Posts in Category: Family & Personal

Pengalaman Saat Sakit : Keluarga, Sahabat dan Bagaimana Jika…

Saat saya sakit menjelang akhir Desember 2020, saya memberikan briefing pada team Excellent di hari Sabtu, 26 Desember 2020. Briefing dilakukan secara online dan semua team bisa mengikutinya.

Briefing itu untuk mengabarkan mengenai soal sakitnya saya dan mamanya Vavai Vivian, delegasi pekerjaan di Excellent dan juga mengenai tindakan yang harus dilakukan di internal Excellent.

Hari Sabtu biasanya libur dan saya jarang sekali meminta seluruh team berkumpul di hari libur, jadi jika sampai itu dilakukan, berarti memang kriterianya sangat penting.

Disitu saya sempat menyampaikan pesan, “Mumpung saya masih bisa bicara dan memberikan pesan…”, karena memang saya sendiri tidak tahu apakah bisa melewati kondisi sakit tersebut atau tidak. Kondisi yang saya rasakan berat sekali jadi saya harus siap kemungkinan terburuk dan sedapat mungkin memberikan pesan yang jelas selagi saya harus fokus pada upaya pemulihan kesehatan.

Banyak orang yang mungkin denial (menyangkal) atau malah menganggap sepele situasi saat ini, namun jika mengalami sakit dimasa pandemi seperti ini, sakit apapun itu, sebaiknya menyikapinya dengan serius dan jangan mengabaikan sinyal pesan dari tubuh.

Kita bisa menyangkal dan menganggap semuanya baik-baik saja, padahal bisa jadi hal itu kita lakukan karena kita takut jika yang kita khawatirkan malah terbukti. Contoh sikap seperti itu saya tuliskan disini : https://www.vavai.com/takut-swab-pcr-rapidtest-antigen/

Setelah masuk rumah sakit dan menjalani perawatan, banyak pikiran berkecamuk dibenak saya. Karena saya dan Dear Rey dirawat, kemudian disusul oleh mbah kakungnya Vavai Vivian, saya risau memikirkan bagaimana kondisi Vavai Vivian dan bagaimana kondisi psikologis mereka.

Awalnya saya menyampaikan kondisi yang membesarkan hati pada mereka. Namun setelah berjalan beberapa waktu saya menyadari, meski Zeze Vavai baru kelas 3 SMP dan Vivian kelas 5 SD, mereka cukup memahami situasi. Jadi berikut-berikutnya saya menyampaikan kondisi riil pada mereka, sambil tetap menyampaikannya dalam kata-kata semangat dan mengambil sisi baik dari apa yang dialami.

Misalnya saat video call, saya minta Dear Rey jangan sambil tiduran. Usahakan sambil duduk dan tampilkan wajah cerah. Karena saat yang sakit berjuang untuk pemulihan, anak-anak di rumah juga mengkhawatirkan kondisi orang tua/keluarganya.

Alih-alih bilang, “Ibu/Papap makannya sedikit…”, lebih baik menggunakan bahasa diplomatis, “Hari ini ibu/papap makan lebih banyak dari kemarin”.

Kalau makannya lebih sedikit dari kemarin, bisa bilang : “Ibu/Papap hari ini bisa makan biskuit dan buah selain makan nasi…”.

Jadi selalu gunakan kalimat-kalimat penyemangat. Ini bukan dengan maksud berbohong melainkan menyampaikan fakta yang sama namun dengan sudut pandang berbeda.

Meski masih perusahaan kecil, saya juga punya tanggung jawab di Excellent. Ada sekitar 20 orang staff di Excellent. Mereka juga tentu punya keluarga, bahkan sebagian besar menjadi tulang punggung pendapatan keluarga. Jadi sakitnya saya tidak boleh mengganggu operasional Excellent.

Karena saya fokus pada upaya pemulihan kesehatan, saya mendelegasikan sebagian besar fungsi dan wewenang saya pada team. Meski proses ini sudah dilakukan sejak beberapa waktu yang lalu, delegasi wewenang saat sakit kemarin mungkin mencapai 90-95%, sehingga praktis sebenarnya Excellent bisa berjalan meski saya tidak hadir/in charge disana.

Saya terharu tiap hari selalu ada staff Excellent yang japri pada saya, bertanya mengenai kondisi dan menyemangati saya. Saya bilang apa adanya pada mereka meski juga dengan tetap semangat. Saya bilang pada mereka, “Kondisi hari ini lebih jelek daripada kemarin, mungkin karena efek obat. Mudah-mudahan bisa segera recover”.

Saat masuk rumah sakit, hari pertama saya tidak bisa tidur karena AC tidak bisa dimatikan (ruangan kedap). Selimut yang diberikan tipis sekali dan saat ke rumah sakit hanya dibekali pakaian ganti tanpa selimut. Saya tertolong karena saya bawa sarung, kebiasaan saat hiking bahwa sarung adalah perlengkapan multi fungsi.

Masalah kedua adalah minum. Tidak ada dispenser di kamar dan juga tidak ada air minum kemasan di kamar. Entah karena status steril entah karena perawatan kami ditanggung oleh pemerintah jadi fasilitasnya terbatas. Akhirnya kami mendapat air minum saat makan dan juga dibantu oleh perawat.

Sayangnya air minum kondisinya netral (tidak dingin tidak panas, malah cenderung dingin kena AC) sehingga saat makan maupun minum obat rasanya tidak keruan.

Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya pilihan saya adalah keluarga dan rekan-rekan. Saya dikirimi menu tambahan oleh keluarga, dikirimi termos air panas berikut air minum dalam kemasan, buah dan lain-lain. Kebetulan di RS ini saya boleh menerima kiriman sehingga proses recovery terbantu.

Saya sampai membeli pemanas air Xiaomi dan berbagai macam perlengkapan termasuk alat pijat listrik agar bisa membantu proses recovery.

