jalan keluar. Jangan menyalahkan kondisi, situasi, menyesal lahir dari keluarga miskin, menyalahkan hal-hal diluar diri kita.

Berusaha merawat kebun, merawat tanaman, menghasilkan panen yang bagus, belajar dari berbagai hal agar kualitas hidup kita terus meningkat.

Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Menyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Saat awal menanam pisang, saya tahu lokasinya rentan banjir, karena sebelumnya lahan tersebut merupakan sawah. Posisinya juga tidak jauh dari kali Citarum. Karena hal itu, saat menanam pisang, lubang tanam tidak terlalu dalam. Saya dan Qchen adik saya memilih untuk meninggikan pokok/pangkal tanaman agar tidak terendam.

Selain itu, dibuat juga beberapa parit kecil dan kolam penampungan air.

Setelah menanam bibit, pentingnya saluran air tidak terlalu terlihat, karena saya justru harus menghadapi musim kemarau. Alih-alih menghadapi banjir, saya justru menghadapi kekeringan yang memaksa saya mengebor air dan menerapkan sistem irigasi tetes. Bisa dilihat pada beberapa foto yang saya tambahkan.

Saat musim hujan kembali datang, barulah pentingnya parit kembali muncul. Hujan beberapa hari berturut-turut menyebabkan genangan yang jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan tanaman pisang layu dan kemudian mati.

Harusnya hal ini disiapkan dan diprediksi sejak awal, ya namanya juga petani pemula, susah tahu penting tapi tidak langsung action karena tidak terlihat nilai pentingnya, ditambah lagi budgetnya diarahkan untuk keperluan yang lebih urgent.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Saat itu musim kering. Tanaman merana kekurangan air. Jika budget yang ada saya gunakan untuk menggali saluran air menghadapi musim hujan, bibit yang ada keburu mati. Ibarat orang sudah setengah mati kehausan, bukannya dikasih air malah uangnya digunakan untuk memperbaiki saluran.

Ehm, kayaknya nyari pembenaran, Iya, anggaplah begitu, hehehe…

Nah sekarang setelah tanaman terendam, apa yang harus dilakukan. Setelah berkunjung ke kebun dan melihat langsung, saya memutuskan untuk segera membuat saluran air berupa parit di masing-masing jalur. Paritnya agak lebar karena tanahnya digunakan untuk meninggikan pangkal/bonggol tanaman pisang.

Nantinya parit akan dibuat lebih dalam. Diatasnya bisa saja nanti dipasangi rel untuk mengambil hasil panen, tapi itu urusan berikutnya.

Di beberapa sudut kebun dibuatkan kolam penampungan agar jika ada air berlebih bisa ditampung, sekaligus sebagai cadangan air saat musim kemarau.

Untuk lahan kebun Zeze Zahra, saya mengerahkan 5 orang yang berbarengan membuat parit. Yang mengerjakan adalah petani sekitar yang biasa membuat parit untuk tanaman timun dan biasa bekerja di sawah. Masing-masing jadi dapat benefit. Petani dapat penghasilan tambahan, keperluan Zeze Zahra juga dapat segera dituntaskan. Diperkirakan akan memakan waktu 10 hari sampai tuntas semua.

Saat ini sebagian besar parit sudah selesai dan air sudah tidak menggenangi tanaman. Apakah sudah menyelesaikan masalah? Belum tentu, karena masih harus dilihat perkembangannya. Yang jelas, tiap proses akan selalu memberikan kesempatan kita untuk belajar.

Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita. Tsah… Menyiasati Tantangan Berkebun PisangMenyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Menyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Saat awal menanam pisang, saya tahu lokasinya rentan banjir, karena sebelumnya lahan tersebut merupakan sawah. Posisinya juga tidak jauh dari kali Citarum. Karena hal itu, saat menanam pisang, lubang tanam tidak terlalu dalam. Saya dan Qchen adik saya memilih untuk meninggikan pokok/pangkal tanaman agar tidak terendam.

Selain itu, dibuat juga beberapa parit kecil dan kolam penampungan air.

