Posts in Category: Headline

Perkembangan Usaha Penjualan Pisang “Zeze Zahra” Setelah 1 Bulan

Catatan : Ini adalah catatan saya yang diposting tanggal 1 Desember 2020 di group Komunitas Petani Pisang.

Hari ini genap 1 bulan saya berjualan pisang melalui kios “Aneka Pisang Zeze Zahra”. Bagaimana perkembangannya? Apakah kolaps? Menyerah atau kapok berjualan pisang? Bahwa berjualan pisang itu tidak seindah ilusi awalnya?

Perkembangannya sejauh ini berjalan dengan baik. Apakah kolaps? Alhamdulillah tidak. Apakah menyerah? Juga tidak. Apakah kapok berjualan pisang? Juga tidak. Berjualan pisang memang bertemu banyak hal, baik kendala maupun hal yang menyenangkan, tapi justru hal itu yang membuat hidup jadi indah untuk dijalani, tsahelah…

Secara total, berjualan pisang selama 1 bulan penuh dari 1 November 2020 sampai dengan 30 November 2020 memiliki omset sekitar 14 juta rupiah. Ini omset ya, bukan profit. Kalau begitu, berapa profitnya? Profitnya rahasia, tapi nggak besar-besar amat juga.

Kadang ada yang pingin tahu sampai detail, harap dipahami juga bahwa ada beberapa hal yang sungkan saya ekspos karena terkait dengan negoisasi dengan pihak lain juga.

Sebagai contoh misalnya untuk keripik pisang. Keripiknya saya ambil dari adik saya dengan margin super tipis. Tidak apa-apa, karena sedikit banyak bisa membantu produksi adik saya. Saat menjual ke reseller, marginnya juga tipis, tidak apa-apa yang penting delivery barang bisa cepat dan stabil.

Saya juga menerima kiriman pisang tertentu dari rekan lain. Misalnya pisang Barangan, Raja Bulu dan pisang Tanduk. Marginnya juga tidak terlalu besar, tapi tidak masalah asal kualitas bagus, semua bisa senang. Petani senang dapat harga bagus. Supplier senang dapat margin lumayan. Saya senang karena bisa mudah jual pisang yang bagus dan pembeli juga senang karena pisangnya enak, bagus dan kualitas super. Masing-masing pihak bisa mendapat kebaikan dan hasil yang menyenangkan dari awalan yang bagus. Saling mendukung dan berusaha selalu meningkatkan kualitas.

Dari data selama 1 bulan, penjualan terlaris ada di kisaran 1 juta rupiah, penjualan paling sepi ada di kisaran 100 ribu rupiah. Fluktuasi tiap harinya, tergantung pada stock yang ada dan pada situasi di Zeze Zahra. Misalnya saat hujan lebat, mungkin penjualan sedikit karena orang jarang yang beredar. Saat akhir pekan, penjualan lumayan ramai karena ada banyak yang berolahraga di lapangan depan Zeze Zahra.

Apakah hasil penjualan tersebut bisa menutup biaya? Kalau yang dimaksud adalah biaya total, tentu saja belum. Sejak awal berjualan, saya menyiapkan waktu 3 bulan untuk pengenalan kios dan melihat kondisi pasaran (market overview). Jadi sampai 2 bulan kedepan saya masih menganggap tahapannya adalah tahapan “pengeluaran”. Bagi saya, di bulan pertama sudah ada pemasukan sudah melebihi ekspektasi saya.

Saat awal berjualan ada yang bertanya, “Itu stock display banyak yang matang, kalau nggak laku nanti gimana?”. Jawabannya mudah banget. Kalau nggak laku, nanti jadi busuk lha ya Perkembangan Usaha Penjualan Pisang “Zeze Zahra” Setelah 1 Bulan

Iya, beneran. Kalau stock banyak yng tidak laku, hasilnya jadi busuk. Dan itu benar terjadi di minggu pertama saya berjualan. Bagaimana cara mengatasinya? Sebelum sampai busuk, ada yang saya jadikan kue bolu, ada yang saya jadikan sale pisang. Yang terlewat busuk saya kirimkan ke ternak kambing untuk tambahan pakan.

Di Excellent (induk usaha Zeze Zahra), saya menyebutnya “Biaya pembelajaran”. Kita bisa menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum melakukan usaha, namun tetap ada kemungkinan hal-hal tertentu yang baru ditemukan atau dialami setelah menjalaninya.

Penanganan stock yang expired ini memerlukan usaha disisi pengaturan stock matang. Jadi saya mengatur mana pisang yang diperam dan mana yang dibiarkan terkena angin sepoi-sepoi. Jumlahnya tidak banyak-banyak, tapi dibuat urutan secara timeline/timelapse. Misalnya pisang Ambon yang diperam hari ini ada 5 sisir, besok diperam lagi 5 sisir dan seterusnya. Jadi stock tidak sampai kosong, tapi juga tidak berlebihan.

Jika di minggu pertama misalnya ada 20% stock yang expired, di minggu berikutnya jumlah tersebut bisa turun drastis. Selain pengaturan stock, saya juga kadang melepas pisang dengan harga lebih rendah dari label. Semacam “Tidak apa-apa untung tipis atau balik modal saja daripada tidak dapat sama sekali”.

Selain dari kios, sebenarnya hasil penjualan juga dibantu dari lini penjualan langsung. Zeze Zahra sebenarnya diposisikan sebagai pangkalan. Jadi beberapa reseller mengambil pisang dari Zeze Zahra dengan harga khusus, nanti mereka yang berjualan keliling atau mangkal ditempat lain. Saya pernah menuliskannya disini dengan judul “Penjualan Langsung”.

Menjual ke reseller mengurangi margin/keuntungan, tapi tidak masalah asal prosesnya stabil dan lancar. Untung tipis tapi mengalir lancar daripada untung besar tapi tersendat. Untuk lini penjualan langsung ini, saya bahkan memberikan modal awal agar mereka bisa berjualan dengan leluasa.

Saya siapkan keranjang/bronjong untuk berjualan, saya sediakan pisang untuk jualan awal, saya berikan modal awal untuk uang kembalian dan uang operasional bahkan saya sediakan kendaraan untuk berjualan. Besar sekali dong biayanya? Besar kecilnya relatif tapi tetap ada kalkulasi detail untuk setiap rupiah yang dikeluarkan.

Kelihatannya mudah ya, kalau ada uang untuk modal. Usaha apa saja lancar…

Nggak juga. Kalau kata alm Bob Sadino, “Usaha apa yang bagus?” jawabannya adalah “Usaha yang dijalankan”. Kalau nggak dijalankan hasilnya nggak akan ada. Mimpi saja jadinya. Masih lumayan kalau mimpi yang nantinya akan dijalani, tapi kalau hanya sampai ditahapan mimpi, hasilnya juga hanya angan-angan semu.

Ada juga kalimat “The devil is in the detail”, bahwa kalau nggak hati-hati, kalkulasinya tidak detail. Tidak memperhatikan rincian usaha. Bisa bermasalah nantinya. Modal besar, tidak perhitungkan detail yang ada malah bocor dimana-mana.

Sejak awal, Aneka Pisang Zeze Zahra dirilis dalam rangka menyiapkan lini penjualan untuk hasil dari kebun pisang yang diperkirakan mulai panen massal di kisaran Januari-Februari 2021. Dengan mengetahui hambatan-hambatan yang dialami sejak awal, saya punya waktu untuk menyiapkan eskalasi dan solusi untuk hambatan tersebut lebih dini.

Buat rekan-rekan yang menjadi petani atau pedagang, tetap semangat ya. Semoga lelahmu menjadi berkah bagi penghidupan yang dijalani.

Jalannya berkelok dan mendaki
Siapa menanti tak pernah kutahu
Sunyiku pun kekal: menjajah diri
Dan angin pun gelisah menderu

Ah, ingin aku istirahat dari mimpi
Namun selalu kudengar ia menyeru
Tentang jejak di tanah berdebu
Diam-diam aku pun berangkat pergi

Menyiasati Kekurangan Hidup : Kebun dan Kios Pisang Zeze Zahra

Beberapa rekan bertanya, dimana lokasi Zeze Zahra? Jawaban saya tergantung. Tergantung yang ditanya kios aneka pisang Zeze Zahra atau kebun pisang Zeze Zahra.

Kios aneka pisang Zeze Zahra ada di Bekasi Timur. Dekat rumah saya dikawasan perumahan pinggiran kota. Kebun pisang Zeze Zahra ada di wilayah Batujaya Karawang. Butuh waktu sekitar 1.5 sd 2 jam dari kios ke kebun.

Jauh amat? Iya lah. Mahal kalau bertani pisang di kota Bekasi. Tanahnya saja bisa 5-15 juta per meter persegi. Untuk lahan 100 meter bisa habis uang 500 juta rupiah. Nggak bisa tanam pohon pisang, harus tanam pohon duit baru bisa kembali modal, hehehe…

Di Karawang pelosok, harga tanah masih cukup terjangkau. Saat awal mula bertanam pisang, saya berencana membeli lahan 100 meter saja. Disesuaikan dengan kemampuan dan daya beli. Ternyata lahan yang dijual rata-rata diatas 1000 meter. Jadilah saya ambil tabungan, agar bisa mendapat lahan yang sesuai.

Karena lokasi cukup jauh, tidak mungkin saya tiap hari mondar mandir kesana. Selain karena saya masih aktif mengurus Excellent (PT Excellent Infotama Kreasindo, IT services provider, https://www.excellent.co.id), mondar-mandir kesana tentu menyita waktu dan melelahkan. Beruntung bagi saya karena saya mendapat orang kepercayaan, yaitu pak Amoy. Pak Amoy yang membantu mengurus sawah, ladang dan ternak disana.

Adik saya Qchen punya rumah di pinggiran kampung di kabupaten Bekasi. Harga tanah disana juga lebih rendah daripada di kota Bekasi. Qchen membeli tanah di pinggiran kampung. Tanah itu gersang sekali. Saya melihatnya saat musim kemarau dan tidak berminat sama sekali. Tapi Qchen membelinya karena dekat dengan rumahnya.

Ditangan Qchen, lahan gersang itu bisa disulap jadi hijau royo-royo. Dia menebarkan pesak (sekam padi) kemudian melapisinya dengan pupuk kandang. Lahannya jadi subur. Dia menanam kangkung, tanaman obat, palawija dan bibit pisang. Dia juga memelihara ayam dan kelinci. Bagi saya yang biasa menonton serial “Live Free or Die” di NatGeo, rumah dan kebun Qchen ini cocok bagi orang yang ingin mandiri pangan, bisa mencukupi sebagian besar kebutuhan hidup sehari-hari.

Kebun Qchen dijadikan sebagai plasma nutfah. Pusat bibit yang saya beli dari beberapa tempat. Bibit bonggol Fhia17, bibit pisang mas Kirana dari Lumajang, bibit pisang Barangan dari Medan, bibit pisang Raja Bulu+pisang Ampyang/Kreas dari Kebumen dan bibit pisang Tanduk Sukabumi mampir di kebun Qchen sebelum nantinya ditanam di kebun Zeze Zahra di Karawang.