Sekitar 10 hari saya di rumah sakit, saya hanya bisa berjalan mondar mandiri dari tempat tidur, ke meja depan dan ke kamar mandi. Favorit saya adalah saat hari cerah dan matahari bersinar, saya mepet ke jendela agar bisa mendapatkan sinar matahari. Cuaca cerah, udara segar dan sinar matahari pagi menjadi hal berharga yang saya nanti-nantikan. Hanya beberapa hari cerah yang bisa saya dapatkan karena di akhir Desember cuaca lebih banyak mendung dan hujan lebat.

Selama saya sakit hampir 2 minggu di RS, keluarga dan sebagian team Excellent bergiliran mengantarkan berbagai keperluan. Team saya di kios Aneka Pisang Zeze Zahra juga mengirimkan pisang Barangan yang bagus sekali, yang membantu saya recovery karena bisa saya jadikan menu sarapan dan tambahan kalori saat nasi belum terlalu bisa masuk. Eh ini bukan iklan ya, tapi memang pisang itu bisa jadi pilihan konsumsi saat sakit, dikala mulut agak susah makan nasi atau sayur.

Sebagian team Excellent berkunjung ke rumah, ngobrol dengan Vavai dan Vivian agar menjadi selingan dan tidak suntuk. Keluarga yang lain mengirimkan madu, obat tambahan dan lain-lain termasuk makanan apapun yang sekiranya bisa lebih cocok di lidah saya.

Kesemuanya menyadarkan pada saya bahwa punya keluarga dan sahabat itu merupakan salah satu harta terbaik. Kebaikan hati itu harus diingat agar satu waktu saya bisa membalas semua kebaikan itu.

Jalannya berkelok dan mendaki,
Siapa menanti tak pernah kutahu,
Sunyikupun kekal : menjajah diri,
Dan anginpun gelisah menderu…

Keluar Rumah Setelah Isolasi

Setelah perawatan di rumah sakit sejak tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 dilanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah hingga menjelang pekan keempat Januari 2021, akhirnya hari ini saya melakukan test keluar rumah, yaitu main ke kebun pisang di Karawang.

Meski hasil swab PCR sudah negatif dan gejala sakit sudah tidak dirasakan, saya memang tetap berhati-hati karena khawatir badan belum terlalu fit untuk kembali aktivitas sebagaimana biasa.

Saya memilih main ke kebun pisang dengan beberapa pertimbangan, antara lain :

  1. Di kebun pisang relatif jarang bertemu dengan orang lain dan bisa tetap menjaga jarak. Meski sudah dinyatakan sembuh, saya pikir tetap lebih baik berjaga-jaga
  2. Saya bisa melepas masker saat jauh dari orang lain dan bisa menghirup udara segar di kebun
  3. Saya bisa langsung mandi sinar matahari. Jadi bisa berolahraga (karena berjalan di kebun), mendapat sinar matahari pagi sekaligus mendapat udara segar

Selain alasan diatas, saya juga memang sudah lama tidak ke kebun pisang, jadi sekalian mengecek suasana dan perkembangan kebun.

Agar tidak mampir, dari rumah saya menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari alat makan, minum, air mineral, buah, sarung, pakaian ganti, makanan ringan dan lain-lain. Saya seperti orang hendak kemping dan itu memang sengaja saya lakukan agar tidak perlu berhenti di jalan untuk membeli makanan atau minuman.

Alhamdulillah, meski hari Senin kemarin sempat hujan dan beberapa area kebun terendam banjir, perjalanan saya ke kebun lancar dan cuaca cerah. Saat sampai di kebun pisang, matahari bersinar tanpa halangan dan saya bisa mendapatkan tujuan yang yang saya inginkan.

Suasana di kebun becek karena sisa hujan sebelumnya. Jadi saya harus memakai sepatu bot tinggi. Tidak lupa memakai lotion anti nyamuk karena selepas hujan dan suasana lembab dibawah naungan daun pisang banyak nyamuk nakal berkeliaran.

Saat ini sebagian besar pohon pisang sudah berbuah. Ada yang sudah mendekati tua dan ada juga yang belum lama berbuah. Malah ada beberapa yang baru keluar tandan buah.

Secara umum kebun cukup baik, hanya saja drainase-nya kurang bagus karena hujan cukup lebat menimbulkan genangan air cukup tinggi. Jika terus terendam selama beberapa hari, pohon pisang bisa layu dan membusuk.

Ada juga pohon pisang yang sudah berbuah tumbang karena hempasan angin. Ini agak sulit dihindari, meski saya sudah berupaya menanam pohon pisang tegar seperti pisang kepok di pinggir kebun sebagai pelindung terpaan angin.

Area yang saya tanami bibit pisang Cavendish Fhia-17 juga tumbuh subur, meski sebagian area bekas kebun jagung terendam air cukup tinggi. Saya berdiskusi dengan yang merawat kebun agar membuat sodetan atau saluran air sehingga air tergenang bisa dibuang melalui saluran di pinggir kebun.

Saya membatasi diri di kebun hanya sampai menjelang Dzuhur agar tidak terlalu lelah. Setelah menebang beberapa tandan pisang yang sudah tua, kami kemudian beranjak pulang sebelum sore dengan terlebih dahulu main ke rumah pak Amoy, si bapak yang merawat kebun, sawah, bebek dan kambing.

Saya khusus kesana untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Amoy selama saya sakit. Kami dijamu makan siang bersama sekaligus membawa pulang telur bebek dan kelapa muda.

Keluar Rumah Setelah Isolasi

Setelah perawatan di rumah sakit sejak tanggal 27 Desember 2020 sampai dengan 4 Januari 2021 dilanjutkan dengan isolasi mandiri di rumah hingga menjelang pekan keempat Januari 2021, akhirnya hari ini saya melakukan test keluar rumah, yaitu main ke kebun pisang di Karawang.

Meski hasil swab PCR sudah negatif dan gejala sakit sudah tidak dirasakan, saya memang tetap berhati-hati karena khawatir badan belum terlalu fit untuk kembali aktivitas sebagaimana biasa.

