Posts in Category: Excellent

Pengalaman Saat Sakit : Keluarga, Sahabat dan Bagaimana Jika…

Saat saya sakit menjelang akhir Desember 2020, saya memberikan briefing pada team Excellent di hari Sabtu, 26 Desember 2020. Briefing dilakukan secara online dan semua team bisa mengikutinya.

Briefing itu untuk mengabarkan mengenai soal sakitnya saya dan mamanya Vavai Vivian, delegasi pekerjaan di Excellent dan juga mengenai tindakan yang harus dilakukan di internal Excellent.

Hari Sabtu biasanya libur dan saya jarang sekali meminta seluruh team berkumpul di hari libur, jadi jika sampai itu dilakukan, berarti memang kriterianya sangat penting.

Disitu saya sempat menyampaikan pesan, “Mumpung saya masih bisa bicara dan memberikan pesan…”, karena memang saya sendiri tidak tahu apakah bisa melewati kondisi sakit tersebut atau tidak. Kondisi yang saya rasakan berat sekali jadi saya harus siap kemungkinan terburuk dan sedapat mungkin memberikan pesan yang jelas selagi saya harus fokus pada upaya pemulihan kesehatan.

Banyak orang yang mungkin denial (menyangkal) atau malah menganggap sepele situasi saat ini, namun jika mengalami sakit dimasa pandemi seperti ini, sakit apapun itu, sebaiknya menyikapinya dengan serius dan jangan mengabaikan sinyal pesan dari tubuh.

Kita bisa menyangkal dan menganggap semuanya baik-baik saja, padahal bisa jadi hal itu kita lakukan karena kita takut jika yang kita khawatirkan malah terbukti. Contoh sikap seperti itu saya tuliskan disini : https://www.vavai.com/takut-swab-pcr-rapidtest-antigen/

Setelah masuk rumah sakit dan menjalani perawatan, banyak pikiran berkecamuk dibenak saya. Karena saya dan Dear Rey dirawat, kemudian disusul oleh mbah kakungnya Vavai Vivian, saya risau memikirkan bagaimana kondisi Vavai Vivian dan bagaimana kondisi psikologis mereka.

Awalnya saya menyampaikan kondisi yang membesarkan hati pada mereka. Namun setelah berjalan beberapa waktu saya menyadari, meski Zeze Vavai baru kelas 3 SMP dan Vivian kelas 5 SD, mereka cukup memahami situasi. Jadi berikut-berikutnya saya menyampaikan kondisi riil pada mereka, sambil tetap menyampaikannya dalam kata-kata semangat dan mengambil sisi baik dari apa yang dialami.

Misalnya saat video call, saya minta Dear Rey jangan sambil tiduran. Usahakan sambil duduk dan tampilkan wajah cerah. Karena saat yang sakit berjuang untuk pemulihan, anak-anak di rumah juga mengkhawatirkan kondisi orang tua/keluarganya.

Alih-alih bilang, “Ibu/Papap makannya sedikit…”, lebih baik menggunakan bahasa diplomatis, “Hari ini ibu/papap makan lebih banyak dari kemarin”.

Kalau makannya lebih sedikit dari kemarin, bisa bilang : “Ibu/Papap hari ini bisa makan biskuit dan buah selain makan nasi…”.

Jadi selalu gunakan kalimat-kalimat penyemangat. Ini bukan dengan maksud berbohong melainkan menyampaikan fakta yang sama namun dengan sudut pandang berbeda.

Meski masih perusahaan kecil, saya juga punya tanggung jawab di Excellent. Ada sekitar 20 orang staff di Excellent. Mereka juga tentu punya keluarga, bahkan sebagian besar menjadi tulang punggung pendapatan keluarga. Jadi sakitnya saya tidak boleh mengganggu operasional Excellent.

Karena saya fokus pada upaya pemulihan kesehatan, saya mendelegasikan sebagian besar fungsi dan wewenang saya pada team. Meski proses ini sudah dilakukan sejak beberapa waktu yang lalu, delegasi wewenang saat sakit kemarin mungkin mencapai 90-95%, sehingga praktis sebenarnya Excellent bisa berjalan meski saya tidak hadir/in charge disana.

Saya terharu tiap hari selalu ada staff Excellent yang japri pada saya, bertanya mengenai kondisi dan menyemangati saya. Saya bilang apa adanya pada mereka meski juga dengan tetap semangat. Saya bilang pada mereka, “Kondisi hari ini lebih jelek daripada kemarin, mungkin karena efek obat. Mudah-mudahan bisa segera recover”.

Saat masuk rumah sakit, hari pertama saya tidak bisa tidur karena AC tidak bisa dimatikan (ruangan kedap). Selimut yang diberikan tipis sekali dan saat ke rumah sakit hanya dibekali pakaian ganti tanpa selimut. Saya tertolong karena saya bawa sarung, kebiasaan saat hiking bahwa sarung adalah perlengkapan multi fungsi.

Masalah kedua adalah minum. Tidak ada dispenser di kamar dan juga tidak ada air minum kemasan di kamar. Entah karena status steril entah karena perawatan kami ditanggung oleh pemerintah jadi fasilitasnya terbatas. Akhirnya kami mendapat air minum saat makan dan juga dibantu oleh perawat.

Sayangnya air minum kondisinya netral (tidak dingin tidak panas, malah cenderung dingin kena AC) sehingga saat makan maupun minum obat rasanya tidak keruan.

Dalam kondisi seperti itu, satu-satunya pilihan saya adalah keluarga dan rekan-rekan. Saya dikirimi menu tambahan oleh keluarga, dikirimi termos air panas berikut air minum dalam kemasan, buah dan lain-lain. Kebetulan di RS ini saya boleh menerima kiriman sehingga proses recovery terbantu.