Beberapa waktu yang lalu, Qchen menambah lahan disebelahnya. Setelah dibersihkan dari gulma dan semak, dia menjadikan lahan tersebut sebagai lahan ujicoba beberapa tanaman pisang pilihan.

Uangnya banyak amat bisa beli lahan beli bibit buka kios dan lain-lain. Uangnya tidak banyak, karena kami datang bukan dari keluarga yang berkecukupan. Tapi kami punya prinsip, jika ada hobi, keinginan dan tujuan yang ingin dicapai, kami akan berusaha mendapatkannya. Kami pernah berjualan pisang goreng, es mambo dan petasan Menyiasati Kekurangan Hidup : Kebun dan Kios Pisang Zeze Zahra saat kecil. Saya pernah mengajar les privat, membuka rental komputer, menjadi buruh pabrik hingga menjadi pemetik buah-buahan.

Uang serupiah dua rupiah yang didapatkan dikumpulkan. Butuh waktu cukup lama sampai bisa membeli perlengkapan. Perlengkapan itu (komputer, akses internet) itu yang digunakan untuk mencari uang yang lebih besar agar bisa membiayai tujuan lain seperti membeli lahan dan bertanam pisang.

Bagi rekan-rekan yang lahir dari keluarga petani, dari keluarga orang kebanyakan, jangan pernah malu dan menyerah. Bagi rekan-rekan yang berpeluh keringat, baju penuh getah pisang, kotor karena lumpur, jangan lupa mencucinya, hehehe… Maksudnya, jangan pernah menyesali dan merasa malu karenanya. Penghasilan yang didapatkan adalah penghasilan yang insya Allah berkah, diusahakan dengan niat baik, dijalani dengan cara yang baik dan akan menghasilkan hasil yang baik.

Jangan khawatir jika sekarang masih belum terlihat hasil luar biasa. Air mendidih di suhu 100 derajat. Bisa jadi usaha kita baru sampai 40, 50 atau 70 derajat. Terus konsisten memperbaiki kualitas diri, insya Allah hasilnya akan sepadan.

Jika sekarang belum punya lahan, kita bisa mulai dengan menjual buah. Jika saat ini belum punya modal besar, kita bisa mulai dengan menjual daun dan jantung pisang. Kita bisa mulai dari modal yang kecil dari usaha sendiri.

Saat harga pisang jatuh, kita bisa mencari akal dan alternatif lain. Bisa dalam bentuk pengolahan pisang bisa dalam bentuk pembuatan penganan. Kalau kita dalam posisi under pressure dibawah tekanan untuk bertahan hidup, kita pasti akan selalu menemukan jalan keluar. Jangan menyalahkan kondisi, situasi, menyesal lahir dari keluarga miskin, menyalahkan hal-hal diluar diri kita.

Berusaha merawat kebun, merawat tanaman, menghasilkan panen yang bagus, belajar dari berbagai hal agar kualitas hidup kita terus meningkat.

Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Bekerja untuk Beli Ipad

Puteri bungsu saya, Vivian Aulia Zahra memberikan kertas ini tadi pagi. Katanya dia mau beli Ipad, dan untuk itu dia akan bekerja agar bisa mendapat penghasilan untuk beli ipad.

Jika dia berbuat sesuatu yang harus dikerjakan, misalnya belajar atau mengerjakan PR atau shalat 5 waktu, dia kalkulasikan pendapatannya. Misalnya mandi pagi jam setengah 6 pagi, hadiahnya 1000 rupiah. Kalau nonton Youtube tidak usah diberi hadiah

Mengerjakan PR atau tugas sekolah hadiahnya 5000 rupiah.

Saat membaca tulisan itu, saya terharu, agak sedih sekaligus bangga. Terharu dan agak sedih karena Vivian sampai merasa kalau meminta sesuatu harus usaha dulu. Tidak sekedar meminta meski saya bisa memenuhinya. Vivian juga tahu dia punya cadangan dana yang saya siapkan untuk pendidikannya tapi dia tidak mau mengganggu alokasi itu.

Untuk apa Ipad itu? Utamanya sebenarnya untuk sekolah online. Saat ini ada laptop tapi laptop terlalu berat dan agak repot jika harus keluar masuk tas. Pakai Ipad lebih mudah dan nyaman digunakan saat dikendaraan, selain bisa dipakai juga untuk main games Bekerja untuk Beli Ipad

Saya bilang pada Vivian, proposalnya saya terima, tapi itu nilainya terlalu murah/rendah. Saya bilang pada Vivian, buat dia, nilai hadiah per jamnya bisa saya berikan 100 ribu rupiah. Jadi prosesnya tidak menunggu terlalu lama.

Apalagi Vivian dan Vavai (dan seluruh keluarga) membantu saya menimbang sale pisang, mengemasnya, menempelkan branding Zeze Zahra hingga membungkus pengirimannya. Pekerjaan itu tetap saya hargai sebagai bonus tambahan.

Saya ingat dulu saat saya membantu baba dan enyak (bapak dan ibu) saya, meski pada anak sendiri, baba atau enyak tetap memberikan hadiah dalam bentuk uang yang bisa saya gunakan atau saya tabung, misalnya untuk membeli sepatu. Biasanya hal itu dilakukan kalau saya membantu memetik buah (rambutan, jambu, mangga) untuk dijual atau berjualan es mambo.

Saya bangga pada pola pikir Vivian. Barakallahu fii umrik princess Vivian dan Zeze Vavai.

Perkembangan Kios Pisang “Zeze Zahra”

Setelah dibuka di hari Minggu 01 November 2020, bagaimana perkembangan penjualan pisang di kios aneka pisang “Zeze Zahra”?

Di screenshot summary yang saya buat bisa terlihat frekuensi penjualan. Hari pertama ada 29 sisir. Hari kedua 12 sisir pisang plus 7 buah pisang tanduk. Hari ketiga (hari ini) sampai dengan siang ini ada penjualan 16 sisir pisang dan 4 buah pisang tanduk.

Apakah sudah sesuai dengan harapan? Relatif. Mengapa? Karena saya bilang pada keluarga agar tidak shock jika berjualan tanpa ada satupun yang terjual. Kalau bicara perasaan, nanti jadi baper dan sedih, hehehe…

Saya bilang pada keluarga, terjual 1 sisir saja di hari pertama buat saya sudah senang. Artinya pecah telur. Artinya goal. Berhasil menjual.

Kalau bisa menjual 29 sisir pisang, oh tentu senang sekali. Melebihi ekspektasi. Melebihi harapan. 1 sisir terjual saja sudah senang, apalagi sampai 29 sisir.

Tapi hati-hati. Hari pertama sih bisa saja penjualan ramai. Karena baru buka. Ada tetangga yang mungkin tidak enak hati saat lewat akhirnya jadi beli. Ada teman yang mendengar saya buka kios pisang mungkin membeli sebagai dukungan moral. Ada juga pembeli yang mungkin exciting atau kaget dan akhirnya beli.

Jadi kalau hari pertama terjual melebihi harapan, harus tetap waspada. Bisa saja hari kedua berkurang. Hari pertama itu hari libur. Pantas agak ramai karena lokasi didepan lapangan olah raga. Hari Senin, Selasa dan selanjutnya bisa berbeda, karena sudah masuk hari kerja.

Ternyata hari kedua tetap ada penjualan. Memang menurun dibawah 50% dibandingkan hari pertama, tapi berarti tetap ada demand. Hari ketiga juga tetap ada penjualan, malah lebih banyak dibandingkan hari kedua. Berarti tinggal menjaga kualitas dan ketersediaan stock.

Saya membuat tabel sederhana di spreadsheet. Ada jumlah penjualan harian (tidak saya tampilkan) dan ada jumlah frekuensi penjualan per hari per pisang. Kalau di IT ini istilahnya big data. Kecil-kecilan. Riset mengenai permintaan per jenis dan klasifikasi tertentu.

Misalnya menurut saya pisang yang enak itu pisang Ambon dan Raja Bulu. Ternyata penjualan terbesar nomor satu adalah pisang kepok, terutama jenis Kepok Kuning. Nomor 2 malah Raja Sereh. Itu kan pisang sepet kalau masih mentah. Ya iyalah, tapi kan orang seneng pisang itu karena rasanya kres-kres dan bentuknya montok.

Saya boleh tidak suka pada jenis pisang tertentu, tapi kalau orang suka pisang itu, ya saya akan ikuti permintaannya. Saya kurang suka pisang Kepok dan Raja Sereh tapi karena itu permintaan nyata di pelanggan, saya akan ikuti hal tersebut. Saya akan “follow the money”

Hari pertama ada yang bertanya pisang Tanduk dan kebetulan saya belum punya stock. Hari Selasa pagi saya sudah mendapatkan stock pisang Tanduk. Hari pertama stock pisang kepok kuning menurun drastis, saya langsung hubungi adik saya untuk kirim tambahan.

Kata orang Kepok putih tidak laku, karena itu buat makanan burung. Tapi ada juga yang mencari jenis kepok itu, tapi yang masih mentah karena hendak dijadikan keripik.

Saat ini datanya baru sampai hari ketiga, jadi memang masih mungkin berubah, tapi paling tidak itu bisa menjadi gambaran awal untuk pengambilan keputusan.

Menunggu kios juga harus luwes. Ada ibu-ibu yang datang dan bingung hendak membeli pisang apa. Saya tanyakan, dia ingin membeli pisang buah atau pisang untuk diolah? Kalau pisang buah, saya tawarkan pisang Ambon (Kuning dan Hijau), pisang Raja Bulu, Pisang Raja Sereh dan Pisang Lampung. Kalau untuk olahan, saya tawarkan pisang Kepok, Pisang Uli, Pisang Nangka dan Pisang Tanduk.

Jadi kita harus luwes memberikan solusi. Bukan sekedar menjual terus terserah mereka. Bisa saja seperti itu, tapi jadi nggak repeat order. Saya saya kalau beli sesuatu merasa dibantu, saya akan repeat order pada yang bersangkutan.

Menunggu kios pisang juga bisa garing kalau tidak ada kegiatan lain. Termangu-mangu menanti pembeli. Kebetulan hobi dan pekerjaan saya di IT, jadi saya bisa sambil bekerja secara remote. Saya juga bisa membuat toko online di Tokopedia atau Shopee atau Bukalapak atau ditempat lain sebagai alternatif penjualan.

Penampilan juga harus rapi dan wangi. Jangan mentang-mentang jualan pisang kita jadi bau pisang semua-muanya. Hehehe… Kalau tampilan kita bersih dan rapi, paling tidak akan selaras dengan kebersihan dari produk yang kita jual.

Saya mau bicara soal penentuan harga pisang, tapi ini saja sepertinya sudah cukup panjang. Jadi nanti dilanjutkan lagi tulisannya di sesi berikutnya.

Pengalaman Memulai Jualan Pisang

Ini adalah cerita, share pengalaman. Bukan tips bukan saran, karena bisa saja beda situasi jika diterapkan ditempat lain.