Saya memilih main ke kebun pisang dengan beberapa pertimbangan, antara lain :

  1. Di kebun pisang relatif jarang bertemu dengan orang lain dan bisa tetap menjaga jarak. Meski sudah dinyatakan sembuh, saya pikir tetap lebih baik berjaga-jaga
  2. Saya bisa melepas masker saat jauh dari orang lain dan bisa menghirup udara segar di kebun
  3. Saya bisa langsung mandi sinar matahari. Jadi bisa berolahraga (karena berjalan di kebun), mendapat sinar matahari pagi sekaligus mendapat udara segar

Selain alasan diatas, saya juga memang sudah lama tidak ke kebun pisang, jadi sekalian mengecek suasana dan perkembangan kebun.

Agar tidak mampir, dari rumah saya menyiapkan berbagai perlengkapan, mulai dari alat makan, minum, air mineral, buah, sarung, pakaian ganti, makanan ringan dan lain-lain. Saya seperti orang hendak kemping dan itu memang sengaja saya lakukan agar tidak perlu berhenti di jalan untuk membeli makanan atau minuman.

Alhamdulillah, meski hari Senin kemarin sempat hujan dan beberapa area kebun terendam banjir, perjalanan saya ke kebun lancar dan cuaca cerah. Saat sampai di kebun pisang, matahari bersinar tanpa halangan dan saya bisa mendapatkan tujuan yang yang saya inginkan.

Suasana di kebun becek karena sisa hujan sebelumnya. Jadi saya harus memakai sepatu bot tinggi. Tidak lupa memakai lotion anti nyamuk karena selepas hujan dan suasana lembab dibawah naungan daun pisang banyak nyamuk nakal berkeliaran.

Saat ini sebagian besar pohon pisang sudah berbuah. Ada yang sudah mendekati tua dan ada juga yang belum lama berbuah. Malah ada beberapa yang baru keluar tandan buah.

Secara umum kebun cukup baik, hanya saja drainase-nya kurang bagus karena hujan cukup lebat menimbulkan genangan air cukup tinggi. Jika terus terendam selama beberapa hari, pohon pisang bisa layu dan membusuk.

Ada juga pohon pisang yang sudah berbuah tumbang karena hempasan angin. Ini agak sulit dihindari, meski saya sudah berupaya menanam pohon pisang tegar seperti pisang kepok di pinggir kebun sebagai pelindung terpaan angin.

Area yang saya tanami bibit pisang Cavendish Fhia-17 juga tumbuh subur, meski sebagian area bekas kebun jagung terendam air cukup tinggi. Saya berdiskusi dengan yang merawat kebun agar membuat sodetan atau saluran air sehingga air tergenang bisa dibuang melalui saluran di pinggir kebun.

Saya membatasi diri di kebun hanya sampai menjelang Dzuhur agar tidak terlalu lelah. Setelah menebang beberapa tandan pisang yang sudah tua, kami kemudian beranjak pulang sebelum sore dengan terlebih dahulu main ke rumah pak Amoy, si bapak yang merawat kebun, sawah, bebek dan kambing.

Saya khusus kesana untuk mengucapkan terima kasih atas bantuan pak Amoy selama saya sakit. Kami dijamu makan siang bersama sekaligus membawa pulang telur bebek dan kelapa muda.

Terpapar Covid

Alhamdulillah hasil swab PCR saya terakhir kemarin hari Selasa 19 Januari 2021, hasilnya sudah negatif. Kalau dihitung, tepat 1 bulan sejak saya merasakan indikasi gejala awal.

  • Gejala awal di tanggal 19 Desember 2020
  • Mulai merasakan gejala lebih berat di 23 Desember
  • Rapidtest antigen reaktif di 25 Desember
  • Swab PCR positif di 26 Desember 2020
  • Masuk RS di 27 Des 2020 sd 4 Januari 2020
  • Isolasi di rumah 4 Januari sd hari ini

Total swab PCR : 7x dan yang ke-7 baru negatif. Saya sakit bersama isteri dan bapak mertua. Awalnya isteri yang sakit, kemudian saya dan kemudian bapak mertua.

Pengalaman saya terhadap covid ini mengajarkan beberapa hal :

  1. Kalau kecapean, lupakan semua. Fokus ke kesehatan. Orang kecapean sangat mudah terpapar virus. Kadang suka berpikir, “Ini pekerjaan penting sekali. Jika saya tidak ada, tidak akan berjalan”. Saya jadi ingat tulisan di salah satu buku motivasi Dale Carnegie, “Kalaupun kamu meninggal, dunia akan tetap berjalan. Tetap ada yang menggantikan”. Jadi jangan seolah-olah kalau kita istirahat lantas semua hal jadi berhenti
  2. Virus ada proses inkubasi. Jadi bisa saja terpapar virus dari yang positif covid hari ini, baru minggu depan mulai ada gejala. Biasanya virus masuk kalau posisi badan kecapean, kondisi tidak fit dan dipaksakan aktivitas
  3. Kalau masih bisa diskip/tunda, hindari pertemuan seperti kondangan, makan di tempat makan dll karena rentan sekali
  4. Kalau salah satu anggota keluarga ada yg bergejala, harus segera memisahkan diri, jika perlu rawat inap. Yg lain harus pakai masker meski didalam rumah. Hindari dalam 1 ruangan berlama2. Meski suami isteri sebaiknya pisah ruangan dulu
    Kalau suami dan isteri sakit sekaligus seperti saya, sedih sekali rasanya karena anak-anak jadi nggak ada yg memperhatikan secara detail
  5. Jika ada gejala dan cukup berat sebaiknya segera cari RS utk rawat inap. Saat ini RS banyak yg penuh dan ini kenyataan. Saya sampai ke RS Mayapada Hospital di Lebak Bulus dan bahkan hanya sampai parkiran karena IGD penuh
  6. Jika bergejala tapi isolasi mandiri si rumah, berbahaya buat pasien maupun yg mengurus. Lebih baik relakan utk rawat inap agar bisa ditangani sebagaimana mestinya
  7. Di RS saya diberikan infusan, obat lewat infus maupun minum, obat avigan (antivirus), obat utk penyakit penyerta jika ada (misalnya obat darah tinggi) bahkan saya diberikan obat yg harus diminum jam 2 pagi
  8. Saya pernah sakit Typhus dan DBD namun gejala yg dirasakan saat covid ini menurut saya lebih dahsyat karena kita lemah secara fisik maupun mental
  9. Jangan lupa lapor pada RT dan Puskesmas (atau Satgas covid), agar ditracking dan dapat dikoordinasikan jika memerlukan bantuan, misalnya terkait rumah sakit rujukan. Biasanya puskesmas memiliki mekanisme swab PCR berkala terhadap pasien terkonfirmasi covid.