Saya sampai membeli pemanas air Xiaomi dan berbagai macam perlengkapan termasuk alat pijat listrik agar bisa membantu proses recovery.

Sekitar 10 hari saya di rumah sakit, saya hanya bisa berjalan mondar mandiri dari tempat tidur, ke meja depan dan ke kamar mandi. Favorit saya adalah saat hari cerah dan matahari bersinar, saya mepet ke jendela agar bisa mendapatkan sinar matahari. Cuaca cerah, udara segar dan sinar matahari pagi menjadi hal berharga yang saya nanti-nantikan. Hanya beberapa hari cerah yang bisa saya dapatkan karena di akhir Desember cuaca lebih banyak mendung dan hujan lebat.

Selama saya sakit hampir 2 minggu di RS, keluarga dan sebagian team Excellent bergiliran mengantarkan berbagai keperluan. Team saya di kios Aneka Pisang Zeze Zahra juga mengirimkan pisang Barangan yang bagus sekali, yang membantu saya recovery karena bisa saya jadikan menu sarapan dan tambahan kalori saat nasi belum terlalu bisa masuk. Eh ini bukan iklan ya, tapi memang pisang itu bisa jadi pilihan konsumsi saat sakit, dikala mulut agak susah makan nasi atau sayur.

Sebagian team Excellent berkunjung ke rumah, ngobrol dengan Vavai dan Vivian agar menjadi selingan dan tidak suntuk. Keluarga yang lain mengirimkan madu, obat tambahan dan lain-lain termasuk makanan apapun yang sekiranya bisa lebih cocok di lidah saya.

Kesemuanya menyadarkan pada saya bahwa punya keluarga dan sahabat itu merupakan salah satu harta terbaik. Kebaikan hati itu harus diingat agar satu waktu saya bisa membalas semua kebaikan itu.

Jalannya berkelok dan mendaki,
Siapa menanti tak pernah kutahu,
Sunyikupun kekal : menjajah diri,
Dan anginpun gelisah menderu…

Penjualan Langsung : Keliling dan Mangkal

Setelah membuka kios dan berjualan langsung, saya berusaha mengembangkan varian distribusi. Langkah pertama adalah menghubungi beberapa penjual sayur untuk mendistribusikan pisang.

Jika pisangnya dari kebun sendiri, hal ini bisa berjalan lancar, tapi kalau kita membeli di pasar untuk dijual kembali ke tukang sayur, kemungkinan tidak akan bisa. Marginnya terlalu tipis, kualitas barang juga sukar dipastikan.

Bahkan kiriman dari pengepul juga marginnya tidak besar jika dijualnya ke pihak yang akan menjual kembali, kecuali kita bisa mendapatkan harga yang bagus dengan pisang yang berkualitas.

Sambil tetap menjalankan 2 kegiatan (kios dan distribusi ke tukang sayur), saya mencoba alternatif penjualan keliling dan mangkal di pinggir jalan.

Saya mencoba survei dan keliling beberapa tempat yang kira-kira cocok. Kebetulan saya punya sepupu yang biasanya berjualan beras dan paman yang biasanya berjualan buah potong. Mereka setuju untuk berjualan pisang asal dibuatkan media untuk berjualan.

Jadi saya kontak paman yang lain, minta bantuannya untuk membuatkan bronjong (keranjang kiri kanan) sebagai tempat pisang sekalian bisa untuk mangkal berjualan. Bronjongnya diletakkan dibagian belakang, kiri dan kanan sepeda motor.

Bentuknya sederhana tapi fungsinya sesuai. Saya mengambil ide dari penjual nanas madu. Sebenarnya saya minta kayu vertikal dan horisontalnya lebih tinggi dan panjang agar lebih mudah membuat display pisang. Untuk awalan yang dibuat saat ini cukup, tapi saya minta desainnya lebih disempurnakan.

Setelah jadi, saya coba simulasikan penempatan pisangnya. Saat berangkat dari rumah atau saat sedang berjalan, sebagian besar pisang ada didalam bronjong. Jadi nggak ada kemungkinan pisang jatuh atau terlempar. Saat awal berjualan, displaynya memang belum rapi. Belum lengkap dan belum tertata, tapi tidak apa-apa buat awalan.

Di Excellent (usaha saya dibidang IT, https://www.excellent.co.id), ada satu prinsip yang diambil dari pola di Microsoft, yaitu release early release often. Apa sih arti dari prinsip itu?

Artinya adalah, rilis awal dan rilis lebih sering. Maksud dari prinsip itu adalah, jika kita menunggu sampai segala sesuatu berjalan sempurna, bisa jadi nggak akan pernah kita mulai. Jika sudah sampai titik cukup memadai (MVP, Minimum Viable Product), tidak apa-apa dirilis atau dijalankan. Nanti seiring waktu, kita dapat melengkapinya berdasarkan feedback atau masukan dari pengguna.

Jadi, meski media untuk berjualan belum terlalu bagus dan belum 100% sesuai harapan, saya tetap mulai menjalankannya.

Saya memberikan modal awal, media untuk berjualan, pisang untuk dijual dan pesan sponsor : “Bang, tantangan terberat berjualan adalah jika seharian berjualan tidak ada satupun yang terjual. Tapi nggak apa-apa, masya kita mau guling-gulingan karena nggak ada yang terjual. Nanti kita review apa kekurangannya…”

Sebenarnya saya berkata begitu untuk menguatkan diri saya sendiri, hehehe… Sepupu dan paman saya kan sudah pernah berjualan, jadi mereka harusnya sudah cukup paham.