Setelah menanam bibit, pentingnya saluran air tidak terlalu terlihat, karena saya justru harus menghadapi musim kemarau. Alih-alih menghadapi banjir, saya justru menghadapi kekeringan yang memaksa saya mengebor air dan menerapkan sistem irigasi tetes. Bisa dilihat pada beberapa foto yang saya tambahkan.

Saat musim hujan kembali datang, barulah pentingnya parit kembali muncul. Hujan beberapa hari berturut-turut menyebabkan genangan yang jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan tanaman pisang layu dan kemudian mati.

Harusnya hal ini disiapkan dan diprediksi sejak awal, ya namanya juga petani pemula, susah tahu penting tapi tidak langsung action karena tidak terlihat nilai pentingnya, ditambah lagi budgetnya diarahkan untuk keperluan yang lebih urgent.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Saat itu musim kering. Tanaman merana kekurangan air. Jika budget yang ada saya gunakan untuk menggali saluran air menghadapi musim hujan, bibit yang ada keburu mati. Ibarat orang sudah setengah mati kehausan, bukannya dikasih air malah uangnya digunakan untuk memperbaiki saluran.

Ehm, kayaknya nyari pembenaran, Iya, anggaplah begitu, hehehe…

Nah sekarang setelah tanaman terendam, apa yang harus dilakukan. Setelah berkunjung ke kebun dan melihat langsung, saya memutuskan untuk segera membuat saluran air berupa parit di masing-masing jalur. Paritnya agak lebar karena tanahnya digunakan untuk meninggikan pangkal/bonggol tanaman pisang.

Nantinya parit akan dibuat lebih dalam. Diatasnya bisa saja nanti dipasangi rel untuk mengambil hasil panen, tapi itu urusan berikutnya.

Di beberapa sudut kebun dibuatkan kolam penampungan agar jika ada air berlebih bisa ditampung, sekaligus sebagai cadangan air saat musim kemarau.

Untuk lahan kebun Zeze Zahra, saya mengerahkan 5 orang yang berbarengan membuat parit. Yang mengerjakan adalah petani sekitar yang biasa membuat parit untuk tanaman timun dan biasa bekerja di sawah. Masing-masing jadi dapat benefit. Petani dapat penghasilan tambahan, keperluan Zeze Zahra juga dapat segera dituntaskan. Diperkirakan akan memakan waktu 10 hari sampai tuntas semua.

Saat ini sebagian besar parit sudah selesai dan air sudah tidak menggenangi tanaman. Apakah sudah menyelesaikan masalah? Belum tentu, karena masih harus dilihat perkembangannya. Yang jelas, tiap proses akan selalu memberikan kesempatan kita untuk belajar.

Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita. Tsah… Menyiasati Tantangan Berkebun PisangMenyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Tantangan Berjualan : Cuaca dan Isu

Beberapa rekan di Komunitas Pisang Indonesia bertanya pada saya, “Kok nggak ada update kios Aneka Pisang Zeze Zahra lagi?”

Sebagian mungkin menyangka tokonya sudah bubar, kehabisan modal atau nggak laku jadi malu buat update, hehehe…

Sebenarnya sejak Desember saya sudah menyiapkan catatan perkembangan penghasilan kios. Sejak dibuka awal November 2020, saya sempat menulis summary penghasilan kios di awal Desember dan rencananya akan update lagi diawal Januari 2021 terkait summary penghasilan bulan Desember 2020.

Qodarullah, menjelang akhir Desember 2020 saya terpapar covid-19. Gejalanya menurut dokter masih kategori sedang tapi buat saya sendiri rasanya berat. Apalagi saya terpapar beserta isteri dan bapak mertua, sehingga pikiran saya terpecah antara fokus pada kesehatan diri sendiri, keluarga dan perhatian pada anak-anak.

Saat mengetahui hasil swab PCR positif, saya langsung mendelegasikan sebagian besar pekerjaan saya di Excellent (usaha konsultan IT) ke team saya. Untuk kios pisang dijalankan oleh “karyawan” yang sudah mulai menangani kios pisang sejak pertengahan November 2020.