Saat masih kecil, saya pernah berjualan es mambo, kue-kue buatan enyak (ibu) saya dan juga pernah berjualan petasan . Jadi meski pekerjaan saya belakangan lebih banyak terkait IT, saya tetap ada latar belakang pengalaman berjualan. Tapi isteri saya tidak memiliki latar belakang berjualan. Jadi saat saya sampaikan rencana berjualan pisang dengan membuka kios pisang, isteri saya heboh karena timbul banyak pertanyaan. Apa laku? Gimana kalau nggak laku? Gimana kalau pisangnya nggak laku dan jadi ada yang busuk? Gimana kalau ada yang komplain? Gimana menentukan harga jual? Gimana kalau rugi?

Pengalaman 1 : Exit Strategy
Oke, satu per satu ya. Pertanyaan pertama, “Apa laku?”
Ya harus dicoba lha ya. Kalau nggak dicoba, bagaimana bisa tahu akan laku atau tidak? Bagaimana memastikan agar bisa laku? Pilih pisang yang bagus, yang cakep dan yang menarik minat.

Gimana kalau nggak laku? Itu sebabnya kalau berencana jualan harus berpikir komprehensif. Kan berpikir saja mah nggak perlu bayar. Kita cuma memikirkan gimana kalau ada yang nggak laku, rugi dong? Iyalah. Terus bagaimana kalau terus rugi, bisa bangkrut dong? Iyalah. Terus kalau iyalah, gimana bisa usaha lagi.

Harus dipikirkan exit strategi-nya. Jalan keluarnya. Kalau pisang tampilannya kurang menarik, dia harus dipindah dari display utama. Harus ditentukan mau diapakan. Kalau pisang olahan seperti pisang nangka, itu bisa dijadikan kue pisang. Pisang uli atau kepok, dijadikan pisang goreng. Pisang ambon atau tanduk bisa dijadikan sebagai sale pisang.

Kalau pisangnya masih bagus hanya lepas dari sisir (patah), saya kirimkan ke team saya yang bekerja di lokasi lain. Pilihan lain adalah dikirimkan ke yayasan yang dikelola. Untuk cemilan anak-anak. Karena masalahnya hanya di tampilan saja.

Kalau sudah tidak bisa diselamatkan sama sekali atau sudah terlambat untuk diselamatkan, ya berarti dikirim jadi makanan ternak.

Hal-hal diatas akan mendidik kita mengenai manajemen ketersediaan stock. Berdasarkan data frekuensi penjualan setiap hari yang pada interval waktu tertentu dibuatkan ringkasannya (kesimpulan), akan terlihat pisang mana yang sebaiknya diperbanyak stocknya dan pisang mana yang cukup beberapa sisir saja ketersediaannya. Data tersebut juga akan membantu kita dalam mengatur perkiraan jumlah pisang matang dan pisang mentah.

Saat awal berencana berjualan pisang, saya tahu salah satu kendala utama adalah mengatasi masalah stock. Jika stock terlalu banyak sedangkan hasil penjualan sedikit, akan banyak pisang yang tidak menghasilkan pendapatan yang memadai. Benar bisa diolah kembali, namun nilai ekonominya jauh lebih rendah. Kalau stock dibuat sedikit saja, pembeli bisa jadi ragu untuk datang, karena hanya sedikit. Kita sebagai pembeli kelapa muda misalnya, tentu memilih penjual kelapa muda yang punya stock banyak dibandingkan yang sedikit, karena di penjual kelapa muda dengan stock banyak, kita bisa memilih mana yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Masalahnya, kita tidak akan pernah tahu kisaran stock yang paling tepat jika tidak pernah mencobanya.

Saya memprediksi, 2 minggu hingga 1 bulan pertama adalah tahap pengenalan. Jadi by design harus ada persiapan budget untuk berdarah-darah di periode tersebut. Istilah di startup IT semacam bakar uang. Seperti Gojek dan Grab yang awal-awal banyak memberikan promo. Fokusnya adalah mengenalkan layanan dan membesarkan pangsa pasar. Bedanya, investor mereka punya power budget yang besar, berbeda dengan kita-kita yang punya power terbatas. Jadi budget yang disiapkan juga harus diperkirakan dan dikelola sebaik-baiknya.

Maksud sebaik-baiknya, budget diutamakan untuk hal-hal yang sifatnya mandatory atau wajib. Contohnya, untuk membeli pisang dengan kualitas yang bagus. Harganya bisa lebih mahal daripada pisang yang diserok seadanya. Pisang dengan harga 10 ribu per kg misalnya, sebenarnya oke saja kalau kita bisa jual diatas itu. Tapi pisang dengan harga seribu rupiah per kg tetap terasa mahal jika tidak bisa terjual dan menjadi sampah. Jadi harus dibedakan mana yang sifatnya pemborosan dan mana yang memang harus dilakukan.

Saya memang mengeluarkan budget untuk kebersihan tempat dan display, karena target pasar yang dikejar membutuhkan hal tersebut. Bisa saja saya menyewa tempat dengan budget lebih rendah dengan tampilan sederhana jika memang lingkungan target pembelinya membutuhkan hal tersebut.

Contoh pengelolaan budget misalnya, saya memakai meja bekas yang saya pakai di Excellent (kantor tempat saya bekerja sebagai team IT). Pisau untuk memotong saya ambil dari stock pisau di rumah. Untuk memotong tandan buah, saya gunakan gergaji kecil yang cukup bagus dan ergonomis dengan harga tidak sampai 50 ribu rupiah. Saat waktunya makan siang, saya pulang ke rumah untuk makan siang di rumah, jadi bisa berhemat.
Saat awal merintis usaha ya harus mau berkorban. Sacrifice. Kalau awal usaha pendapatan baru 50 ribu rupiah tapi makan habis 70 ribu rupiah berarti nombok. Meskipun punya budget, lama-lama akan habis juga. Jadi harus realistis dan mau menekan ego.

Pengalaman 2 : Menentukan Harga Jual
Bagaimana caranya menentukan harga jual? Karena baru pertama kali jualan pisang, ya tentu saya bingung. Keluarga juga bingung.

Kekhawatirannya pasti sama di semua orang yang baru mau usaha. Diberikan harga A, khawatir kemahalan, tidak ada yang beli. Diberikan harga B, khawatir terlalu murah dan tidak menutup biaya. Berarti harus dicari tahu harga yang tepat.

Ya itu masalahnya. Harga tepatnya berapa? Jangan ngomong tinggi padahal kosong. Contohnya ngomong, “Key of Success adalah Kunci Kesuksesan”. Kelihatannya elite ngomong pakai bahasa Linggis padahal nggak ada maknanya.

Percaya ya, nggak ada harga yang tepat. Nggak ada yang tahu. Kalau tidak pernah coba dilakukan.

Berarti kita harus cari tahu. Berarti mesti survei. Ini yang biasa dilakukan perusahaan, tapi kita lakukan dengan cara sederhana namun tetap kita bungkus dengan bahasa keren : riset pasar, hehehe…

Saya sering membeli pisang, karena saya memang penggemar pisang. Tapi yang saya beli hanya pisang yang saya sukai. Pisang Ambon pernah. Pisang Tanduk pernah. Pisang Raja Bulu pernah. Pisang Barangan, Lampung dan pisang Ampyang juga pernah. Tapi ada lebih banyak jenis pisang yang tidak pernah saya beli atau saya lupa harga. Jadi tetap harus ada riset. Dalam bentuk apa? Dalam bentuk, membeli pisang dari pedagang eceran. Dari tukang sayur atau dari penjual lain dipinggir jalan.

Saya berikan uang 100 ribu rupiah pada salah satu rekan yang biasa membantu saya. Pesannya : “Beli pisang masing-masing 1 sisir, jenisnya boleh pisang apa saja tapi yang umum dijual atau dibeli”. Dari situ akan ketahuan harga pasaran pisang. Tidak tepat sama karena tergantung besar kecilnya pisang dan juga tergantung penjualnya. Kalau penjualnya pingin cepat kaya kan bisa saja jual dengan harga mahal dan bertemu dengan kita yang lugu ya klop, pisang terjual dengan harga maksimum, hehehe..

Harga boleh berbeda tergantung penjual, tapi kalau kita membeli 2 atau 3x dengan ukuran yang umum, akan bisa didapatkan perkiraan harga pasaran. Kita bisa bandingkan lagi dengan bertanya pada teman yang biasa membeli pisang agar prediksi harga pasaran bisa lebih mendekati harga umumnya.

Mengapa tidak tanya ke penjual saja. Tanya ke penjual sayur, “Bang, pisang Ambon berapa?”. Kalau dijawab, nanti tanya lagi pisang yang lain dan seterusnya. Yang ada, bukannya dapat harga, kita malah kena damprat, “Kamu mau beli pisang apa tanya-tanya seperti mau sensus” Pengalaman Memulai Jualan Pisang

Ya nggak apa-apa keluar biaya untuk survei. Kan pisangnya juga bisa dimakan atau diolah. Jadi bukan biaya yang keluar percuma.

Setelah mendapatkan harga pasaran untuk penjualan, tugas selanjutnya adalah mencari pisang untuk dijual. Meski dari kebun sendiri, biaya HPP (Harga Pokok Penjualan) bukan nol ya. Jangan mentang-mentang hasil tanam sendiri di pekarangan, dianggap biayanya nol, jadi dijual 10 ribu 1 tandan juga masih untung. Iya masih untung tapi bisa merusak harga.

Saya survei ke pasar, ke pengepul pisang. Kali ini datang untuk membeli pisang per tandan atau per sisir untuk dijual kembali. Pisang yang dipilih adalah pisang yang belum diproduksi di kebun sendiri. Jadi pisang untuk melengkapi display dagangan berdasarkan frekuensi yang ditanyakan.

Jangan kaget ya, kadang penjual dengan level pengepul juga nggak kira-kira memberikan harga. 1 sisir pisang diminta 35 ribu sampai dengan 40 ribu per sisir. Saya beli pisang jenis tersebut di eceran saja harganya 15-30 ribu rupiah. Kalau dipengepul dijual dengan harga 35 ribu rupiah, lantas berapa harga penjualan di eceran?

Kita sama-sama tahu, semua juga ingin harga bagus. Petani ingin dapat harga bagus. Pengepul ingin dapat harga (dan margin bagus). Penjual eceran juga sama. Jadi memang harus keseimbangan.

Karena kita sudah tahu harga eceran, kita jadi punya dasar untuk menawar pada pengepul. Tidak dalam konteks menekan harga melainkan untuk memudahkan saat menjual eceran (karena saya juga petani dan tentu senang kalau harga jual di level petani bisa bagus). Kalau misalnya harga eceran 20 ribu rupiah, kita bisa ada kisaran margin jika mendapatkan pisang dengan harga dibawah itu, misalnya 15 ribu atau 17 ribu.