Jumat kemarin mereka mulai berjualan. Jam 9 pagi saya dikabari oleh adik saya yang saya minta untuk mengecek. Kata dia,

“Pisang Kepok kuning tinggal 2 sisir, pisang ambon 1 sisir. Itu juga karena pisang Ambonnya masih mentah Penjualan Langsung : Keliling dan Mangkal

“Pisang Tanduk terjual 12 buah,” katanya melanjutkan laporan.

Kesimpulan awal : peluang berjualan keliling dan mangkal masih ada. Asal mau berusaha, tetap ada peluang.

Laporan dari sepupu saya lebih keren lagi.

“Om Vavai, pisang yang saya bawa sudah habis. Besok kirim lagi ya…”.

Secara bercanda saya bilang, “Itu pisang habis dibagi-bagi atau dimakan atau dijual”

“Tentu saja dijual om, nih uangnya ada di saya…” katanya sambil tertawa.

Jadi posisi sekarang saya berusaha merapikan dan menjaga kestabilannya. Secara peluang ada. Ibarat survival di hutan dan berusaha menghidupkan api, apinya sudah ada. Saya perlu menjaganya agar tidak mati dan bisa terus membesar.

Perkembangan Usaha Penjualan Pisang “Zeze Zahra” Setelah 1 Bulan

Catatan : Ini adalah catatan saya yang diposting tanggal 1 Desember 2020 di group Komunitas Petani Pisang.

Hari ini genap 1 bulan saya berjualan pisang melalui kios “Aneka Pisang Zeze Zahra”. Bagaimana perkembangannya? Apakah kolaps? Menyerah atau kapok berjualan pisang? Bahwa berjualan pisang itu tidak seindah ilusi awalnya?

Perkembangannya sejauh ini berjalan dengan baik. Apakah kolaps? Alhamdulillah tidak. Apakah menyerah? Juga tidak. Apakah kapok berjualan pisang? Juga tidak. Berjualan pisang memang bertemu banyak hal, baik kendala maupun hal yang menyenangkan, tapi justru hal itu yang membuat hidup jadi indah untuk dijalani, tsahelah…

Secara total, berjualan pisang selama 1 bulan penuh dari 1 November 2020 sampai dengan 30 November 2020 memiliki omset sekitar 14 juta rupiah. Ini omset ya, bukan profit. Kalau begitu, berapa profitnya? Profitnya rahasia, tapi nggak besar-besar amat juga.

Kadang ada yang pingin tahu sampai detail, harap dipahami juga bahwa ada beberapa hal yang sungkan saya ekspos karena terkait dengan negoisasi dengan pihak lain juga.

Sebagai contoh misalnya untuk keripik pisang. Keripiknya saya ambil dari adik saya dengan margin super tipis. Tidak apa-apa, karena sedikit banyak bisa membantu produksi adik saya. Saat menjual ke reseller, marginnya juga tipis, tidak apa-apa yang penting delivery barang bisa cepat dan stabil.

Saya juga menerima kiriman pisang tertentu dari rekan lain. Misalnya pisang Barangan, Raja Bulu dan pisang Tanduk. Marginnya juga tidak terlalu besar, tapi tidak masalah asal kualitas bagus, semua bisa senang. Petani senang dapat harga bagus. Supplier senang dapat margin lumayan. Saya senang karena bisa mudah jual pisang yang bagus dan pembeli juga senang karena pisangnya enak, bagus dan kualitas super. Masing-masing pihak bisa mendapat kebaikan dan hasil yang menyenangkan dari awalan yang bagus. Saling mendukung dan berusaha selalu meningkatkan kualitas.

Dari data selama 1 bulan, penjualan terlaris ada di kisaran 1 juta rupiah, penjualan paling sepi ada di kisaran 100 ribu rupiah. Fluktuasi tiap harinya, tergantung pada stock yang ada dan pada situasi di Zeze Zahra. Misalnya saat hujan lebat, mungkin penjualan sedikit karena orang jarang yang beredar. Saat akhir pekan, penjualan lumayan ramai karena ada banyak yang berolahraga di lapangan depan Zeze Zahra.

Apakah hasil penjualan tersebut bisa menutup biaya? Kalau yang dimaksud adalah biaya total, tentu saja belum. Sejak awal berjualan, saya menyiapkan waktu 3 bulan untuk pengenalan kios dan melihat kondisi pasaran (market overview). Jadi sampai 2 bulan kedepan saya masih menganggap tahapannya adalah tahapan “pengeluaran”. Bagi saya, di bulan pertama sudah ada pemasukan sudah melebihi ekspektasi saya.

Saat awal berjualan ada yang bertanya, “Itu stock display banyak yang matang, kalau nggak laku nanti gimana?”. Jawabannya mudah banget. Kalau nggak laku, nanti jadi busuk lha ya Perkembangan Usaha Penjualan Pisang “Zeze Zahra” Setelah 1 Bulan

Iya, beneran. Kalau stock banyak yng tidak laku, hasilnya jadi busuk. Dan itu benar terjadi di minggu pertama saya berjualan. Bagaimana cara mengatasinya? Sebelum sampai busuk, ada yang saya jadikan kue bolu, ada yang saya jadikan sale pisang. Yang terlewat busuk saya kirimkan ke ternak kambing untuk tambahan pakan.

Di Excellent (induk usaha Zeze Zahra), saya menyebutnya “Biaya pembelajaran”. Kita bisa menyiapkan diri sebaik mungkin sebelum melakukan usaha, namun tetap ada kemungkinan hal-hal tertentu yang baru ditemukan atau dialami setelah menjalaninya.