Saya termasuk beruntung karena sejak awal memahami bahwa bisnis tidak akan berjalan jika semuanya harus ditangani sendiri, sehingga baik di Excellent maupun Zeze Zahra, saya bertahap melatih orang yang nantinya akan menangani usaha tersebut. Di kios pisang Zeze Zahra, awalnya saya menangani hampir 100% pekerjaan. Setelah ada team yang membantu, perlahan saya mulai mengurangi porsi wewenang saya. Mulai dari 90%, 80% sampai akhirnya saya mulai melepas karyawan untuk menangani sepenuhnya.

Awalnya saya tiap hari datang ke kios, menjaga kios dibantu karyawan. Saya mengajari karyawan mengenali pisang bagus, menhadapi pembeli yang menawar, menentukan harga jual dan lain-lain termasuk membuat catatan penjualan. Setelah sekitar 2 minggu, saya masih datang ke kios tapi lebih banyak di lantai 2. Saya biarkan karyawan menjaga kios dan hanya sesekali mengecek kebawah. Diatas saya bekerja remote untuk pekerjaan di Excellent.

Setelah direview dan hasilnya cukup baik, saya memberikan delegasi wewenang lebih besar. Saya memberikan modal kerja di awal Desember untuk masa 1 bulan. Jadi jika ada kiriman pisang dari kebun Zeze Zahra sendiri, hitungannya akan dibeli (karena akan jadi penghasilan kebun, terpisah pembukuan dari kios, meski sesama Zeze Zahra). Jika ada kiriman pisang untuk jenis pisang yang belum ada, dia juga bisa langsung membayarnya.

Jadi di kios, semua penghasilan akan masuk ke dalam catatan pendapatan, tidak dikurangi pengeluaran maupun pembelian. Untuk biaya pembelian, makan, transport dan lain-lain akan diambil dari modal yang saya berikan diawal bulan. Cara ini memudahkan pencatatan, karena untuk mengetahui profit atau tidak, bisa langsung mengurangi pendapatan dengan pengeluaran dari modal.

Bulan Desember 2020 penjualan secara umum berlangsung baik. Kadang menurun saat cuaca tidak baik, misalnya hujan terus-terusan. Meski demikian, pola pikir pembeli juga bisa berubah. Beberapa kali penjualan meningkat saat cuaca dingin, mendung dan libur akhir pekan, karena cuaca dingin membuat orang malas keluar dan pingin makan cemilan yang ringan namun hangat. Pisang rebus cocok untuk itu sehingga trend penjualan pisang Tanduk, Kepok dan Uli meningkat.

Saya dirawat di RS mulai tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 kemudian dilanjutkan dengan isolasi hingga 2 minggu kemudian. Sejak sebelum sakit saya memang hanya beberapa kali singgah di kios Zeze Zahra karena lebih banyak aktif di Excellent mengingat pekerjaan proyek IT di akhir tahun biasanya lebih padat daripada bulan-bulan lain. Setelah sakit, praktis saya hampir tidak pernah datang ke kios, hanya menerima laporan dari karyawan yang menjaga.

Apakah karyawannya bisa dipercaya? Insya Allah bisa, karena bukan sekedar karyawan biasa. Masih termasuk saudara, besar bersama, kerja sama bukan kali ini saja, jadi sudah ada proses kualifikasi sebelumnya.

Awal tahun 2021 penjualan pisang di kios Zeze Zahra trendnya menurun. Selain karena daya beli masyarakat di masa pandemi memang berkurang, kondisi cuaca dan suasana tahun baru juga berkontribusi pada penurunan ini. Meski demikian saya bilang pada Adul-karyawan yang menjaga kios Zeze Zahra-untuk tidak patah semangat. Kalaupun ada pisang yang tidak terjual, kami sudah ada saluran untuk mendistribusikannya.

Minggu kedua sampai dengan menjelang akhir bulan Januari 2021 trend penjualan semakin menurun. Adul beberapa kali bilang pada saya bahwa penjualan lebih sepi daripada hari-hari sebelumnya.

Apa sebabnya? Kios aneka pisang Zeze Zahra ada di wilayah perumahan. Ada isu beredar bahwa pemilik kios aneka pisang Zeze Zahra sakit covid, jadi pembeli takut beli pisang di kios. Bahwa saya sakit memang benar, apalagi saya juga sengaja lapor ke RT dan puskesmas semenjak saya sakit hingga sembuh. Jadi isunya sendiri tidak salah.