Bagaimana jika kita membeli pisang 1 tandan dan ukurannya beragam. Ada yang besar dan ada yang kecil. Bagaimana menentukan harga jual per sisir? Disini kita bisa dibantu timbangan. Saya membeli timbangan digital (sebenarnya untuk menimbang sale dan keripik pisang). Saya pilih salah satu pisang dengan perkiraan harga yang sudah diketahui. Misalnya 1 sisir pisang dengan ukuran yang sama yang pernah kita beli dihargai 15 ribu rupiah. Kita timbang beratnya. Nanti harga dibagi berat akan didapat harga per gram.

Contohnya, 1 pisang dengan perkiraan harga 15 ribu rupiah ternyata beratnya 1.5 kg. Berarti harga per gram 10 rupiah. Kalau ada pisang lain dengan berat 1 kg, perkiraan harganya 10 ribu rupiah. Pisang lain yang lebih kecil dengan berat 850 gram berarti harganya 8500 rupiah.

Bagaimana jika beratnya tidak bulat? Misalnya beratnya 935 gram. Apakah dijual dengan harga 9350 rupiah? Ya boleh saja. Tapi saya biasanya mengambil pembulatan kebawah. Misalnya jadi 9000 rupiah.

Setelah dapat harga dan dibandingkan dengan harga pokok sudah mendapat margin, saya membuat label harga. Saya membeli alat pembuat label harga merk Joyko. Mengapa diberi label? Karena repot jika harus mengingat harga masing-masing pisang, nanti kisaran harganya kacau.

Kalau sudah ada label harga, kita bisa dengan mudah mengecek harga. Kalaupun satu saat kita tidak ditempat dan kios ditunggui oleh orang lain atau oleh orang yang dipekerjakan, mereka bisa menjualnya dengan mudah karena harganya sudah ada.

Bagaimana kalau sudah ada label harga tapi tetap ditawar. Ya tidak apa-apa. Namanya konsumen kan boleh saja menawar. Kalau tawarannya nggak masuk ya disampaikan dengan sopan. Kalau bisa dipenuhi, kan bisa menyenangkan konsumen. Misalnya pisang dengan harga 15 ribu rupiah. Kondisinya sudah matang sempurna. Kalau lewat 1-2 hari kemungkinan tampilan tidak menarik. Daripada malah lepas hanya karena pembeli menawar lebih rendah seribu-dua ribu rupiah, bisa diiyakan meski marginnya jadi lebih kecil.

Kalau sudah beberapa kali, nanti keluwesan bisa didapat dengan sendirinya. Pernah salah tidak apa-apa kok, asal jangan keseringan. Kalau kita takut salah dan serba takut mengambil keputusan, sampai tahun dua juta juga kita nggak akan pernah mencoba sesuatu yang sebenarnya berpeluang dan menarik untuk dilakukan.

Panjang sekali cerpennya? Ini bukan cerpen, ini cerbung, cerita bersambung . Karena saya biasa menulis blog, jadi harap maklum kalau tulisannya panjang. Lagian salahnya sendiri kenapa dibaca, hehehe… Ini juga pengalaman pribadi, jadi dishare disini dengan harapan kalau ada kesalahan, rekan yang lain bisa menghindarinya. Jika ada yang bagus, bisa dicoba ditempat masing-masing.

Subsidi Investasi

Saat situasi krisis, fokus utama adalah survival. Bertahan hidup. Itu sebabnya saat briefing di Excellent pada bulan Februari dan Maret 2020 penekanan tindakan personal pada seluruh team adalah agar mengurangi dan jika perlu meniadakan pengeluaran yang tidak penting. Hal utama yang dilakukan adalah mengamankan dana emergency (darurat) masing-masing.

Secara prinsip, urusan Excellent sebenarnya urusan kantor. Dana emergency adalah urusan pribadi masing-masing staff. Meski demikian, Excellent juga menyadari, bahwa jika sisi personal dan keluarga staff mengalami kendala finansial, efek buruknya akan berimplikasi pada performa dan kinerja Excellent.

Biasanya saat briefing di hari Jumat setiap minggu, selalu ada sisipan mengenai pemahaman literasi keuangan pribadi.

Saat krisis, banyak saham-saham perusahaan yang terguncang. Sejak 2 tahun lalu kondisi bursa saham di Indonesia kondisinya tidak terlalu baik. Adanya gabungan masalah trade war, naiknya kurs US$ dan pandemi Covid-19 menyebabkan berbagai saham drop hingga lebih dari 50%. Dari sisi peluang, tentu saja ini peluang besar bagi yang ingin investasi saham, karena berbagai saham dengan fundamental bagus bisa didapatkan dengan harga relatif murah.

Meski sahamnya bagus dan harganya murah, kalau uangnya tidak ada bagaimana cara belinya? Meski sahamnya bagus dan harganya sudah murah, jika krisis makin lama dan harganya tambah murah apa nggak jadi tambah merugi?

Itu sebabnya muncul prinsip kedua. Jika ingin investasi terutama investasi saham, usahakan uangnya bukan uang yang hendak dipakai dalam waktu dekat. Apalagi uangnya hasil pinjam atau berhutang karena silau pada potensi keuntungan yang belum tentu bisa direalisasikan. Itu namanya mengundang bencana.

Agar team staff tetap berivestasi untuk masa depan mereka sekaligus tidak mengganggu kesiapan dana emergency, Excellent memberikan subsidi tambahan dalam bentuk subsidi investasi. Bentuknya berupa uang yang ditransfer ke RDN (Rekening Dana Nasabah) masing-masing. Nilainya tidak besar, disesuaikan dengan kemampuan Excellent. Meski nilainya tidak besar, masih bisa digunakan untuk membeli beberapa lot saham yang harganya dibawah 1000 rupiah.

Lho, saham apa yang harganya dibawah 1000 rupiah? Banyak kok. Saham-saham gorengan atau saham busuk bukan? Bukan, ini saham beneran. Bisa dilihat fundamental dan history-nya juga. Dan lagi, itu contoh saja. Kalau mau dibelikan saham lain yang harganya lebih tinggi juga tidak apa-apa.

Saya sampaikan bahwa saham itu sebaiknya dipilih untuk jangka panjang. Tidak perlu dilihat naik turun jangka pendek. Syukur-syukur bisa memberikan dividen rutin setiap tahunnya. Meskipun tidak besar tapi lama-lama bisa bertambah.

Karena asalnya dari subsidi Excellent, mereka tidak perlu khawatir rugi. Mengapa? Karena anggap saja itu uang nyasar. Kalaupun nilainya turun atau merugi sementara waktu, karena sumbernya uang nyasar tidak perlu disesali. Apalagi jika pilihannya benar-benar dicheck, turun naik dalam jangka waktu dekat akan memberikan pengalaman bagus buat membiasakan diri investasi jangka panjang.

Mengapa bentuknya harus saham? Bisa saja dalam bentuk lain, namun saya memilih saham sebagai bagian dari pembelajaran team. Bagaimana jika merugi, seperti heboh salah satu perencana keuangan yang rekomendasinya membuat nasabah rugi? Seperti tadi disampaikan, uangnya adalah hasil subsidi, jadi tidak ada yang perlu dirugikan selain Excellent sendiri.

Mengapa Excellent repot-repot menempuh jalan seperti itu untuk mendukung team internalnya? Karena Excellent ingin memastikan mereka tenang bekerja di Excellent. Bukan sekedar untuk masa lalu atau masa kini melainkan juga untuk masa mendatang.

Dan yang lebih penting lagi, karena saya pribadi pernah mengalami masa-masa suram saat tidak punya cadangan investasi masa depan kala menghadapi kondisi sulit. Dan saya tidak mau itu dialami oleh team yang bersama saya membangun Excellent. Anggaplah saya tidak mau deja vu untuk kedua kalinya Subsidi Investasi

Bisnis Masa Pandemi : Bisnis IT Aman-Aman Saja?

Ada beberapa kawan bertanya kabar pada saya, “Bagaimana situasi wirausaha saat situasi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini?”

Saya jawab, “Alhamdulillah, selama ini berjalan dengan baik”. Kami memang sempat bekerja dari rumah saat periode Februari sampai dengan kisaran akhir Juni 2020, namun secara bertahap sebagian mulai masuk bekerja awal Juli 2020.

“Enak ya kalau bisnis IT, nggak kena pengaruh pandemi Corona. Beda dengan bisnis pabrikan, manufaktur, mall, makanan, sekolah, salon, fitness, pasar dan lain-lain…”

Nggak juga. Pandemi Corona ini pengaruhnya besar sekali pada bisnis dan hampir tidak ada lini bisnis yang tidak terpengaruh. Benar, beberapa bisnis IT malah maju pesat, misalnya Zoom online meeting, yang mengalami pertumbuhan dahsyat. Contoh lainnya seperti bisnis webinar Jagaters pak JTO Joko Intarto, yang banyak menerima peluang bisnis dimasa pandemi. Juga bisnis layanan data. Layanan internet dan lain-lain.

Meski demikian, secara keseluruhan semua bisnis terkena imbas, tidak terkecuali IT. Di Excellent, ada beberapa klien yang mengajukan permohonan penundaan pembayaran. Ada juga yang memilih untuk berhenti berlangganan atau memilih mengelola sendiri layanan yang awalnya dikelola oleh Excellent.

Belum lagi fluktuasi dollar ke rupiah. Bisnis training offline/tatap muka yang harus dihentikan.

Lantas, jika demikian, bagaimana bisa survive disaat kena imbas pandemi seperti sekarang?

Pandemi ini belum ada ujungnya. Jadi kalau dikatakan survive juga masih jauh akhirnya. Hanya saja, hidup harus tetap berjalan. Bisnis harus tetap bertahan.

Saat akhir Desember 2019 dan awal Januari 2020, saat mendengar soal kabar pandemi Corona di China, kami sempat membuat simulasi implikasinya ke Excellent. Pada periode Januari dan Februari 2020 saat Corona semakin mendekat, kami membuat simulasi yang lebih real terkait dampak terhadap pendapatan Excellent, kemungkinan pengeluaran, implikasi kesehatan, implikasi layanan hingga terhadap mekanisme kerja.

Jauh sebelum itu, sejak 2013-2014 sebagai perusahaan kecil kami menyadari kerentanan usaha kami. Itu sebabnya langkah dan target utama yang diprioritaskan saat itu adalah meningkatkan cadangan kas Excellent, agar bisa tetap bertahan saat situasi sulit. Saat itu, kami tidak tahu contoh bentuk tantangannya berupa pandemi penyakit. Kami membayangkan situasi krisis seperti 1998 dan 2008.

Apapun bentuknya, karena sadar ancaman itu nyata, kami menabung setiap kelebihan rupiah yang didapatkan. Setelah digunakan untuk operasional kegiatan dan gaji team, sebagian besar dimasukkan kedalam cadangan kas untuk dana emergency.

Karena saya berlatar belakang keluarga petani dan pedagang, saya mengilustrasikannya seperti menyimpan padi di lumbung untuk menghadapi situasi paceklik. Isi lumbung boleh ditambah tidak boleh dikurangi. Boleh diambil tapi harus ada pengganti.