Penanganan stock yang expired ini memerlukan usaha disisi pengaturan stock matang. Jadi saya mengatur mana pisang yang diperam dan mana yang dibiarkan terkena angin sepoi-sepoi. Jumlahnya tidak banyak-banyak, tapi dibuat urutan secara timeline/timelapse. Misalnya pisang Ambon yang diperam hari ini ada 5 sisir, besok diperam lagi 5 sisir dan seterusnya. Jadi stock tidak sampai kosong, tapi juga tidak berlebihan.

Jika di minggu pertama misalnya ada 20% stock yang expired, di minggu berikutnya jumlah tersebut bisa turun drastis. Selain pengaturan stock, saya juga kadang melepas pisang dengan harga lebih rendah dari label. Semacam “Tidak apa-apa untung tipis atau balik modal saja daripada tidak dapat sama sekali”.

Selain dari kios, sebenarnya hasil penjualan juga dibantu dari lini penjualan langsung. Zeze Zahra sebenarnya diposisikan sebagai pangkalan. Jadi beberapa reseller mengambil pisang dari Zeze Zahra dengan harga khusus, nanti mereka yang berjualan keliling atau mangkal ditempat lain. Saya pernah menuliskannya disini dengan judul “Penjualan Langsung”.

Menjual ke reseller mengurangi margin/keuntungan, tapi tidak masalah asal prosesnya stabil dan lancar. Untung tipis tapi mengalir lancar daripada untung besar tapi tersendat. Untuk lini penjualan langsung ini, saya bahkan memberikan modal awal agar mereka bisa berjualan dengan leluasa.

Saya siapkan keranjang/bronjong untuk berjualan, saya sediakan pisang untuk jualan awal, saya berikan modal awal untuk uang kembalian dan uang operasional bahkan saya sediakan kendaraan untuk berjualan. Besar sekali dong biayanya? Besar kecilnya relatif tapi tetap ada kalkulasi detail untuk setiap rupiah yang dikeluarkan.

Kelihatannya mudah ya, kalau ada uang untuk modal. Usaha apa saja lancar…

Nggak juga. Kalau kata alm Bob Sadino, “Usaha apa yang bagus?” jawabannya adalah “Usaha yang dijalankan”. Kalau nggak dijalankan hasilnya nggak akan ada. Mimpi saja jadinya. Masih lumayan kalau mimpi yang nantinya akan dijalani, tapi kalau hanya sampai ditahapan mimpi, hasilnya juga hanya angan-angan semu.

Ada juga kalimat “The devil is in the detail”, bahwa kalau nggak hati-hati, kalkulasinya tidak detail. Tidak memperhatikan rincian usaha. Bisa bermasalah nantinya. Modal besar, tidak perhitungkan detail yang ada malah bocor dimana-mana.

Sejak awal, Aneka Pisang Zeze Zahra dirilis dalam rangka menyiapkan lini penjualan untuk hasil dari kebun pisang yang diperkirakan mulai panen massal di kisaran Januari-Februari 2021. Dengan mengetahui hambatan-hambatan yang dialami sejak awal, saya punya waktu untuk menyiapkan eskalasi dan solusi untuk hambatan tersebut lebih dini.

Buat rekan-rekan yang menjadi petani atau pedagang, tetap semangat ya. Semoga lelahmu menjadi berkah bagi penghidupan yang dijalani.

Jalannya berkelok dan mendaki
Siapa menanti tak pernah kutahu
Sunyiku pun kekal: menjajah diri
Dan angin pun gelisah menderu

Ah, ingin aku istirahat dari mimpi
Namun selalu kudengar ia menyeru
Tentang jejak di tanah berdebu
Diam-diam aku pun berangkat pergi

Bekerja Keras dan Responsif

Hari Jumat beberapa waktu yang lalu, ada yang menghubungi saya melalui WA. Menawarkan apakah saya berminat mengambil pisang darinya.

Sama seperti tawaran rekan-rekan yang lain, secara prinsip saya terbuka terhadap peluang itu. Masalahnya hanya satu, yaitu bahwa kios saya masih kecil. Jadi kalau misalnya dikirim 1 truk, ya saya belum sanggup. Karena saya juga masih merintis usaha sekaligus membangun jaringan.

Anggaplah saya bisa menjual 5 sisir pisang per hari, berarti dalam seminggu kesanggupan saya rata-rata 30 sisir. Itu yang kadang jadi nggak klop, karena kalau pemasok kirim ke saya hanya 30 sisir, rugi bandar dan rugi di biaya transportasi.

Kadang ada juga yang berkomunikasi dengan saya, namun saat saya coba hubungi, responnya kurang optimal. Antara mau dengan tidak, bahkan saya sampai harus bertanya beberapa kali untuk memastikan hal tertentu.

Yang menghubungi saya kali ini berbeda. Saya tanyakan harga, dia terbuka pada pilihan harga. Misalnya ada 3 kategori pisang yang bisa mereka deliver. Anggaplah grade A, grade B dan grade C. Misalnya grade A adalah pisang 1 sisir dengan berat 3 kg, grade B pisang dengan berat 2 kg dan seterusnya.

Saya tanyakan foto, dia kirimkan foto. Bahkan dia tawarkan, jika perlu dia kirimkan sample. Saya tanyakan kapan bisa dikirimkan sample jika saya berminat, dia bilang hari itu juga bisa dikirimkan.

Keren. Jika awalnya minat saya hanya 40%-60% (saya hanya minat 40% karena saya punya kebun sendiri dan juga belum yakin apakah mau ambil stock dari yang lain atau tidak), perlahan tingkat peminatan saya naik.

Saat dia sampaikan pisang yang mau dikirimkan ada 3 tipe, yaitu Barangan, Mas Kirana dan Tanduk, saya semakin cocok. Karena ketiga pisang tersebut belum produtif dikebun saya.