Beberapa hari kedepan saya akan menuliskan pengalaman detail dari hari-hari awal sampai dengan hari ini, agar pengalamannya bisa dijadikan pembelajaran bagi rekan yang lain sekaligus untuk menghindarkan diri dari penyakit pandemi ini.

Bekerja untuk Beli Ipad

Puteri bungsu saya, Vivian Aulia Zahra memberikan kertas ini tadi pagi. Katanya dia mau beli Ipad, dan untuk itu dia akan bekerja agar bisa mendapat penghasilan untuk beli ipad.

Jika dia berbuat sesuatu yang harus dikerjakan, misalnya belajar atau mengerjakan PR atau shalat 5 waktu, dia kalkulasikan pendapatannya. Misalnya mandi pagi jam setengah 6 pagi, hadiahnya 1000 rupiah. Kalau nonton Youtube tidak usah diberi hadiah

Mengerjakan PR atau tugas sekolah hadiahnya 5000 rupiah.

Saat membaca tulisan itu, saya terharu, agak sedih sekaligus bangga. Terharu dan agak sedih karena Vivian sampai merasa kalau meminta sesuatu harus usaha dulu. Tidak sekedar meminta meski saya bisa memenuhinya. Vivian juga tahu dia punya cadangan dana yang saya siapkan untuk pendidikannya tapi dia tidak mau mengganggu alokasi itu.

Untuk apa Ipad itu? Utamanya sebenarnya untuk sekolah online. Saat ini ada laptop tapi laptop terlalu berat dan agak repot jika harus keluar masuk tas. Pakai Ipad lebih mudah dan nyaman digunakan saat dikendaraan, selain bisa dipakai juga untuk main games Bekerja untuk Beli Ipad

Saya bilang pada Vivian, proposalnya saya terima, tapi itu nilainya terlalu murah/rendah. Saya bilang pada Vivian, buat dia, nilai hadiah per jamnya bisa saya berikan 100 ribu rupiah. Jadi prosesnya tidak menunggu terlalu lama.

Apalagi Vivian dan Vavai (dan seluruh keluarga) membantu saya menimbang sale pisang, mengemasnya, menempelkan branding Zeze Zahra hingga membungkus pengirimannya. Pekerjaan itu tetap saya hargai sebagai bonus tambahan.

Saya ingat dulu saat saya membantu baba dan enyak (bapak dan ibu) saya, meski pada anak sendiri, baba atau enyak tetap memberikan hadiah dalam bentuk uang yang bisa saya gunakan atau saya tabung, misalnya untuk membeli sepatu. Biasanya hal itu dilakukan kalau saya membantu memetik buah (rambutan, jambu, mangga) untuk dijual atau berjualan es mambo.

Saya bangga pada pola pikir Vivian. Barakallahu fii umrik princess Vivian dan Zeze Vavai.

Ladang Pertanian

Hari Sabtu, 25 Juli 2020 kemarin saya main ke Karawang. Melihat sawah yang baru selesai ditraktor, melihat anak kambing yang baru lahir dan juga berkunjung ke kebun pisang.

Di sekeliling kebun pisang ada ladang pertanian. Petani menanam berbagai jenis sayuran dan palawija. Ada terong ungu, timun, kacang panjang, pare dan labu.

Saya senang suasana ladang pertanian seperti ini. Udaranya segar dan pemandangannya luas, pemadangan sayuran hijau.

Jika suasana terik, saya bisa berteduh di saung atau dangau atau dibawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi dan suara burung menenangkan pikiran. Itu sebabnya saya membayangkan satu waktu nanti saya akan bertempat tinggal disana, dengan rumah kayu sebagaimana suasana rumah kecil di tengah padang rumput.

Jika pendapatan sudah masuk level financial independence, tentu akan lebih mudah menjalani kegiatan tersebut, karena kehidupan yang dijalani bukan untuk bekerja keras mencari nafkah sebagaiman usia muda melainkan untuk menjalani kehidupan lebih baik lagi.

Selamat Ulang Tahun, Vivian Aulia Zahra

Happy Birthday yang ke-10, Princess Vivian Aulia Zahra, 15 Juli 2020. Semoga selalu menjadi anak yang sehat, cerdas, shalihah, terjaga sikapnya, baik hati, ramah, mendapat kebahagiaan dan kesuksesan bersama keluarga di dunia maupun akhirat. Salam sayang dari papap, ibu Reny Yuniastuty dan kakak Zeze Vavai

Terima kasih untuk kehadiran semua keluarga besar Duren Jaya, keluarga besar Tambun, keluarga besar PT. Excellent Infotama Kreasindo dan PT. Aktiva Kreasi Investama. Terima kasih untuk doa dan kebersamaannya dan mohon maaf untuk kesederhanaan acara maupun jamuan yang disajikan.

Membangun Rumah Kabin/Rumah Kayu di Kebun Pisang

Saat beberapa hari yang lalu saya main ke kebun pisang, kami makan siang bersama di bawah pohon mangga. Tempatnya sejuk dan nyaman, bikin betah untuk berlama-lama. Apalagi setelah makan siang dihembus angin sepoi-sepoi membuat mata jadi mengantuk.