Kami juga menyisihkan persentase untuk menambah dana emergency dari setiap proyek pekerjaan yang dilakukan. Saya masih ingat saat membuat RAB (Rencana Anggaran Biaya), ada porsi persentase untuk pendidikan team dan porsi untuk dana cadangan darurat. Meski nilainya hanya beberapa persen, nilai itu bisa menambah kas secara perlahan.

Dana emergency itu yang bisa membantu menyeimbangkan keadaan saat situasi ekonomi tidak terlalu baik. Disisi lain kami juga sadar, jika padi di lumbung terus menerus diambil, satu waktu akan habis juga. Jadi saat awal 2020, kami ngobrol-ngobrol mengenai skenario yang mungkin timbul dan antisipasinya.

Di Excellent kami diajarkan prinsip “Weruh sak durunge winarah”. Arti harfiahnya kira-kira “Tahu sebelum sesuatu terjadi”. Maksud sebenarnya adalah perkiraan situasi, kira-kira apa yang bisa dilakukan jika hal A atau B atau C terjadi.

Saat itu diputuskan beberapa hal, antara lain :

  1. Mempertahankan klien dan layanan yang ada
  2. Membuka peluang layanan baru
  3. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pendidikan team
  4. Mematuhi anjuran pemerintah terkait upaya mengatasi pandemi (protokol kesehatan, PSBB, WFH dan sejenisnya).

Jadi langkah pertama adalah mengamankan dan mempertahankan klien yang ada. Responnya harus diperbaiki dan ditingkatkan. Kualitasnya diperbaiki. Kalau klien ngomel ditelan saja :-), apalagi kalau klien benar dan kami yang salah. Harus sacrifice. Harus rela berkorban. Jika situasi memaksa untuk bekerja diluar waktu, itu diterima sebagai bagian dari pengorbanan mempertahankan sumber pendapatan.

Saat PSBB, denyut kegiatan ekonomi menurun. Semua team bekerja dari rumah. WFH. Saat seperti ini banyak waktu luang. Waktu luang itu digunakan untuk ngoprek. Untuk membuka peluang sales. Menghubungi klien-klien prospektif. Kami gunakan juga untuk belajar ilmu baru. Pengetahuan baru. Menulis artikel dan buku. Membuat aplikasi baru, terutama aplikasi berbasis Software as a Services (SaaS).

Sebagian besar kegiatan itu tidak perlu pertemuan fisik. Bisa dikoordinasikan secara online. Kami berusaha mengubah keterbatasan kegiatan online menjadi berkah. Jika dulu meeting harus ketemuan, sekarang klien sudah cukup terbiasa meeting online. Bisa menghemat biaya transportasi dan waktu.

Saat sebagian bisnis sedang idle, Excellent berlangganan beberapa paket training online, kemudian meminta team untuk mengambil paket tersebut. Kesempatan waktu luang kami manfaatkan untuk belajar hal-hal baru dan menarik yang selama ini tidak sempat dilakukan.

Bisnis Masa Pandemi : Bisnis IT Aman-Aman Saja?

Kalau bicara mengeluh, tentu ada banyak alasan untuk mengeluh. Dan sudah cukup banyak yang mengeluh. Jadi lebih baik kami berusaha menyiasatinya. Dalam diam dan dalam senyap. Kadang saya saja yang gatal tangan menuliskannya di blog dan di FB.

Pandemi dan dampaknya terhadap bisnis itu hal nyata. Daripada menunggu segalanya berubah menjadi lebih baik, kami memilih untuk berusaha menyiasatinya dan mencari peluang untuk menjadikannya sebagai nilai tambah kekuatan.

Tentu prosesnya tidak mudah. Butuh pengorbanan. Klien yang pergi mungkin tetap ada, tapi yang datang juga ada. Jika dulu mungkin kami diam saja ada klien yang datang, saat ini jika perlu kami jemput bola.

Jika dulu kami cukup puas dengan hal standar, kedepannya kami berusaha agar klien tidak menyesal menggunakan layanan kami.

Situasi sulit juga bisa jadi blessing in disguise. Bisa mempererat kebersamaan dan kekeluargaan team. Bisa menjadi momen agar team bisa beristirahat lebih banyak dan lebih teratur yang pada gilirannya meningkatkan kualitas kesehatan mereka.

Saat pandemi, sebagian besar waktu pembayaran gaji dimajukan. Gaji utuh tidak dikurangi. Jika perlu ditambah agar bisa menjadi pemasukan tambahan untuk keluarga di rumah. THR dimajukan. Bahkan ada tunjangan baru berupa tunjangan investasi. Berarti pengeluaran tambahan? Iya, bukan hanya team yang diminta untuk berkorban. Excellent juga bisa berkorban agar teamnya selalu sehat dan bersemangat, karena banyak diantara mereka menjadi tumpuan pendapatan keluarga. Menjaga mereka pada hakikatnya menjaga Excellent juga. Menjaga kita semua.

Bisnis IT, sama halnya seperti bisnis lain, juga terdampak pandemi. Itu adalah kenyataan dan harus dihadapi. Tinggal bagaimana baiknya kita menyesuaikan, menyiasati dan mengatasi dampak negatifnya.

Saya selalu ingat salah satu bait syair Balada si Roy, yang menjadi favorit saya

Ya, akulah si pengembara
Terus bergerak ke cakrawala
Walau beribu kali tersungkur kenyataan
Jiwaku menolak kebuntuan jalan


Blue Ransel.

Eskalasi Masalah Email : mailbox unavailable invalid DNS MX or A/AAAA resource record

Beberapa hari yang lalu ada support ticket yang masuk ke Excellent. Pihak klien mengeluh bahwa mereka tidak bisa mengirim email ke pihak rekanan di Jerman dengan pesan error : “550-Requested action not taken: mailbox unavailable, 550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record”

Pihak klien berlangganan paket layanan SMTP Relay Excellent. Layanan ini berfungsi sebagai relay server, yang akan meneruskan email dari server klien ke tujuan.

Berdasarkan pesan error tersebut, team Excellent menginformasikan bahwa email di tujuan tidak ada (unavailable) dan pihak klien bisa menginformasikannya pada pihak rekanan.

Pihak klien bersikukuh bahwa email di tujuan ada dan baik-baik saja, karena jika dikirim via Gmail, emailnya bisa diterima. Atas dasar itu, saya membantu team support untuk melakukan investigasi lebih jauh dan meminta izin pada pihak klien untuk melakukan simulasi dan test ke tujuan email yang dimaksud.

MENGECEK MX RECORDS
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mencoba mengirimkan email via telnet. Jika menggunakan CLI, favorit saya adalah menggunakan telnet dan menggunakan aplikasi swaks. Untuk tahap awal saya menggunakan telnet karena sifatnya masih diagnosa.

Untuk melakukan telnet, saya harus mengetahui MX records domain tujuan. Nantinya saya akan melakukan telnet ke port 25 pada server yang tercantum dalam list MX records.

Saya bisa menggunakan website DNS check (misalnya https://dnscheck.id) namun karena saya sedang melakukan investigasi via CLI, saya menggunakan perintah CLI : dig.

dig namadomain.de mx

;; ANSWER SECTION:
namadomain.de. 3600 IN MX 10 mx01.namadomainserver.de.
namadomain.de. 3600 IN MX 10 mx00.namadomainserver.de.

Ada 2 MX records yang terdaftar dan masing-masing memiliki priority 10. Asumsi pertama saya adalah, jangan-jangan salah satu server bermasalah yang menjadikan error tersebut intermittent. Misalnya sebagian server berhasil berkomunikasi namun yang lainnya gagal. Sebagai contoh koneksi dari SMTP Relay Excellent gagal terhubung ke salah satu server yang bermasalah, sedangkan Gmail dan lain-lain berhasil terhubung karena koneksinya terhadap server yang tidak bermasalah.

Asumsi tersebut hanya dugaan dan harus diuji dengan mencoba mengirimkan email.

UJICOBA KONEKSI PORT PENERIMAAN EMAIL
Port SMTP ada bermacam-macam, misalnya port 465 untuk koneksi SMTP SSL dan port 587 untuk Submission port TLS. Namun, untuk penerimaan email, default portnya adalah port 25 dan saya bisa menggunakan telnet kemudian bicara dengan bahasa mesin ke server tujuan.

telnet mx00.namadomainserver.de 25

Trying 212.227.xx.xx…
Connected to mx00.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue011) Nemesis ESMTP Service ready

Pesan diatas menunjukkan bahwa port 25 disisi server tujuan terbuka dan server mereka siap menerima koneksi. Hal itu dinamakan dengan HELO. Jadi saya membalas pesan tersebut dengan perintah EHLO. EHLO adalah bahasa prokem dari HELO. Ini salah satu kebiasaan dari para ahli IT yang tidak mau repot-repot mencari istilah, hehehe…

ehlo namadomainserver.de

250-namadomain.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS

Baris diatas adalah pemberitahuan dari server setelah saya “kulonuwun” menjawab helo mereka dengan ehlo. Server memberitahukan bahwa mereka mendukung koneksi 8-bit karakter, dengan maksimum attachment 157286400 (150 MB) dan siap menerima koneksi dengan protokol secure TLS.

Setelah server tujuan menginformasikan hal tersebut, saya bisa mengirimkan email dengan menyebutkan email pengirim, email tujuan, subject dan isi email. Saya mulai dengan menyebutkan email pengirim :

mail from:namauser@perusahaan-indo.com

550-Requested action not taken: mailbox unavailable
550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record

Ternyata jawabannya langsung error, sama dengan pesan error yang disampaikan pihak klien.

Karena penasaran, saya coba sekali lagi dan hasilnya sama.

Berarti server mx00.namadomainserver.de gagal dihubungi. Saya mencoba ke server kedua, yaitu mx01.namadomainserver.de, ternyata hasilnya sama.

Kesimpulan pertama : Server tujuan memiliki konfigurasi yang sama dan keduanya sama-sama menghasilkan pesan error. Setelah ini, apa yang akan dilakukan? Premis atau asumsi kedua saya adalah, ada masalah dengan si pengirim. Jadi saya melanjutkan investigasi, kali ini menggunakan alamat email saya sebagai pengirim.

UJICOBA PENGIRIMAN EMAIL MENGGUNAKAN DOMAIN LAIN

Untuk keperluan ini, saya menggunakan perintah telnet yang sama.

telnet mx00.namadomainserver.de 25

Trying 212.227.xx.xx…
Connected to mx00.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue010) Nemesis ESMTP Service ready
ehlo namadomainserver.de
250-namadomainserver.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS

mail from:hosokawa.fujitaka@excellent.co.id

250 Requested mail action okay, completed

Berhasil. Ternyata menggunakan domain excellent.co.id berhasil lolos dari pengecekan server tujuan. Ada kemungkinan masalahnya benar disisi domain pengirim.