Saya sampaikan pesan terakhir, jika mau datang diusahakan sebelum jam 4. Ini sebagai ujian juga sebenarnya, karena jam 5 saya tutup kios dan saya tidak leluasa jika saat hendak tutup kios harus ngobrol detail. Ujian terakhir ini juga lulus, karena dia bilang oke.

Sekitar pukul 14.00 WIB, ada mobil berhenti di depan kios Zeze Zahra. Saya ke depan dan ternyata benar yang datang adalah yang sebelumnya diskusi dengan saya di WA. Berdua dengan rekannya yang sama-sama wanita, dia mulai menurunkan box pisang dibantu pak driver.

Saya sampaikan padanya, wah keren ya, hebat sekali. Perempuan, panas-panas mau datang ke Bekasi. Menurunkan box pisang. Mau merintis jalur pemasaran dan mendatangi calon prospek satu per satu. Jika saya ingin merekrut team untuk perusahaan saya, saya butuh sosok seperti mereka, yang mau bekerja keras dan merintis jalur dari awal.

Saya check, kualitas pisangnya OK. Rapi dan bagus. Saya lihat tingkat tua-nya cukup merata. Buahnya halus menandakan penanganan pasca panennya rapi. Akhirnya saya memilih beberapa grade yang hendak saya ambil dan hendak saya coba display di tempat saya. Dari niatan awal mengambil beberapa sisir sebagai sample akhirnya saya mengambil lebih banyak daripada rencana semula.

Sabtu pagi saya display di toko offline Zeze Zahra. Paralel saya display juga di toko online. Kemudian update ke sosial media.

Beberapa pesanan langsung masuk secara online. Ada juga yang membeli secara offline dari display di toko offline Zeze Zahra. Jadi saya cukup percaya diri untuk mengeksekusi rencana lanjutan, yaitu mengembangkan jalur pemasaran. Misalnya membuka kios baru, membuat jalur pemasaran langsung menggunakan stand (gerobak jualan) dan juga jalur pemasaran keliling perumahan di tempat terpisah.

2 hari sebelumnya saya membaca status salah satu member di Komunitas Petani Pisang, mengenai “jalan sunyi” para petani atau penjual pisang, yang bagi orang lain kelihatannya berat menjalani pekerjaan. Pakaian bercak-bercak terkena getah. Kelihatan lelah dibandingkan mereka-mereka yang bisa tiduran atau ngerumpi ngalor-ngidul.

Tidak apa-apa, kan masing-masing punya jalan hidup berbeda. Sepanjang kita sendiri menikmati kegiatan positif yang kita lakukan, ya jalani saja. Terlalu ribet jika harus memikirkan komentar orang lain yang tidak memberikan value bagi kegiatan kita.

Itu sebabnya saya kagum pada para petani pisang yang selalu berkomitmen mengatasi kendala yang dialami. Yang tidak pernah menyerah. Yang berusaha belajar meningkatkan kualitas tanaman mereka. Kagum pada para penjual pisang, laki-laki maupun perempuan, yang tetap enjoy mengangkat box atau tandan pisang, meski berat dan butuh kerja keras, karena pada akhirnya kerja keras itu akan berbuah manis juga kedepannya.

Meningkatkan Nilai Tambah & Daya Tarik

Saya tertarik memperhatikan kebiasaan beberapa rekan di group Komunitas Petani Pisang di Facebook. Ada yang tanya jenis pohon pisang (saya juga pernah), tanya harga (Harus menyadari bahwa harga di daerah bisa berbeda dengan di ibu kota, harga di pulau Jawa bisa berbeda dengan di luar pulau Jawa). Salah satu posting yang cukup banyak dan tiap hari selalu ada, adalah posting yang menjual bibit pohon pisang.

Sebagian besar rekan-rekan yang menjual bibit pisang melakukan posting foto. Ada juga mencantumkan list jenis bibit ditambah no HP untuk kontak via WA. Sebagian lagi terlalu lelah untuk menulis ulang sehingga memforward posting yang sama ke berbagai group.

Dari sudut pandang saya sebagai orang yang pernah membeli bibit, hal seperti itu masih bisa ditingkatkan dan diperbaiki kualitasnya. Saya tidak katakan salah, karena kan nyatanya ada yang beli dan sudah berjalan juga kok.

Bicara bisnis yang sustain (bertahan lama dan berkembang) menurut saya harus mengacu pada nilai tambah. Nilai tambah apa yang bisa diberikan pada calon pembeli.

Kalau kita menjual bibit dengan cara sekedar ikutan, hasilnya juga mungkin akan ikutan saja. Bagaimana caranya saya atau calon pembeli lain bisa membedakan penjual yang berkompeten dengan yang tidak, dengan cara yang mudah, itu bisa menjadi masukan sebagai titik awal perbaikan kualitas.

Saran saya yang pertama, jangan asal forward. Biarlah cape sedikit memposting ulang, daripada posting di group Komunitas XXX diforward ke group ini. Kesannya jadi kurang niat. Pilih foto yang bagus, jangan foto asal. Tidak harus pakai kamera atau HP mahal. Perhatikan angle pengambilan fotonya. Kalau perlu minta bantuan teman buat fotokan.

Saran kedua, pilih bibit yang terbaik untuk difoto. Kirim juga bibit terbaik sesuai foto. Jangan bagus difoto tapi saat dikirim kualitasnya menyedihkan.

Jualan bibit mungkin margin atau keuntungannya tidak besar. Sama, jualan pisang juga marginnya tidak besar. Meski tidak besar, kalau ditekuni akan besar juga.