Karena kadang turun hujan dan tempatnya bisa becek, ada usulan dari keluarga untuk membuat saung sekaligus kamar kecil. Jadi bisa digunakan untuk shalat, pipis maupun untuk keperluan makan siang bersama.

Seharusnya pembangunan saung dimulai hari Senin tanggal 13 Juli 2020, namun di minggu malam saya menelpon Qchen untuk menundanya. Saya pikir, daripada membuat saung lebih baik sekalian saja membuat rumah kabin berbentuk rumah kayu.

Saya adalah penggemar tayangan Cabin Fever dan Build the Wild di NatGeo dan penggemar serial Cabins in the wild di Netflix. Saya juga penggemar seri “Live Free or Die” di NatGeo yang menayangkan kisah orang-orang yang hidup dari alam, hidup minimalis dengan mendayagunakan seluruh sumber daya alam yang dimiliki. Beberapa inspirasi dari tayangan tersebut yang membuat saya menunda pembuatan saung dan memilih untuk membuat rumah kabin atau tiny house berbahan kayu.

Rumah kabin itu rencananya berbentuk panggung untuk menghindari banjir luapan kali Citarum. Terdiri dari kamar mandi, dapur dan living room (tempat ngariung) di bagian tengah. Rencana ada juga 1 tempat tidur di bagian atap/loteng. Semua bahannya dari kayu, jadi mungkin akan mirip dengan rumah kayu Manado atau rumah-rumah kayu dari berbagai daerah.

Masalahnya, kebun pisang belum menghasilkan :-). Jadi saya juga harus menahan diri dalam menggunakan budget. Rencananya saya akan meminta masukan desain dari arsitek, kemudian mencoba meminta tukang untuk membuatnya berdasarkan desain itu.

Mungkin hasilnya tidak sebagus jika saya memesan rumah kayu knock down. Mungkin juga hasilnya tidak sebagus jika semua full desain orang yang berkompeten. Saya mengambil resiko itu dengan pertimbangan budget.

Saat ini saya sedang menunggu pembuatan desain dan maket yang saya pesan dari seorang arsitek yang sering share desain dan maket di Youtube channel miliknya. Kalau sudah jadi, baru kemudian saya kalkulasi perkiraan biaya dan diskusi dengan tukang untuk realisasinya.

Nantinya, rumah kabin ini akan menjadi rumah untuk istirahat dan bersantai. Saya membayangkan menjadikannya sebagai tempat retreat, tempat untuk menyepi dari hiruk pikuk kota. Misalnya saya ke rumah kabin tersebut di hari Jumat dan pulang ke rumah tempat tinggal di hari Minggu siang.

Selama di rumah kabin, saya bisa mengecek kebun pisang, bercocok tanam dan menikmati suasana pedesaan.

Bisnis Daratan Bisnis Langitan : Nest Egg

Pernah ada yang bertanya pada saya, sebenarnya apa yang saya lakukan untuk membiayai hidup? What do you do for a living?

Seperti yang pernah saya tuliskan sebelumnya, pekerjaan utama saya berkaitan dengan IT. Membangun perusahaan kecil di tahun 2011 dengan nama PT. Excellent Infotama Kreasindo (https://www.excellent.co.id). Fokus utama Excellent adalah layanan IT mengenai mail server dan cloud.

Lantas, kok kadang ada posting soal saham, reksadana, pertanian dan peternakan?

Itu bagian dari ikhtiar sekaligus pembelajaran. Usaha yang dilakukan sebagai varian sekaligus agar ada kegiatan yang tetap bisa mengasah pemikiran dan gerak badan.

Soal saham dan reksadana misalnya. Saya mulai mempelajarinya di kisaran tahun 2013-2014. Saya belajar reksadana setelah membaca bukunya Ligwina Hananto, “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah untuk tidak Miskin”. Coba, gimana nggak seneng, kamu cukup 100 langkah dan tidak miskin lagi, hehehe…

Buku itu memuat inspirasi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki mental, pemikiran dan mekanisme keuangan kita agar bisa lebih baik. Agar bisa menjadi kelas menengah yang kuat dan pada akhirnya membuat Indonesia jadi kuat.

Mungkin ada beberapa tips yang tidak relevan jika diterapkan dengan kondisi saat ini karena buku itu sendiri diterbitkan pada tahun 2010. Beberapa waktu yang lalu-kisaran tahun 2014-juga ada berita terkait saran-saran yang diberikan (hint : Perencana Keuangan : Panen Mas), namun disisi saya pribadi, saya mendapat beberapa pencerahan setelah membaca buku itu.

Setelah belajar otodidak tentang reksadana, kemudian saya mulai belajar untuk investasi saham hingga terus berlanjut sampai sekarang.

Karena menyenangi kegiatan bertani dan beternak, saya juga mencoba usaha dibidang pertanian dan peternakan. Ada yang gagal dan ada yang berhasil. Lumrah karena ada yang kurang persiapan dan ada juga yang kurang memperhitungkan anggaran biaya dan estimasi pemasukan. Meski demikian, semuanya menjadi pengalaman yang baik dan menjadi pembelajaran untuk langkah selanjutnya.

Adakalanya kita terpaku pada satu hal saja. Itu bukan hal yang salah, karena berarti kita fokus pada satu hal tertentu. Meski demikian, membuka varian kegiatan lain juga tidak ada salahnya sepanjang bisa dikelola dengan baik dan tidak grusa-grusu.

Bagaimana caranya menyeimbangkan satu kegiatan dengan kegiatan yang lain? Seorang kawan di Bandung pernah punya pengalaman buruk mengenai owner perusahaan tempat ia bekerja. Owner perusahaan itu membangun usaha lain dengan modal dari perusahaan awal. Sayangnya, tindakannya itu tidak terkontrol karena perusahaan awal menjadi sapi perah untuk perusahaan yang sedang ia bangun.