Untuk memastikannya, saya mencoba koneksi ke MX server kedua :

telnet mx01.namadomainserver.de 25

Trying 217.72.xx.xx…
Connected to mx01.namadomainserver.de.
Escape character is ‘^]’.
220 namadomainserver.de (mxeue110) Nemesis ESMTP Service ready
ehlo namadomainserver.de
250-namadomainserver.de Hello namadomainserver.de
250-8BITMIME
250-SIZE 157286400
250 STARTTLS

mail from:vavai@excellent.co.id
250 Requested mail action okay, completed

Hasilnya sukses kembali. Dari hal diatas, bisa disimpulkan kesimpulan awal sebagai berikut :

  1. Server tujuan valid dan tidak ada issue. Hal ini karena kedua server mereka memberikan respon yang sama
  2. Problem terjadi pada domain pengirim : namaperusahaan-indo.com karena jika mengirim email menggunakan domain excellent.co.id (atau domain lain yang normal) tidak ada kendala
  3. Jika merujuk pesan error : 550-Requested action not taken: mailbox unavailable 550 invalid DNS MX or A/AAAA resource record pesan ini kemungkinan besar bukan berarti alamat email tujuan tidak ada sesuai asumsi semula, melainkan adanya mekanisme pengecekan sender domain (biasanya sebagai bagian dari proteksi anti spam) dan domain namaperusahaan-indo.com gagal memenuhi kriteria ini, sedangkan domain excellent.co.id berhasil memenuhi kriteria

PENGECEKAN INTEGRITAS DNS
Berdasarkan hasil analisa point 3, saya melanjutkan investigasi dengan mencoba mengecek integritas DNS domain namaperusahaan-indo.com melalui alamat https://intodns.com dan menemukan hasil sebagai berikut :

MX A request returns CNAME WARNING: MX records points to a CNAME. CNAMEs are not allowed in MX records, according to RFC974, RFC1034 3.6.2, RFC1912 2.4, and RFC2181 10.3. The problem MX record(s) are: mail.namaperusahaan-indo.com points to [‘namaperusahaan-indo.com’] This can cause problems

Hasil pengecekan diatas membuktikan premis tersebut, menunjukkan bahwa ada kesalahan konfigurasi DNS untuk domain namaperusahaan-indo.com dimana seharusnya MX records merujuk pada nama yang ditranslasikan ke A records.

Pada kasus domain klien namaperusahaan-indo.com, MX records benar merujuk pada nama mail.namaperusahaan-indo.com namun nama mail.namaperusahaan-indo.com merujuk pada alias (cname) dari namaperusahaan-indo.com.

Kemungkinan besar hal diatas terjadi karena email namaperusahaan-indo.com menggunakan layanan email hosting bagian dari web hosting dan pihak ISP mengambil cara mudah melakukan setting MX menggunakan alias name. Hal ini tidak sesuai RFC dan kaidah konfigurasi mail server.

Sesuai RFC 1912 : [RFC 1034] in section 3.6.2 says this should not be done, and [RFC
974] explicitly states that MX records shall not point to an alias
defined by a CNAME. This results in unnecessary indirection in
accessing the data, and DNS resolvers and servers need to work more
to get the answer
.

Referensi : https://tools.ietf.org/html/rfc1912

SOLUSI

Sebagai solusi, saya meminta pada pihak klien untuk menghubungi ISP hosting mereka dan menyesuaikan isian records mail.namaperusahaan-indo.com dari awalnya CNAME terhadap namaperusahaan-indo.com menjadi A records

$ nslookup mail.namaperusahaan-indo.com

Server: 127.0.0.53
Address: 127.0.0.53#53
Non-authoritative answer:

mail.namaperusahaan-indo.com canonical name = namaperusahaan-indo.com.

Name: namaperusahaan-indo.com

Address: 203.201.XXX.XXX

Berikut adalah contoh permintaan penggantian records DNS tersebut :

/*Hi NOC ISP

Mohon dapat dilakukan penggantian/penyesuaian records DNS pada domain kami namaperusahaan-indo.com untuk records mail.namaperusahaan-indo.com sebagai berikut :

Sebelumnya

mail.namaperusahaan-indo.com IN CNAME namaperusahaan-indo.com

Menjadi

mail.namaperusahaan-indo.com IN A 203.201.XXX.XXX

Jika sudah dilakukan, harapa menginformasikannya kepada kami agar dapat kami check dan validasi kembali.

*/

Setelah pihak ISP melakukan pengubahan, pihak klien bisa melakukan pengetesan apakah error seperti yang ditunjukkan pada : https://intodns.com masih ada atau sudah diperbaiki.

HASIL AKHIR
Setelah dilakukan penyesuaian MX records oleh pihak ISP hosting klien, saya melakukan testing ulang dengan telnet port 25. Hasilnya, domain klien mendapat pesan sukses :

250 Requested mail action okay, completed

Setelah mengkonfirmasi hasil tersebut di kedua server MX tujuan, saya menginformasikan kembali pada pihak klien mengenai hasil akhir dan meminta mereka melakukan pengiriman email dengan di cc-kan ke alamat team support Excellent.

Hasil pengiriman email dari pihak klien mendapat balasan dari rekanan mereka di Jerman bahwa email berhasil diterima dengan baik.

Mission accomplished.

CATATAN :
Sebagai email services provider (ESP), Excellent menyediakan layanan lengkap terkait email sebagai berikut

  1. Layanan Excellent Managed Services Mail Server : https://www.excellent.co.id/vps
  2. Layanan SMTP Relay : https://www.excellent.co.id/smtp
  3. Layanan Anti Spam dan Anti Virus : https://www.excellent.co.id/asav
  4. Layanan SSL
  5. Layanan lisensi email server berbasis Zimbra
  6. Dan lain-lain

Bisnis Daratan Bisnis Langitan : Nest Egg

Pernah ada yang bertanya pada saya, sebenarnya apa yang saya lakukan untuk membiayai hidup? What do you do for a living?

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, pekerjaan utama saya berkaitan dengan IT. Membangun perusahaan kecil di tahun 2011 dengan nama PT. Excellent Infotama Kreasindo (https://www.excellent.co.id). Fokus utama Excellent adalah layanan IT mengenai mail server dan cloud.

Lantas, kok kadang ada posting soal saham, reksadana, pertanian dan peternakan?

Itu bagian dari ikhtiar sekaligus pembelajaran. Usaha yang dilakukan sebagai varian sekaligus agar ada kegiatan yang tetap bisa mengasah pemikiran dan gerak badan.

Soal saham dan reksadana misalnya. Saya mulai mempelajarinya di kisaran tahun 2013-2014. Saya belajar reksadana setelah membaca bukunya Ligwina Hananto, “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk tidak Miskin”. Coba, gimana nggak seneng, kamu cukup 100 langkah dan tidak miskin lagi, hehehe…

Buku itu memuat inspirasi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki mental, pemikiran dan mekanisme keuangan kita agar bisa lebih baik. Agar bisa menjadi kelas menengah yang kuat dan pada akhirnya membuat Indonesia jadi kuat.

Mungkin ada beberapa tips yang tidak relevan jika diterapkan dengan kondisi saat ini karena buku itu sendiri diterbitkan pada tahun 2010. Beberapa waktu yang lalu-kisaran tahun 2014-juga ada berita terkait saran-saran yang diberikan (hint : Perencana Keuangan : Panen Mas), namun disisi saya pribadi, saya mendapat beberapa pencerahan setelah membaca buku itu.

Setelah belajar otodidak tentang reksadana, kemudian saya mulai belajar untuk investasi saham hingga terus berlanjut sampai sekarang.

Karena menyenangi kegiatan bertani dan beternak, saya juga mencoba usaha dibidang pertanian dan peternakan. Ada yang gagal dan ada yang berhasil. Lumrah karena ada yang kurang persiapan dan ada juga yang kurang memperhitungkan anggaran biaya dan estimasi pemasukan. Meski demikian, semuanya menjadi pengalaman yang baik dan menjadi pembelajaran untuk langkah selanjutnya.

Adakalanya kita terpaku pada satu hal saja. Itu bukan hal yang salah, karena berarti kita fokus pada satu hal tertentu. Meski demikian, membuka varian kegiatan lain juga tidak ada salahnya sepanjang bisa dikelola dengan baik dan tidak grusa-grusu.

Bagaimana caranya menyeimbangkan satu kegiatan dengan kegiatan yang lain? Seorang kawan di Bandung pernah punya pengalaman buruk mengenai owner perusahaan tempat ia bekerja. Owner perusahaan itu membangun usaha lain dengan modal dari perusahaan awal. Sayangnya, tindakannya itu tidak terkontrol karena perusahaan awal menjadi sapi perah untuk perusahaan yang sedang ia bangun.

Buruknya adalah, perusahaan yang dijadikan sapi perah menjadi berantakan pengelolaannya. Gaji karyawan kerap tertunda karena pendapatan tersedot untuk membiayai perusahaan baru. Akibatnya turn over karyawan menjadi tinggi dan hanya soal waktu hingga akhirnya perusahaan awal tersebut merana dan mati. Owner perusahaan beberapa kali mendapat penghargaan sebagai bisnisman sukses atau wirausahawan sukses, tapi ia mendapat penghargaan diatas puing-puing dan diatas kekecewaan para karyawan.

Di bidang pertanian, kita mendapat pembelajaran yang baik mengenai hal itu dengan melihat skema pencangkokan. Ada pohon buah yang bagus, dengan daun tumbuh subur, rimbun dan berbuah lebat. Karena sangat menarik, pemilik pohon mencangkok batang-batangnya. Jika hanya satu dua cangkokan sebenarnya tidak masalah. Ini analoginya membiayai perusahaan baru yang prospektif dengan sebagian kecil biaya dengan tetap memperhitungkan overhead cost dan keberlangsungan usaha perusahaan induk atau perusahaan awal.

Namun hal sebaliknya terjadi. Karena ingin mendapatkan hasil cepat, pohon buah itu dicangkok hingga puluhan posisi. akibatnya pohon buah itu jadi merana karena terlalu banyak pengeluaran (pendarahan usaha) sedangkan pemasukan sifatnya tetap atau malah berkurang. Akibatnya cangkokan yang diniatkan untuk memperluas kesuksesan malah berakibat matinya pohon induk.

Itu adalah 2 pembelajaran yang selalu saya ingat : pertama, jangan sukses diatas kekecewaan pihak lain, apalagi karyawan sendiri dan kedua, jangan mematikan usaha utama saat mengembangkan usaha pendukung.

Dari sisi pribadi, bagaimana sih proses agar kita bisa menyiasati kesulitan menjadi peluang? Bagaimana sih memulai usaha saat kita sedang bekerja? Bagaimana sih meningkatkan pendapatan sedangkan kita sendiri kesulitan memenuhi kehidupan sehari-hari?

Semuanya butuh proses dan tidak instant. Harus tekun dan tidak mudah menyerah. Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut adalah langkah-langkah yang bisa menjadi awalan untuk memulainya :

  1. Melunasi Hutang

Sebelum bicara yang lain-lain, lunasi dulu hutang, apalagi jika hutang itu sudah cukup lama. Memang ada juga yang memulai usaha dengan cara berhutang, namun karena saya tipikal konservatif dan pernah merasakan bahayanya hutang, jauh lebih baik jika kita melunasi hutang terlebih dahulu.