Saran ketiga, lengkapi fotonya. Jangan sekedar bibit kecil-bibit bonggol dan bibit dongkelan. Lengkapi dengan foto contph saat bibit sudah mulai ditanam. Lebih bagus lagi jika ada foto contoh bibit yang pohonnya sudah besar dan sudah berbuah.

Jika perlu, siapkan lahan khusus untuk membesarkan bibit. Jadi calon pembeli bisa tahu kualitas bibitnya. Kalau tidak punya lahan luas, lahan beberapa meter persegi juga tidak apa-apa sebagai sample. Sebagai contoh. Kalau tidak ada kebun khusus, rawat pohon yang biasa digunakan sebagai indukan sebaik mungkin. Agar anakannya sehat dan bagus, menarik juga saat difoto

Saran keempat, belajar story telling dan soft selling. Jangan sekedar, “Ayo siapa yang mau beli bibit. WA ke nomor XXXXXX”. Coba analogikan dengan diri kita sendiri. Kita didatangi orang yang belum kenal dan belum apa-apa dia langsung menawarkan sesuatu. Mungkin saja kita mau tapi besar kemungkinan kita merasa terganggu.

Apa itu story telling. Story telling itu menulis posting seperti kita bercerita pada teman. Jadi pembaca cerita atau posting kita merasa terlibat. Merasa jadi partner, hanyut dalam cerita.

Apa itu soft selling. Soft selling itu menjual secara halus. Tidak kentara menjual. Kalau hard selling, “Ayo beli bibit saya…” sedangkan soft selling lebih santuy. Dia bercerita tentang kebiasaannya saat pagi memeriksa kebun. Saat menyiram dan memupuk tanaman. Saat membersihkan lahan. Lahan apa? Tanaman apa? Lahan pisang tanaman pisang bibit pisang.

Soft selling digabung dengan story telling juga bisa. Misalnya cerita, “Saya pernah salah dan tertipu membeli bibit pisang. Sudah menunggu 1 tahun, eh saat berbuah ternyata pisangnya lain. Hal itu mendorong saya untuk lebih selektif dalam memilih bibit. Itu juga yang mendasari saya menyiapkan bibit sendiri dari indukan berkualitas yang dirawat bagai anak sendiri. Bagi rekan-rekan yang berminat bisa juga mendapatkan bibit ini melalui xxxx… dan seterusnya…””

Itu saja masih kurang soft tapi jauh lebih baik dari sekedar foto tanpa keterangan apa-apa. Kita bisa saja menulis soal tips memilih bibit pisang (misalnya memilih bibit dongkelan yang masih berdaun pedang, dengan bonggol besar, bentuknya seperti piramida dan seterusnya), tips merawat bibit, menyiapkan lubang tanam, menyiapkan pupuk dan lain-lain. Informasi itu bisa bermanfaat bagi pembaca dan bagi orang lain termasuk calon pembeli.

Kalau saya jadi calon pembeli, saya akan memprioritaskan pembelian pada orang yang merasa saya kenal dekat melalui tulisan atau foto, daripada pada orang yang tidak saya kenal sama sekali.

Saya ingat pengalaman saya membeli bibit pisang di group dan saya bandingkan dengan pengalaman saya membeli bibit tanaman buah dari pak Fathur Pamelo (Admin dan founder group Komunitas Petani Pisang). Saat sebelum dan sesudah menerima bibit tanaman buah, pak Fathur menginformasikan pada saya mengenai apa saja yang perlu disiapkan, tanah dan lubang tanamnya harus diapakan, mekanisme perawatannya seperti apa, agar mendapatkan hasil dan kualitas yang diinginkan. Informasi ini bermanfaat bagi saya agar bisa mendapatkan hasil sesuai harapan.

Saran kelima, buat catatan data pembeli dan jaga relasi. Pembeli yang berulang kali adalah pembeli yang harus dijaga. Pembeli yang gak pake ribet untuk pembayaran, yang cincai dan enak diajak komunikasi, itu dicatat dan diprioritaskan. Jangan lupa, pembeli itu malah punya kekuatan lebih, yaitu dia bisa jadi referensi buat yang lain.

Pembeli bisa punya foto bibit-bibit yang setelah ditanam ternyata hasilnya bagus sekali. Coba minta izin untuk dapatkan fotonya. Izin dapatkan suasana kebun dan tipsnya. Itu sangat berharga karena jadi proof of concept dari kualitas bibit yang kita jual.

Kadang sebagai penjual, kita salah mengejar capung (ini analogi kejauhan hehehe, saya pas inget capung). Maksudnya begini. Kita sampai susah payah mencari pembeli macam-macam, sedangkan pembeli yang bagus malah diabaikan. Tidak dimaintain, tidak dirawat komunikasi dan relasinya. Tidak ditanyakan bagaimana kualitas bibitnya setelah ditanam. Tidak ditanyakan apakah minat beli lagi atau tidak. Tidak ditanyakan, apa saja yang perlu diperbaiki dari produk dan layanan kita sebagai penjual.

Saran yang terakhir, usahakan untuk selalu memberikan bibit kualitas bagus pada pembeli. Jangan bibit asal cabut asal dongkel. Pembeli itu bukan orang bodoh yang manut saja diberikan bibit gak jelas. Iya dia akan terima tapi terpaksa dan tidak akan membeli kedua kalinya. Kalau berniat usaha dibidang bibit, mulailah menyisihkan modal dan tenaga untuk menyiapkan bibit-bibit bagus. Kerjasama dengan rekan lain disekitar juga tidak masalah. Keluar modal untuk ambil bibit berkualitas dari teman juga bukan suatu kerugian, sepanjang kita bisa dapat margin dan profit.

Kalau kita niat usaha, apapun jenis usahanya, usahakan sebaik-baiknya. Agar kita jadi mastering dibidang yang kita tekuni. Kalau kita punya produk berkualitas ditambah dengan belajar kemampuan story telling dan soft selling, pesanan yang datang tinggal menunggu waktu kok.