Bahwa pembeli jadi takut masuk akal juga, karena kecenderungan orang biasanya menghindari hal-hal yang mengkhawatirkan, tanpa peduli bahwa saya terpapar covid dari kantor isteri, tanpa peduli bahwa saya sudah lama tidak ke kios, bahkan sebelum saya sakit.

Ini sebenarnya perkembangan dan tantangan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, tapi saya bisa memaklumi dan secara umum, nothing can I do terkait hal ini, karena lebih terkait mindset dan persepsi calon pembeli.

Setelah selesai isolasi dan dinyatakan sembuh oleh dokter, saya mencoba mampir ke kios aneka pisang Zeze Zahra. Saya melihat sebagian besar rak kosong dan stock yang ada tidak terlalu bagus. Akhirnya saya briefing pada Adul bahwa meski pembeli menurun, stock harus dijaga kuantitas dan kualitasnya. Kalaupun saya harus mengeluarkan biaya untuk stock dan ada kemungkinan lebih besar pengeluaran daripada pendapatan, buat saya tidak masalah.

Sejak awal membuka kios, saya memperkirakan 3 bulan pertama adalah masa “bakar uang” dalam arti bahwa saya tidak terlalu berharap dapat profit karena tahu masa awal usaha adalah masa ketidakpastian. Masih pengenalan. Jadi sudah ada cadangan untuk itu.

Kalau cuaca buruk mengurangi penjualan, isu soal pemilik yang sakit menambah pengurangan penjualan, stock yang tidak ada dan tidak bagus justru akan memperparah keadaan.

Sejak beberapa waktu yang lalu stock dirapikan kembali. Pisang yang sudah tidak terlalu bagus tampilannya disingkirkan. Tiap hari selalu ada stock fresh. Apalagi kebun pisang Zeze Zahra sudah mulai produksi jadi penambahan stock bisa dilakukan lebih mudah.

Sekitar seminggu terakhir, nilai penjualan mulai menunjukkan trend meningkat. Masih fluktuatif tapi trendnya sudah mulai meningkat. Kenyataan bahwa saya sudah sembuh dan mulai aktivitas, warga yang tahu dari pak RT bahwa saya sudah sembuh dan stock yang terjaga ditambah dengan lini penjualan langsung keliling (dan mangkal menggunakan sepeda motor, ada di cerita saya sebelumnya) berkontribusi pada peningkatan ini.

Bagi yang pernah membaca tulisan saya sebelumya pasti paham bahwa saya selalu berusaha belajar dari apa yang dihadapi. Jadi hal inipun menjadi media pembelajaran bagi saya. Saya tuliskan disini agar bisa menjadi pembelajaran juga bagi yang lain, bahwa tantangan bisa muncul dari arah mana saja, dari hal-hal yang mungkin tidak terduga.

Agar bisa refreshing sejenak dari usaha jualan, hari Minggu pekan lalu saya mengajak team Zeze Zahra untuk berkunjung ke kebun pisang, untuk melihat potensi panen pisang yang sudah mulai produktif di awal 2021, melihat perkembangan kebun dan relasinya dengan perkembangan kios pisang Zeze Zahra, sekaligus makan siang bersama sambil mengobrol mengenai semangat saya mengembangkan Zeze Zahra dan Excellent Farm.

No retreat no surrender Tantangan Berjualan : Cuaca dan Isu

Belajar Mengurus Kebun

Saat musim panas kekeringan, saat musim hujan kebanjiran. Itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kebun pisang Zeze Zahra.

Zeze Zahra baru mulai menanam pisang awal tahun lalu, tepat setahun jika diukur saat mulai membeli lahan. Saat itu kondisi kebun juga terendam luapan kali Citarum. Namun saat mulai menanam, hujan sudah mulai jarang dan periode April-Juli kondisi kebun kering sekali sehingga saya harus mengebor air untuk menjaga bibit agar tidak sampai shutdown.

Ini salah satu video di akhir Juni 2020 : https://www.youtube.com/watch?v=QGG99Jo9enY

Menjelang akhir tahun, hujan yang dinanti-nanti akhirnya datang juga. Bibit yang ditanam dan bisa bertahan hidup akhirnya mulai berbuah. Awal tahun hujan semakin sering dan kondisi kebun mulai tergenang. Saluran yang dibuat untuk pengairan tidak memadai sehingga perlu dirapikan dan dibuat lebih dalam.