Saya masih ingat, merasa dimudahkan dalam berusaha dan mendapat peluang usaha yang menarik setelah saya melunasi hutang rumah KPR di bank. Ceritanya bisa dibaca di blog saya dengan judul “Melunasi Hutang”.

Bagaimana kita bisa memulai usaha jika sarannya justru harus melunasi hutang, padahal tidak ada modal usaha? Prosesnya bagi saya memang demikian. Mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang kita lakukan, mengurangi dan melunasi hutang dan baru kemudian pelan-pelan menabung dan memulai usaha.

Sebagai contoh misalnya begini. Dulu saya bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji pas-pasan. Meski pas-pasan, saya berusaha untuk menabung. Sebagian untuk masa depan anak saya dan sebagian untuk tabungan saya dan isteri.

Dari gaji sekitar 3.5-4 juta rupiah saat itu, saya usahakan bisa menabung 1-1.5 juta rupiah per bulan. Apakah mudah? Tentu saja sulit, karena saya harus membayar cicilan rumah yang nilanya sekitar 2.5 juta rupiah per bulan.

Bagaimana caranya bisa ada sisa untuk biaya berangkat dan pulang kerja jika total pengeluaran saja sudah menghabiskan seluruh gaji? Jawabannya adalah memanfaatkan waktu luang saat hari libur.

Saya masih ingat, karena saya senang menulis dan pekerjaan saya dibidang IT, saya menulis artikel untuk majalah Infolinux (cc pak Rusmanto Maryanto) dan saya mendapat honor dari tulisan saya. Karena saya senang menulis, saya membuat blog dan melakukan monetisasi dalam bentuk Google Adsense. Saya menulis review (dulu setiap review bisa mendapat minimal 5$). Saya membuat target pencapaian penghasilan sampingan, misalnya di awal-awal saya berusaha mendapatkan 50-100 ribu rupiah.

Kecil sekali? Memang kecil, karena saya tipikal orang yang realistis. Tidak realistis jika saya langsung berasumsi dapat penghasilan besar dari kegiatan sampingan. Seiring waktu, saya bisa berusaha mendapatkan tambahan dan target itu bisa ditingkatkan.

Saya menulis artikel, membuat review, menulis blog, mengajar training dan freelance mengerjakan setup server. Semua dilakukan disela-sela waktu kerja. Harus aktif dan produktif. Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya. Kalau mau hidup senang ya harus usaha. Nggak bisa manja dan nggak bisa pingin yang mudah terus. Absurd.

Dari penghasilan tambahan itu saya bisa punya ruang gerak. Minimal misalnya untuk menabung saya tidak perlu mengambil dari uang gaji. Untuk membayar biaya internet saya tidak perlu pakai uang gaji.

Setelah punya ruang gerak, saya pisahkan pendapatan tambahan menjadi 2 bagian. Sebagian digunakan untuk mengurangi hutang dan sebagian lain digunakan untuk ide usaha.

Misalnya saya tiap bulan mendapat tambahan penghasilan 500 ribu sd 1 juta rupiah, itu saya gunakan untuk menyewa server. Saya bisa membuka layanan managed hosting. Jadi saya bisa membeli 1 buah VPS server yang kemudian saya sewakan ke beberapa orang. Mirip seperti kontrakan namun ini sifatnya online dan terkait IT.

Jadi dari penghasilan tambahan digunakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan. Ini yang namanya nest egg. Penghasilan yang bisa menghasilkan.

Bagaimana jika saya bukan orang IT? Apakah bisa punya nest egg? Tetap bisa, karena tinggal disesuaikan saja.

Misalnya saya punya sisa uang 200-300 ribu rupiah dari gaji atau dari penghasilan lainnya. Uang itu saya gunakan untuk membeli ayam pitik atau ayam DOC (Day Old Chicken). Saya besarkan seperti membesarkan anak sendiri (ini mah iklan kecap hehehe). Nantinya ayam itu besar dan bisa menghasilkan daging atau telur.

Bagaimana jika ayamnya mati sebelum besar? Ya usaha menjaga kelangsungan hidup si ayam. Ini yang saya maksud sebagai pembelajaran. Jika gagal usaha ayam, bisa beralih ke usaha lain. Bagaimana jika saya tinggal di kontrakan atau di perumahan? Nggak bisa beternak ayam karena bau dan mengganggu sekitar. Ya beralih. No retreat no surrender. Jangan menyerah. Bisa browsing ke Tokopedia atau Bukalapak. Cari usaha dropshipper. Bisa jadi peluang usaha jualan tanpa modal besar.

  1. Berdoa untuk Perbaikan Kehidupan

Ini mungkin harusnya jadi point pertama. Berdoa untuk perbaikan kehidupan itu mudah, tapi kadang kita lupa melakukannya. Kadang kita merasa lebih tahu dari yang maha kuasa.

“Yah, mau gimana ya. Sepertinya hidup saya sudah sedemikian sulit dan nggak ada jalan keluar”. Lha, memangnya kita ini sang maha pencipta, kok jadi mendahului takdir?

Bosan hidup susah boleh saja. Merasa tidak ada jalan keluar juga sebenarnya kondisi yang masuk akal, tapi justru itu harusnya menjadi dorongan untuk berdoa demikian kebaikan diri dan keluarga kita.

Agak dilematis juga bagi saya jika menulis yang terkait dengan kepercayaan dan religi, karena nanti kesannya saya seperti ustadz, padahal saya masih orang kebanyakan pada umumnya, yang “al imanu yajidu wa yanqusu”, yang kadar imannya masih turun naik. Meski demikian, saya tidak menafikan hal tersebut karena bagi saya, setelah kita berusaha, tidak ada salahnya disertai dengan doa. Soal setuju atau tidak, saya serahkan pada masing-masing yang membaca tulisan ini.

Kadang saya juga membaca komentar, misalnya soal riba, soal “Gak mungkin lah jaman sekarang ini menghindari riba” atau “Gak mungkin lah jaman sekarang ini lurus-lurus saja”, ya iyalah namanya manusia kita nggak mungkin lurus-lurus saja, tapi kan juga adalah hal yang wajar kita belajar dan berusaha mengurangi kesalahan. Saya pribadi berprinsip, kalau tidak bisa sepenuhnya, minimal bisa mengurangi. Kalaupun tidak bisa 100%, minimal ada usaha kearah perbaikan.

  1. Mulai dari Hal Kecil dan Sederhana
    Seperti saya sampaikan diatas, saya termasuk tipikal yang menghargai proses dan tidak percaya hal instant kecuali mie instan Bisnis Daratan Bisnis Langitan : Nest Egg

Saya tidak bisa punya usaha karena butuh modal. Ya pasti bisa, karena kan modal itu tidak mesti besar. Kalau modal tidak besar, kita bisa tergilas persaingan. Ya nggak lah, kan kita bisa menarget ceruk pasar yang nilai modal menjadi tidak relevan.

Modal kerja Excellent tidak sebesar perusahaan lain yang sudah well established, tapi kan saya bisa fokus pada pendekatan dan aspek personal.

Saya sebagai klien pingin berhubungan dengan perusahaan besar yang sudah menangani banyak perusahaan besar. Ya tidak apa-apa, tapi nanti bapak jadi salah satu klien diantara klien-klien mereka. Di kami, karena kami masih kecil, bapak selalu menjadi klien istimewa. Selalu menjadi prioritas.

Selalu ada nilai lebih yang bisa kita miliki dan kita jadikan nilai tambah.

GImana kalau mau usaha tani kecil-kecilan, kan harga tanah mahal. Ya iyalah, kalau mau usaha tani di perkotaan, modal untuk tanahnya pasti mahal. 1 meter persegi sudah jutaan, bahkan bisa belasan atau puluhan juta rupiah. Kenapa nggak coba sekalian beli tanah di kawasan Sudirman atau Glodok untuk menanam pisang, ya absurd dong ah.

Uang 10 juta rupiah mungkin hanya bisa mendapat tanah 1-2 meter persegi di kota, tapi bisa dapat tanah yang lebih luas di pedesaan.

Kalau dipedesaan, siapa yang mengurus? Pedesaan di Bekasi atau Karawang nggak terlalu jauh kok. Bisa dicapai kurang dari 2 jam.

Bagaimana kalau tertipu, beli tanah atau sawah yang suratnya tidak jelas? Ya berusaha agar lebih teliti dan waspada. Cari tahu dari orang yang lebih tahu. Check silang ke beberapa pihak.

Kalau nggak punya waktu untuk mondar-mandir, bagaimana? Cari orang yang bisa dipercaya untuk mengurusnya. Selalu ada jalan dan jawaban kalau kita mau berusaha.

Kok selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan? Dukun ya? Ya bukan lah. Kan diatas itu skenario. Kalau punya skenario, pasti punya jawaban dan solusi karena kan saya menulis berdasarkan pengalaman juga.

Ada cerita soal katak yang direbus air panas. Jika katak tersebut langsung kena air panas, dia akan reflek meloncat. Jika dia terkena air dingin, kemudian berubah jadi suam-suam kuku, hangat hingga akhirnya panas, katak tersebut bisa mati direbus air panas karena ia terlena dibelai air hangat.

Ceritanya terkesan sadis, siapa juga yang mau merebus katak. Moral story-nya adalah kita jangan jadi katak yang terlena oleh waktu dan keadaan. Saat hendak meloncat dari keadaan yang tidak menyenangkan, segalanya sudah terlambat dan tidak bisa diperbaiki.

Jangan membiarkan diri kita terlalu santai, padahal kita tahu situasinya berbahaya. Jangan menunggu segalanya terlalu terlambat.

  1. Membangun Nest Egg

Jangan berhenti untuk puas pada diri kita setelah kita mendapatkan pekerjaan yang menarik dan berpenghasilan besar. Jangan berhenti saat kita sudah bosan berusaha dan kehidupan masih begitu-begitu saja. Sempatkan untuk berhenti sejenak, merenung dan melakukan review internal.

Jika kita selama ini sudah cukup puas dengan penghasilan yang cukup besar, coba simulasikan seandainya penghasilan itu tiba-tiba berhenti. Apakah kita sudah punya jaring pengaman sosial pribadi? Apakah kita masih bisa memiliki pendapatan?

Perlahan mulai bangun nest egg. Penghasilan yang disimpan atau diinvestasikan yang bisa menghasilkan penghasilan lain.

Uang hasil honor tulisan bisa saya belikan bibit ayam petelur. Saat besar, ayam petelur itu menghasilkan telur sekaligus bisa menjadi pedaging saat afkir. Itu bentuk contoh nest egg sederhana.

Meski namanya nest egg tidak harus selalu berupa telur. Nest egg itu istilah saja.

A nest egg is a substantial sum of money or other assets that have been saved or invested for a specific purpose. … The term is believed to have been derived from poultry farmers’ tactic of placing eggs—both real and fake—in hens’ nests to induce them to lay more eggs, which meant more income for these farmers.

Saya punya gaji dari pekerjaan IT saya. Setelah dikurangi pengeluaran keluarga, saya punya sisa yang bisa ditabung atau diinvestasikan. Saya investasikan ke Obligasi pemerintah (ORI/Sukuk/SBR), saya bisa mendapat kupon penghasilan. Itu namanya nest egg.