Kios Aneka Pisang “Zeze Zahra II”

Ada sebuah kios/ruko milik keluarga yang tidak diperpanjang kontraknya (tepatnya dialihkan kontraknya). Lokasinya di kampung Warung Asem, Desa Sumber Jaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Tepat di depan rumah orang tua saya.

Ukurannya cukup luas. Sebelumnya digunakan oleh pedagang bahan pakaian, benang dan kain. Saya ditanya apakah hendak disewakan lagi atau mau dipakai sendiri. Saya bilang, akan dipakai sendiri.

Rencananya kios itu akan digunakan untuk berjualan pisang. Menjadi Zeze Zahra II. Bentuk dan tampilannya akan menyesuaikan pada lingkungan dan target pasar, yaitu kawasan perkampungan dan perumahan.

Zeze Zahra II nantinya akan menampung pisang dari kebun pisang di Karawang. Jadi hasil dari kebun akan dijual ke Zeze Zahra II. Dari Zeze Zahra II, selain dijual langsung secara eceran, sebagian akan didistribusikan ke Zeze Zahra I dan beberapa lini penjualan langsung (penjualan menggunakan sepeda motor atau mangkal menggunakan gerobak dorong).

Zeze Zahra II juga nantinya akan diarahkan untuk menerima pemesanan pisang dalam jumlah besar, misalnya untuk keperluan kenduri, hajatan, pernikahan dan lain-lain.

Upaya membuka Zeze Zahra II adalah bagian dari ikhtiar meningkatkan jumlah penjualan saat Zeze Zahra I masih dalam proses recovery penjualan (terkait penurunan dan upaya recovery penjualan Zeze Zahra saya tuliskan beberapa waktu lalu, bisa disearch di group ini dengan kata kunci “zeze zahra”).

Jadi daripada mengeluh mengenai penjualan lesu, tawaran murah dari pembeli dan tingkat konsumsi yang menurun, lebih baik saya tetap mencari peluang penjualan yang ada, karena hidup kan harus terus berjalan.

Saya perhatikan, kalau tidak ada badai atau hujan lebat berjam-jam, variasi penjualan Zeze Zahra secara langsung menggunakan sepeda motor yang mangkal di pinggir jalan nilainya cukup stabil. Tantangannya memang hujan dan angin kencang, kalau tidak fit penjualnya bisa masuk angin. Tapi secara konsumsi masyarakat, secara umum masih cukup baik. Bahasanya, orang masih makan pisang. Meski mungkin tidak sebanyak saat bulan puasa atau saat kondisi normal.

Itu sebabnya kemarin saya menyetujui pinjaman sepeda motor untuk sepupu saya yang berjualan langsung ke perumahan. Pisang yang dibawa sepupu saya ini biasanya selalu habis terjual, karena orangnya supel dan suka bercanda. Pembeli mungkin jadi terhipnotis, mau membeli tanpa merasa dipaksa. Biasanya dia membawa pisang Kepok, Ambon, Barangan, Tanduk dan pisang Uli.

Sepeda motor yang diberikan padanya adalah sepeda motor milik Qchen adik saya (yang biasa mengurus kebun pisang Zeze Zahra). Kondisinya masih bagus karena memang biasa dipakai ole Qchen.

Kalau dinilai dengan uang, harga sepeda motor itu tidak murah. Bisa diatas 10 juta rupiah.

Besar amat modal jualan pisang, sampai bisa berjuta-juta? Sebenarnya relatif. Kita berjualan pisang tanpa modal juga bisa. Pakai sistem konsinyasi, jualan dulu baru nanti hitung berapa yang terjual. Saya juga bisa menerapkan sistem itu, tapi berdasarkan pengalaman awal, hasilnya kurang maksimal. Karena nilai tanggung jawabnya agak kurang.

Saya memilih memberikan modal. Dengan modal itu, dia (penjual pisang eceran) bisa membeli pisang di Zeze Zahra. Kalau misalnya pisang dibeli 10 ribu rupiah per sisir di Zeze Zahra, urusan si penjual mau jual di harga berapa. Mau dijual di harga 15, 20 atau 25 ribu rupiah itu sudah haknya si penjual.

Hal ini akan meningkatkan semangat dan tanggung jawab penjual. Bagaimana jika ada pisang yang tidak laku terjual? Secara prinsip sebenarnya juga tanggung jawab si penjual, tapi Zeze Zahra tidak kejam-kejam amat. Keberhasilan penjual eceran pada dasarnya keberhasilan Zeze Zahra. Disisi lain, kerugian si penjual eceran juga akan berpengaruh pada daya beli dia ke Zeze Zahra.

Jadi saya biasanya fleksibel. Pisang dari penjual eceran Zeze Zahra, boleh ditukar. Tapi diverifikasi juga, jangan sampai jadi malah mengurangi tanggung jawab. Sejauh ini sih berjalan baik dan jarang terjadi. Hanya terjadi jika cuaca tidak baik atau ada kejadian tertentu (misalnya si penjual eceran sakit sehingga tidak berjualan dan stock pisangnya jadi terlalu matang).

Jangan khawatir juga jika harus mengeluarkan modal atau uang. Sepanjang hasilnya diperkirakan sepadan, pengeluaran uang bukan pemborosan. Dalam case sepupu saya yang dipinjami sepeda motor, itu juga ada kalkulasinya. Bukan kalkulasi kredit motor, melainkan kalkukasi kelancaran berjualan. Jika dia kerap gagal berjualan karena motornya mogok, efeknya tentu pada rutinitas pengambilan pisang yang ia lakukan ke Zeze Zahra. Yang lebih fatal adalah efek ke pembeli. Jika sering tidak berjualan, pembeli setiapun akan bisa berpindah ke lain hati karena merasa kecewa. Nilai kerugiannya akan jauh lebih besar.