Buruknya adalah, perusahaan yang dijadikan sapi perah menjadi berantakan pengelolaannya. Gaji karyawan kerap tertunda karena pendapatan tersedot untuk membiayai perusahaan baru. Akibatnya turn over karyawan menjadi tinggi dan hanya soal waktu hingga akhirnya perusahaan awal tersebut merana dan mati. Owner perusahaan beberapa kali mendapat penghargaan sebagai bisnisman sukses atau wirausahawan sukses, tapi ia mendapat penghargaan diatas puing-puing dan diatas kekecewaan para karyawan.

Di bidang pertanian, kita mendapat pembelajaran yang baik mengenai hal itu dengan melihat skema pencangkokan. Ada pohon buah yang bagus, dengan daun tumbuh subur, rimbun dan berbuah lebat. Karena sangat menarik, pemilik pohon mencangkok batang-batangnya. Jika hanya satu dua cangkokan sebenarnya tidak masalah. Ini analoginya membiayai perusahaan baru yang prospektif dengan sebagian kecil biaya dengan tetap memperhitungkan overhead cost dan keberlangsungan usaha perusahaan induk atau perusahaan awal.

Namun hal sebaliknya terjadi. Karena ingin mendapatkan hasil cepat, pohon buah itu dicangkok hingga puluhan posisi. akibatnya pohon buah itu jadi merana karena terlalu banyak pengeluaran (pendarahan usaha) sedangkan pemasukan sifatnya tetap atau malah berkurang. Akibatnya cangkokan yang diniatkan untuk memperluas kesuksesan malah berakibat matinya pohon induk.

Itu adalah 2 pembelajaran yang selalu saya ingat : pertama, jangan sukses diatas kekecewaan pihak lain, apalagi karyawan sendiri dan kedua, jangan mematikan usaha utama saat mengembangkan usaha pendukung.

Dari sisi pribadi, bagaimana sih proses agar kita bisa menyiasati kesulitan menjadi peluang? Bagaimana sih memulai usaha saat kita sedang bekerja? Bagaimana sih meningkatkan pendapatan sedangkan kita sendiri kesulitan memenuhi kehidupan sehari-hari?

Semuanya butuh proses dan tidak instant. Harus tekun dan tidak mudah menyerah. Berdasarkan pengalaman pribadi, berikut adalah langkah-langkah yang bisa menjadi awalan untuk memulainya :

  1. Melunasi Hutang

Sebelum bicara yang lain-lain, lunasi dulu hutang, apalagi jika hutang itu sudah cukup lama. Memang ada juga yang memulai usaha dengan cara berhutang, namun karena saya tipikal konservatif dan pernah merasakan bahayanya hutang, jauh lebih baik jika kita melunasi hutang terlebih dahulu.

Saya masih ingat, merasa dimudahkan dalam berusaha dan mendapat peluang usaha yang menarik setelah saya melunasi hutang rumah KPR di bank. Ceritanya bisa dibaca di blog saya dengan judul “Melunasi Hutang”.

Bagaimana kita bisa memulai usaha jika sarannya justru harus melunasi hutang, padahal tidak ada modal usaha? Prosesnya bagi saya memang demikian. Mendapatkan penghasilan dari pekerjaan yang kita lakukan, mengurangi dan melunasi hutang dan baru kemudian pelan-pelan menabung dan memulai usaha.

Sebagai contoh misalnya begini. Dulu saya bekerja di sebuah perusahaan dengan gaji pas-pasan. Meski pas-pasan, saya berusaha untuk menabung. Sebagian untuk masa depan anak saya dan sebagian untuk tabungan saya dan isteri.

Dari gaji sekitar 3.5-4 juta rupiah saat itu, saya usahakan bisa menabung 1-1.5 juta rupiah per bulan. Apakah mudah? Tentu saja sulit, karena saya harus membayar cicilan rumah yang nilanya sekitar 2.5 juta rupiah per bulan.

Bagaimana caranya bisa ada sisa untuk biaya berangkat dan pulang kerja jika total pengeluaran saja sudah menghabiskan seluruh gaji? Jawabannya adalah memanfaatkan waktu luang saat hari libur.

Saya masih ingat, karena saya senang menulis dan pekerjaan saya dibidang IT, saya menulis artikel untuk majalah Infolinux (cc pak Rusmanto Maryanto) dan saya mendapat honor dari tulisan saya. Karena saya senang menulis, saya membuat blog dan melakukan monetisasi dalam bentuk Google Adsense. Saya menulis review (dulu setiap review bisa mendapat minimal 5$). Saya membuat target pencapaian penghasilan sampingan, misalnya di awal-awal saya berusaha mendapatkan 50-100 ribu rupiah.

Kecil sekali? Memang kecil, karena saya tipikal orang yang realistis. Tidak realistis jika saya langsung berasumsi dapat penghasilan besar dari kegiatan sampingan. Seiring waktu, saya bisa berusaha mendapatkan tambahan dan target itu bisa ditingkatkan.

Saya menulis artikel, membuat review, menulis blog, mengajar training dan freelance mengerjakan setup server. Semua dilakukan disela-sela waktu kerja. Harus aktif dan produktif. Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya. Kalau mau hidup senang ya harus usaha. Nggak bisa manja dan nggak bisa pingin yang mudah terus. Absurd.

Dari penghasilan tambahan itu saya bisa punya ruang gerak. Minimal misalnya untuk menabung saya tidak perlu mengambil dari uang gaji. Untuk membayar biaya internet saya tidak perlu pakai uang gaji.

Setelah punya ruang gerak, saya pisahkan pendapatan tambahan menjadi 2 bagian. Sebagian digunakan untuk mengurangi hutang dan sebagian lain digunakan untuk ide usaha.

Misalnya saya tiap bulan mendapat tambahan penghasilan 500 ribu sd 1 juta rupiah, itu saya gunakan untuk menyewa server. Saya bisa membuka layanan managed hosting. Jadi saya bisa membeli 1 buah VPS server yang kemudian saya sewakan ke beberapa orang. Mirip seperti kontrakan namun ini sifatnya online dan terkait IT.

Jadi dari penghasilan tambahan digunakan untuk menghasilkan penghasilan tambahan. Ini yang namanya nest egg. Penghasilan yang bisa menghasilkan.