Sisa uang saya investasikan disaham dan menghasilan dividen saham, itu namanya nest egg.

Iya, saya dapat dividen tapi hanya beberapa ribu atau puluh ribu saja. Tidak apa-apa, mulai dari hal kecil dan sederhana. Dividen itu didapatkan tanpa meninggalkan pekerjaan kita. Seiring penambahan jumlah saham, nilai dividen bisa semakin besar.

Saya mengumpulkan sisa penghasilan. Setelah cukup memadai, saya belikan tanah 50 atau 100 meter di kampung. Saya tanami pisang agar tidak terlalu repot bolak balik mengecek. Selama setahun, pisang berbuah beberapa kali. Kalau dirupiahkan menghasilkan sekian ratus ribu rupiah. Tidak apa-apa, karena itu dividen dari tanah atau lahan. Nilai tanah atau lahannya kan tetap.

Wah saya repot kalau harus mengurus ternak atau lahan pertanian. Cari opsi lain. Kan ada jenis investasi lain. Takut tertipu? Cari tahu, lakukan riset. Check silang.

Wah saya nggak percaya invest di Indonesia, banyak kasus fraud. Ya pelajari dengan baik, jangan silau pada keuntungan besar sesaat. Kalau riset kan butuh pengalaman? Nggak juga, kan judulnya saja riset, padahal yang dilakukan hanya searching di Google mengenai pengalaman orang lain.

Buka wawasan, buka pemikiran. Saat membaca, imbangi bacaan ringan kita dengan bacaan yang membuka wawasan dan memberi inspirasi. Jika membuka Youtube, imbangi video yang dilihat dengan video yang memberikan nilai manfaat wawasan selain hiburan semata. Saat menonton film, pilih film yang bisa memberikan nilai tambah, bukan sekedar film yang lewat sepintas saja.

Wah saya repot kalau harus mengerjakan hal ini hal itu. Kalau begitu, ya terima nasib saja jangan mengeluh, hehehe…

Karena kita punya tanggung jawab pada hidup dan penghidupan kita. Kita punya tanggung jawab untuk terus berusaha agar kita bisa memperbaiki kualitas kehidupan kita.

Jika kita hidup senang, kita juga yang akan menjalani dan menikmatinya.

Ikhtiar Berkebun Pisang

Pekerjaan saya sehari-hari berkaitan dengan IT. Hobby saya membaca buku, traveling dan bertani. Sebagai pengimbang pressure pekerjaan dibidang IT, saya memilih bertani dan beternak.

Diantara sekian banyak tanaman buah dan sayuran, tanaman pisang yang menjadi pilihan saya. Saya jadi ingat cerita orang yang percaya pada peramal, “Kamu cocok bisnis yang berkaitan dengan air”. Bisa jadi dia bisnis kolam renang atau air isi ulang atau jual air mineral atau malah bisnis dibidang perikanan atau akuarium.

Saya pernah merasa antara mimpi dan ngelindur (hehehe…) mendapat pesan bahwa pisang bisa cocok sebagai usaha saya.

Saya jadi ingat saat saya bertemu dengan salah seorang rekanan prinsipal di sebuah tempat makan di Pacific Place Jakarta. Sementara mereka memilih makanan ringan yang kebanyakan berasal dari kentang, saya dengan mantap bertanya pada pelayannya, “Kalau pisang goreng ada?”.

Baik rekanan prinsipal maupun pelayan agak tersenyum simpul. Mungkin mereka ngikik, “Ini orang kampung mana sih, kok pesan pisang goreng disini…”

Padahal, saya tidak peduli soal nama. Kamu sebut namanya pisang goreng ataupun banana fritters atau nama apapun, silakan saja. Kalau memang ada, kan saya bisa pesan itu.

Karena tidak ada pisang goreng, akhirnya saya pesan yang lain. Setelah pelayan pergi, rekanan prinsipal bertanya, “Pak Vavai suka pisang goreng ya?”

Mas Arif Rahman yang menemani saya saat itu menjawab, “Pak Vavai punya perkebunan pisang bu…”

Hahaha, jawabannya kayak jawaban crazy rich, padahal kebunnya cuma secuil.

Kalau dalam konteks fakta dan ilmiah, pisang menjadi pilihan karena hal-hal sebagai berikut :

  1. Karena saya suka pisang
    Saya suka berbagai olahan pisang. Pisang rebus, pisang goreng, pisang sale, pisang buah dimakan langsung, kue pisang, bolu pisang dan lain-lain.

    Jika saya suka pisang, logikanya ada orang lain di Indonesia atau di dunia ini yang juga suka pisang. Secara bisnis berarti ada peluang, hehehe.
  1. Karena tidak harus ditunggui setiap hari
    Perawatan pohon pisang bisa dilakukan seminggu atau 2 minggu sekali. Berbeda dengan sayuran yang mungkin perlu perawatan lebih rutin.
  1. Banyak yang berguna dari pohon pisang
    Saat menjadi Pramuka, saya selalu diajari bahwa tunas kelapa menjadi lambang Pramuka karena kelapa bermanfaat dari ujung sampai pangkalnya. Nah selain kelapa, pisang juga punya banyak manfaat, yaitu :
    – Buahnya, untuk dimakan langsung ataupun diolah
    – Daunnya untuk pembungkus makanan, pepes dan lain-lain
    – Jantung pisang (terutama jantung pisang batu dan pisang kepok) bisa dijadikan sayur
    – Kulitnya untuk pakan ternak
    – Gedebongnya bisa untuk campuran pakan ternak atau untuk pupuk atau campuran untuk habitat ternak belut. Saya pernah nonton series falvorful origin di Netflix, di Yunan China, bagian dalam gedebong pisang bisa dijadikan sayur
  2. Reproduksi mudah. Kalau sudah tanam dan indukannya bagus, anakannya bisa jadi calon indukan. Tidak perlu invest anakan lagi. Lahan milik sendiri bisa memproduksi anakan pisang untuk bibit.

    Adik saya Qchen sudah biasa membuat bibit pisang menggunakan tunas dari bonggol. Meski daur hidupnya jadi lebih lama tapi prosesnya bisa perbanyak dan mudah direproduksi.
  1. Padat karya. Melibatkan banyak pihak
    Sesuai prinsip di Excellent, kita hendaknya menjadi angin musim semi bagi orang lain dan bagi masyarakat. Usaha yang dilakukan sedapat mungkin memberikan nilai manfaat bagi orang lain atau lingkungan sekitar.

    Mulai dari persiapan bibit, membersihkan lahan, menggali lubang tanam, penanaman, pemupukan, perawatan, penyiraman hingga saat panen dan penjualan bisa melibatkan banyak orang. Tiap tahap itu bisa menjadi sumber penghasilan dan penghidupan semua yang terlibat

Berkebun pisang bukannya tanpa resiko. Sama seperti usaha lain, selalu ada resikonya, antara lain :

  1. Kena banjir berhari-hari
    Lokasi lahan di Karawang dekat kali Citarum, jadi kerapkali kebanjiran saat kali Citarum meluap. Awal tahun 2020 kali Citarum sempat meluap dan menggenangi kebun selama 2 hari. Semua tanaman sayur dan padi di sekitar kebun yang masih muda musnah diterjang banjir.

    Untuk pohon pisang yang sudah berdiri (sudah permanen) selamat karena banjirnya lekas surut. Malah jadi blessing in disguise, karena luapan lumpur sungai menjadi pupuk
  1. Kena penyakit/hama tanaman. Terutama penyakit layu pucuk/fusarium. Kalau kena penyakit ini, pohon pisang mati layu sebelum berbuah bahkan saat berbuah saja bisa mati daunnya kuning dan layu
  2. Harga jual jatuh
    Banyak yang membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) usaha kebun pisang dengan mendasarkan pada estimasi pendapatan mengacu pada harga pisang di mall atau toko buah. Padahal hingga pisang sampai ke toko buah tentu melewati beberapa proses.

    Jika harga 1 sisir pisang mas kirana di toko buah seharga 40 ribu rupiah, bisa jadi harga di kebun hanya setengahnya. Karena ada estimasi pembagian keuntungan di pedagang perantara maupun perhitungan biaya transportasi.

    Itu sebabnya saya niatan buat belajar membuat sale pisang, keripik pisang, mendatangkan mesin pemotong keripik+perajangan dan mesin penghancur gedebong dan tangkai buah pisang untuk pupuk sebagai antisipasi jika produksi panen berlimpah.

Kalkulasi saya dalam ikhtiar berkebun pisang sebenarnya sederhana. Misalnya pisang diatur dalam jarak tanam 2 X 2 meter (normalnya 3X3 meter, di saya menggunakan skema 2 X 3 meter), maka dalam 100 meter lahan logikanya bisa mendapatkan 25 batang pohon pisang (asumsi ditanam sampai pinggir lahan).

Berarti 1 rumpun pohon pisang bertanggung jawab untuk Break Even Point (BEP) untuk 4 meter persegi lahan. Jika harga lahan misalnya 250 ribu rupiah per meter (supaya lebih mudah kalkulasi), maka 1 rumpun pohon pisang harus menanggung biaya lahan sebesar 1 juta rupiah, belum termasuk biaya tanam dan perawatan.

Anggaplah 1 sisir pisang harganya 20 ribu rupiah dan 1 tandan buah pisang rata-rata sebanyak 5 sisir, maka dari 1 tandan buah pisang hasilnya adalah 100 ribu rupiah. Berarti untuk BEP lahan, perlu panen 10X baru bisa BEP lahan, diluar biaya tanam dan perawatan.

Saat pertama kali tanam, bibit pisang akan butuh waktu sekitar 8-12 bulan untuk berbuah dan panen. Waktunya bisa lebih lama jika bibitnya berasal dari bibit bonggol yang lebih kecil. Tapi untuk berikutnya, masa panen akan lebih singkat, karena dalam 1 rumpun ada banyak anakan pisang. Kita bisa atur agar ada pergiliran. Saat 1 pohon sedang berbuah, pohon lain sudah siap-siap menyusul dan ada juga pohon remaja/anakan

Dalam 1 rumpun disisakan 3-4 pohon saja. Misalnya diatur sebagai berikut :

  1. Pohon berbuah
  2. Pohon muda siap berbuah
  3. Pohon remaja
  4. Pohon anakan

Sambil menunggu berbuah dan sambil merawat kebun, kita bisa juga menjual bibit anakan pisang dan menjual daun pisang

Bisa juga membuat kolam ikan di tengah kebun, sebagai sumber air sekaligus memberantas nyamuk, menghindari air tergenang, menampung dan menyimpan air lebih sekaligus untuk untuk pelihara ikan.

Angka-angka diatas memang kalkulasi kasar dan disederhanakan, hanya sebagai gambaran biaya dan pemasukan jika memiliki niat berkebun pisang.

Bonus : Suasana kebun pisang Akhir Juni 2020 Ikhtiar Berkebun Pisang