Hal ini yang menarik dan membuat hidup jadi lebih bernuansa, karena kita bisa selalu belajar dari kondisi yang ada. Namanya usaha, mungkin saja bisa berhasil dan mungkin juga gagal, tapi kalau sudah dicoba tentu tidak lagi ada penyesalan “kenapa nggak dicoba ya…””

Banjir, terutama luapan dari sungai/kali memang kadang membuat kita bingung cara mengatasinya, namun setelah surut, lumpur dari sungai menjadi pupuk yang menyuburkan kebun.

Jadi kalau ada yang tanya, itu pakai pupuk apa kok bisa subur kebunnya. Selain dibantu pupuk kandang, kebun pisang Zeze Zahra juga dibantu pupuk lumpur dari kali Citarum Belajar Mengurus Kebun

Keluar Rumah Setelah Isolasi

Setelah perawatan di rumah sakit sejak tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 dilanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah hingga menjelang pekan keempat Januari 2021, akhirnya hari ini saya melakukan test keluar rumah, yaitu main ke kebun pisang di Karawang.

Meski hasil swab PCR sudah negatif dan gejala sakit sudah tidak dirasakan, saya memang tetap berhati-hati karena khawatir badan belum terlalu fit untuk kembali aktivitas sebagaimana biasa.

Saya memilih main ke kebun pisang dengan beberapa pertimbangan, antara lain :

  1. Di kebun pisang relatif jarang bertemu dengan orang lain dan bisa tetap menjaga jarak. Meski sudah dinyatakan sembuh, saya pikir tetap lebih baik berjaga-jaga
  2. Saya bisa melepas masker saat jauh dari orang lain dan bisa menghirup udara segar di kebun
  3. Saya bisa langsung mandi sinar matahari. Jadi bisa berolahraga (karena berjalan di kebun), mendapat sinar matahari pagi sekaligus mendapat udara segar

Selain alasan diatas, saya juga memang sudah lama tidak ke kebun pisang, jadi sekalian mengecek suasana dan perkembangan kebun.

Agar tidak mampir, dari rumah saya menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari alat makan, minum, air mineral, buah, sarung, pakaian ganti, makanan ringan dan lain-lain. Saya seperti orang hendak kemping dan itu memang sengaja saya lakukan agar tidak perlu berhenti di jalan untuk membeli makanan atau minuman.

Alhamdulillah, meski hari Senin kemarin sempat hujan dan beberapa area kebun terendam banjir, perjalanan saya ke kebun lancar dan cuaca cerah. Saat sampai di kebun pisang, matahari bersinar tanpa halangan dan saya bisa mendapatkan tujuan yang yang saya inginkan.

Suasana di kebun becek karena sisa hujan sebelumnya. Jadi saya harus memakai sepatu bot tinggi. Tidak lupa memakai lotion anti nyamuk karena selepas hujan dan suasana lembab dibawah naungan daun pisang banyak nyamuk nakal berkeliaran.

Saat ini sebagian besar pohon pisang sudah berbuah. Ada yang sudah mendekati tua dan ada juga yang belum lama berbuah. Malah ada beberapa yang baru keluar tandan buah.

Secara umum kebun cukup baik, hanya saja drainase-nya kurang bagus karena hujan cukup lebat menimbulkan genangan air cukup tinggi. Jika terus terendam selama beberapa hari, pohon pisang bisa layu dan membusuk.

Ada juga pohon pisang yang sudah berbuah tumbang karena hempasan angin. Ini agak sulit dihindari, meski saya sudah berupaya menanam pohon pisang tegar seperti pisang kepok di pinggir kebun sebagai pelindung terpaan angin.

Area yang saya tanami bibit pisang Cavendish Fhia-17 juga tumbuh subur, meski sebagian area bekas kebun jagung terendam air cukup tinggi. Saya berdiskusi dengan yang merawat kebun agar membuat sodetan atau saluran air sehingga air tergenang bisa dibuang melalui saluran di pinggir kebun.