Bagaimana jika saya bukan orang IT? Apakah bisa punya nest egg? Tetap bisa, karena tinggal disesuaikan saja.

Misalnya saya punya sisa uang 200-300 ribu rupiah dari gaji atau dari penghasilan lainnya. Uang itu saya gunakan untuk membeli ayam pitik atau ayam DOC (Day Old Chicken). Saya besarkan seperti membesarkan anak sendiri (ini mah iklan kecap hehehe). Nantinya ayam itu besar dan bisa menghasilkan daging atau telur.

Bagaimana jika ayamnya mati sebelum besar? Ya usaha menjaga kelangsungan hidup si ayam. Ini yang saya maksud sebagai pembelajaran. Jika gagal usaha ayam, bisa beralih ke usaha lain. Bagaimana jika saya tinggal di kontrakan atau di perumahan? Nggak bisa beternak ayam karena bau dan mengganggu sekitar. Ya beralih. No retreat no surrender. Jangan menyerah. Bisa browsing ke Tokopedia atau Bukalapak. Cari usaha dropshipper. Bisa jadi peluang usaha jualan tanpa modal besar.

  1. Berdoa untuk Perbaikan Kehidupan

Ini mungkin harusnya jadi point pertama. Berdoa untuk perbaikan kehidupan itu mudah, tapi kadang kita lupa melakukannya. Kadang kita merasa lebih tahu dari yang maha kuasa.

“Yah, mau gimana ya. Sepertinya hidup saya sudah sedemikian sulit dan nggak ada jalan keluar”. Lha, memangnya kita ini sang maha pencipta, kok jadi mendahului takdir?

Bosan hidup susah boleh saja. Merasa tidak ada jalan keluar juga sebenarnya kondisi yang masuk akal, tapi justru itu harusnya menjadi dorongan untuk berdoa demikian kebaikan diri dan keluarga kita.

Agak dilematis juga bagi saya jika menulis yang terkait dengan kepercayaan dan religi, karena nanti kesannya saya seperti ustadz, padahal saya masih orang kebanyakan pada umumnya, yang “al imanu yajidu wa yanqusu”, yang kadar imannya masih turun naik. Meski demikian, saya tidak menafikan hal tersebut karena bagi saya, setelah kita berusaha, tidak ada salahnya disertai dengan doa. Soal setuju atau tidak, saya serahkan pada masing-masing yang membaca tulisan ini.

Kadang saya juga membaca komentar, misalnya soal riba, soal “Gak mungkin lah jaman sekarang ini menghindari riba” atau “Gak mungkin lah jaman sekarang ini lurus-lurus saja”, ya iyalah namanya manusia kita nggak mungkin lurus-lurus saja, tapi kan juga adalah hal yang wajar kita belajar dan berusaha mengurangi kesalahan. Saya pribadi berprinsip, kalau tidak bisa sepenuhnya, minimal bisa mengurangi. Kalaupun tidak bisa 100%, minimal ada usaha kearah perbaikan.

  1. Mulai dari Hal Kecil dan Sederhana
    Seperti saya sampaikan diatas, saya termasuk tipikal yang menghargai proses dan tidak percaya hal instant kecuali mie instan Bisnis Daratan Bisnis Langitan : Nest Egg

Saya tidak bisa punya usaha karena butuh modal. Ya pasti bisa, karena kan modal itu tidak mesti besar. Kalau modal tidak besar, kita bisa tergilas persaingan. Ya nggak lah, kan kita bisa menarget ceruk pasar yang nilai modal menjadi tidak relevan.

Modal kerja Excellent tidak sebesar perusahaan lain yang sudah well established, tapi kan saya bisa fokus pada pendekatan dan aspek personal.

Saya sebagai klien pingin berhubungan dengan perusahaan besar yang sudah menangani banyak perusahaan besar. Ya tidak apa-apa, tapi nanti bapak jadi salah satu klien diantara klien-klien mereka. Di kami, karena kami masih kecil, bapak selalu menjadi klien istimewa. Selalu menjadi prioritas.

Selalu ada nilai lebih yang bisa kita miliki dan kita jadikan nilai tambah.

GImana kalau mau usaha tani kecil-kecilan, kan harga tanah mahal. Ya iyalah, kalau mau usaha tani di perkotaan, modal untuk tanahnya pasti mahal. 1 meter persegi sudah jutaan, bahkan bisa belasan atau puluhan juta rupiah. Kenapa nggak coba sekalian beli tanah di kawasan Sudirman atau Glodok untuk menanam pisang, ya absurd dong ah.

Uang 10 juta rupiah mungkin hanya bisa mendapat tanah 1-2 meter persegi di kota, tapi bisa dapat tanah yang lebih luas di pedesaan.

Kalau dipedesaan, siapa yang mengurus? Pedesaan di Bekasi atau Karawang nggak terlalu jauh kok. Bisa dicapai kurang dari 2 jam.

Bagaimana kalau tertipu, beli tanah atau sawah yang suratnya tidak jelas? Ya berusaha agar lebih teliti dan waspada. Cari tahu dari orang yang lebih tahu. Check silang ke beberapa pihak.

Kalau nggak punya waktu untuk mondar-mandir, bagaimana? Cari orang yang bisa dipercaya untuk mengurusnya. Selalu ada jalan dan jawaban kalau kita mau berusaha.

Kok selalu punya jawaban untuk setiap pertanyaan? Dukun ya? Ya bukan lah. Kan diatas itu skenario. Kalau punya skenario, pasti punya jawaban dan solusi karena kan saya menulis berdasarkan pengalaman juga.

Ada cerita soal katak yang direbus air panas. Jika katak tersebut langsung kena air panas, dia akan reflek meloncat. Jika dia terkena air dingin, kemudian berubah jadi suam-suam kuku, hangat hingga akhirnya panas, katak tersebut bisa mati direbus air panas karena ia terlena dibelai air hangat.

Ceritanya terkesan sadis, siapa juga yang mau merebus katak. Moral story-nya adalah kita jangan jadi katak yang terlena oleh waktu dan keadaan. Saat hendak meloncat dari keadaan yang tidak menyenangkan, segalanya sudah terlambat dan tidak bisa diperbaiki.

Jangan membiarkan diri kita terlalu santai, padahal kita tahu situasinya berbahaya. Jangan menunggu segalanya terlalu terlambat.

  1. Membangun Nest Egg

Jangan berhenti untuk puas pada diri kita setelah kita mendapatkan pekerjaan yang menarik dan berpenghasilan besar. Jangan berhenti saat kita sudah bosan berusaha dan kehidupan masih begitu-begitu saja. Sempatkan untuk berhenti sejenak, merenung dan melakukan review internal.

Jika kita selama ini sudah cukup puas dengan penghasilan yang cukup besar, coba simulasikan seandainya penghasilan itu tiba-tiba berhenti. Apakah kita sudah punya jaring pengaman sosial pribadi? Apakah kita masih bisa memiliki pendapatan?

Perlahan mulai bangun nest egg. Penghasilan yang disimpan atau diinvestasikan yang bisa menghasilkan penghasilan lain.

Uang hasil honor tulisan bisa saya belikan bibit ayam petelur. Saat besar, ayam petelur itu menghasilkan telur sekaligus bisa menjadi pedaging saat afkir. Itu bentuk contoh nest egg sederhana.

Meski namanya nest egg tidak harus selalu berupa telur. Nest egg itu istilah saja.

A nest egg is a substantial sum of money or other assets that have been saved or invested for a specific purpose. … The term is believed to have been derived from poultry farmers’ tactic of placing eggs—both real and fake—in hens’ nests to induce them to lay more eggs, which meant more income for these farmers.

Saya punya gaji dari pekerjaan IT saya. Setelah dikurangi pengeluaran keluarga, saya punya sisa yang bisa ditabung atau diinvestasikan. Saya investasikan ke Obligasi pemerintah (ORI/Sukuk/SBR), saya bisa mendapat kupon penghasilan. Itu namanya nest egg.

Sisa uang saya investasikan disaham dan menghasilan dividen saham, itu namanya nest egg.

Iya, saya dapat dividen tapi hanya beberapa ribu atau puluh ribu saja. Tidak apa-apa, mulai dari hal kecil dan sederhana. Dividen itu didapatkan tanpa meninggalkan pekerjaan kita. Seiring penambahan jumlah saham, nilai dividen bisa semakin besar.

Saya mengumpulkan sisa penghasilan. Setelah cukup memadai, saya belikan tanah 50 atau 100 meter di kampung. Saya tanami pisang agar tidak terlalu repot bolak balik mengecek. Selama setahun, pisang berbuah beberapa kali. Kalau dirupiahkan menghasilkan sekian ratus ribu rupiah. Tidak apa-apa, karena itu dividen dari tanah atau lahan. Nilai tanah atau lahannya kan tetap.

Wah saya repot kalau harus mengurus ternak atau lahan pertanian. Cari opsi lain. Kan ada jenis investasi lain. Takut tertipu? Cari tahu, lakukan riset. Check silang.

Wah saya nggak percaya invest di Indonesia, banyak kasus fraud. Ya pelajari dengan baik, jangan silau pada keuntungan besar sesaat. Kalau riset kan butuh pengalaman? Nggak juga, kan judulnya saja riset, padahal yang dilakukan hanya searching di Google mengenai pengalaman orang lain.

Buka wawasan, buka pemikiran. Saat membaca, imbangi bacaan ringan kita dengan bacaan yang membuka wawasan dan memberi inspirasi. Jika membuka Youtube, imbangi video yang dilihat dengan video yang memberikan nilai manfaat wawasan selain hiburan semata. Saat menonton film, pilih film yang bisa memberikan nilai tambah, bukan sekedar film yang lewat sepintas saja.

Wah saya repot kalau harus mengerjakan hal ini hal itu. Kalau begitu, ya terima nasib saja jangan mengeluh, hehehe…

Karena kita punya tanggung jawab pada hidup dan penghidupan kita. Kita punya tanggung jawab untuk terus berusaha agar kita bisa memperbaiki kualitas kehidupan kita.

Jika kita hidup senang, kita juga yang akan menjalani dan menikmatinya.

Yayasan Ultima Insani Madania

Meski saya jarang update kegiatan, yayasan Ultima Insani Madania tetap berkiprah. Karena situasi pandemi Covid-19, untuk sementara kegiatan pengajian anak-anak ditunda sampai situasi lebih kondusif. Kegiatan sosial yang digencarkan adalah distribusi beras untuk para lansia dan masyarakat yang membutuhkan.

Jika awalnya distribusi beras sebanyak masing-masing 5 liter untuk 20 orang (20 paket), jumlah penerimanya bertambah seiring waktu. Pada distribusi kali ini, jumlah penerima sebanyak 43 orang masing-masing 5 liter ditambah dengan 4 paket masing-masing 10 liter untuk pengajar ngaji.

Karena ada panen hasil sawah di Cikarang dan Karawang, distribusi beras kali ini lebih istimewa, karena menggunakan beras dari panen hasil sawah sendiri. Khusus panen perdana, hasilnya memang tidak dijual, sepenuhnya digunakan untuk keluarga, kegiatan sosial dan distribusi pada masyarakat sekitar.

Pemisahan beras per paket dilakukan oleh adik dan keponakan : Windi, Dede Narsih Herlina, Mardiah, Dewi Liastuti dan Leni Marlina, sedangkan distribusi beras dilakukan oleh pengajar di pengajian, Mardalih Alamsyah dan Mardiah.

Bagi rekan-rekan yang tertarik untuk urunan, donasi bisa dilakukan melalui rekening Bank Mandiri 156 001 5254 669 an Yayasan Ultima Insani Madania.

Harapannya, distribusi beras ini bisa diperluas dan dapat bermanfaat secara maksimal bagi penerimanya.