Saya membatasi diri di kebun hanya sampai menjelang Dzuhur agar tidak terlalu lelah. Setelah menebang beberapa tandan pisang yang sudah tua, kami kemudian beranjak pulang sebelum sore dengan terlebih dahulu main ke rumah pak Amoy, si bapak yang merawat kebun, sawah, bebek dan kambing.

Saya khusus kesana untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Amoy selama saya sakit. Kami dijamu makan siang bersama sekaligus membawa pulang telur bebek dan kelapa muda.

Keluar Rumah Setelah Isolasi

Setelah perawatan di rumah sakit sejak tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 dilanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah hingga menjelang pekan keempat Januari 2021, akhirnya hari ini saya melakukan test keluar rumah, yaitu main ke kebun pisang di Karawang.

Meski hasil swab PCR sudah negatif dan gejala sakit sudah tidak dirasakan, saya memang tetap berhati-hati karena khawatir badan belum terlalu fit untuk kembali aktivitas sebagaimana biasa.

Saya memilih main ke kebun pisang dengan beberapa pertimbangan, antara lain :

  1. Di kebun pisang relatif jarang bertemu dengan orang lain dan bisa tetap menjaga jarak. Meski sudah dinyatakan sembuh, saya pikir tetap lebih baik berjaga-jaga
  2. Saya bisa melepas masker saat jauh dari orang lain dan bisa menghirup udara segar di kebun
  3. Saya bisa langsung mandi sinar matahari. Jadi bisa berolahraga (karena berjalan di kebun), mendapat sinar matahari pagi sekaligus mendapat udara segar

Selain alasan diatas, saya juga memang sudah lama tidak ke kebun pisang, jadi sekalian mengecek suasana dan perkembangan kebun.

Agar tidak mampir, dari rumah saya menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari alat makan, minum, air mineral, buah, sarung, pakaian ganti, makanan ringan dan lain-lain. Saya seperti orang hendak kemping dan itu memang sengaja saya lakukan agar tidak perlu berhenti di jalan untuk membeli makanan atau minuman.

Alhamdulillah, meski hari Senin kemarin sempat hujan dan beberapa area kebun terendam banjir, perjalanan saya ke kebun lancar dan cuaca cerah. Saat sampai di kebun pisang, matahari bersinar tanpa halangan dan saya bisa mendapatkan tujuan yang yang saya inginkan.

Suasana di kebun becek karena sisa hujan sebelumnya. Jadi saya harus memakai sepatu bot tinggi. Tidak lupa memakai lotion anti nyamuk karena selepas hujan dan suasana lembab dibawah naungan daun pisang banyak nyamuk nakal berkeliaran.

Saat ini sebagian besar pohon pisang sudah berbuah. Ada yang sudah mendekati tua dan ada juga yang belum lama berbuah. Malah ada beberapa yang baru keluar tandan buah.

Secara umum kebun cukup baik, hanya saja drainase-nya kurang bagus karena hujan cukup lebat menimbulkan genangan air cukup tinggi. Jika terus terendam selama beberapa hari, pohon pisang bisa layu dan membusuk.

Ada juga pohon pisang yang sudah berbuah tumbang karena hempasan angin. Ini agak sulit dihindari, meski saya sudah berupaya menanam pohon pisang tegar seperti pisang kepok di pinggir kebun sebagai pelindung terpaan angin.

Area yang saya tanami bibit pisang Cavendish Fhia-17 juga tumbuh subur, meski sebagian area bekas kebun jagung terendam air cukup tinggi. Saya berdiskusi dengan yang merawat kebun agar membuat sodetan atau saluran air sehingga air tergenang bisa dibuang melalui saluran di pinggir kebun.

Saya membatasi diri di kebun hanya sampai menjelang Dzuhur agar tidak terlalu lelah. Setelah menebang beberapa tandan pisang yang sudah tua, kami kemudian beranjak pulang sebelum sore dengan terlebih dahulu main ke rumah pak Amoy, si bapak yang merawat kebun, sawah, bebek dan kambing.

Saya khusus kesana untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Amoy selama saya sakit. Kami dijamu makan siang bersama sekaligus membawa pulang telur bebek dan kelapa muda.