Dari semua ikhtiar yang dilakukan, memang masih belum kelihatan apakah akan berhasil atau tidak. Menurut saya pointnya bukan soal berhasil atau tidak, melainkan apakah dilakukan atau tidak. Kalau sudah dilakukan, kita tinggal menunggu hasil. Kalau tidak pernah dilakukan, kita tidak akan pernah tahu.

“Mas, bicara apa saja enak kalau punya uang. Kalau nggak punya uang gimana? Kalau nggak ada bakat jualan gimana?”

Kalau kita selalu melihat sisi kekurangan ya tidak akan ada habisnya. Saya masih ingat, dulu saat kuliah sambil kerja dan tidak punya uang, saya berniat jualan cabai bawang di pasar. Karena modal tidak ada, saya oke saja jika harus menjadi kuli panggul atau menjadi pembantu jualan orang lain agar bisa mendapatkan modal awal. Kuncinya adalah kemauan.

Soal bakat berjualan, siapa sih yang baru lahir sudah bisa jualan. Kita kan bisa belajar dari pengalaman. Kalau kita terdesak kebutuhan hidup, kita bisa kok belajar cepat. Karena kita terdesak. Kalau kata Cak Lontong, “Kata siapa berjualan itu susah. Saya, waktu 2 bulan dipecat dari pekerjaan, saya bisa jual kulkas, TV, motor dan lain-lain. Mudah kok jualan itu”, hehehe…

Selain buah pisang, saya juga melihat potensi penjualan bibit pisang pilihan. Bibit pisang Kepok Kuning misalnya, peminatnya cukup banyak dan bibit maupun buahnya banyak tersedia di kebun Zeze Zahra. Sudah terbukti berbuah dan buahnya bagus. Ini bisa jadi nilai tambah berikutnya.

Kalau kita fokus pada suatu hal, berusaha “mastering”ilmunya, pelan-pelan kita akan menemukan kenyamanan untuk terus berusaha meningkatkan kemampuan, yang pada gilirannya akan bersinergi pada upaya kita meningkatkan pendapatan.

Kios Aneka Pisang “Zeze Zahra II”

Ada sebuah kios/ruko milik keluarga yang tidak diperpanjang kontraknya (tepatnya dialihkan kontraknya). Lokasinya di kampung Warung Asem, Desa Sumber Jaya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi. Tepat di depan rumah orang tua saya.

Ukurannya cukup luas. Sebelumnya digunakan oleh pedagang bahan pakaian, benang dan kain. Saya ditanya apakah hendak disewakan lagi atau mau dipakai sendiri. Saya bilang, akan dipakai sendiri.

Rencananya kios itu akan digunakan untuk berjualan pisang. Menjadi Zeze Zahra II. Bentuk dan tampilannya akan menyesuaikan pada lingkungan dan target pasar, yaitu kawasan perkampungan dan perumahan.

Zeze Zahra II nantinya akan menampung pisang dari kebun pisang di Karawang. Jadi hasil dari kebun akan dijual ke Zeze Zahra II. Dari Zeze Zahra II, selain dijual langsung secara eceran, sebagian akan didistribusikan ke Zeze Zahra I dan beberapa lini penjualan langsung (penjualan menggunakan sepeda motor atau mangkal menggunakan gerobak dorong).

Zeze Zahra II juga nantinya akan diarahkan untuk menerima pemesanan pisang dalam jumlah besar, misalnya untuk keperluan kenduri, hajatan, pernikahan dan lain-lain.

Upaya membuka Zeze Zahra II adalah bagian dari ikhtiar meningkatkan jumlah penjualan saat Zeze Zahra I masih dalam proses recovery penjualan (terkait penurunan dan upaya recovery penjualan Zeze Zahra saya tuliskan beberapa waktu lalu, bisa disearch di group ini dengan kata kunci “zeze zahra”).

Jadi daripada mengeluh mengenai penjualan lesu, tawaran murah dari pembeli dan tingkat konsumsi yang menurun, lebih baik saya tetap mencari peluang penjualan yang ada, karena hidup kan harus terus berjalan.

Saya perhatikan, kalau tidak ada badai atau hujan lebat berjam-jam, variasi penjualan Zeze Zahra secara langsung menggunakan sepeda motor yang mangkal di pinggir jalan nilainya cukup stabil. Tantangannya memang hujan dan angin kencang, kalau tidak fit penjualnya bisa masuk angin. Tapi secara konsumsi masyarakat, secara umum masih cukup baik. Bahasanya, orang masih makan pisang. Meski mungkin tidak sebanyak saat bulan puasa atau saat kondisi normal.

Itu sebabnya kemarin saya menyetujui pinjaman sepeda motor untuk sepupu saya yang berjualan langsung ke perumahan. Pisang yang dibawa sepupu saya ini biasanya selalu habis terjual, karena orangnya supel dan suka bercanda. Pembeli mungkin jadi terhipnotis, mau membeli tanpa merasa dipaksa. Biasanya dia membawa pisang Kepok, Ambon, Barangan, Tanduk dan pisang Uli.

Sepeda motor yang diberikan padanya adalah sepeda motor milik Qchen adik saya (yang biasa mengurus kebun pisang Zeze Zahra). Kondisinya masih bagus karena memang biasa dipakai ole Qchen.

Kalau dinilai dengan uang, harga sepeda motor itu tidak murah. Bisa diatas 10 juta rupiah.

Besar amat modal jualan pisang, sampai bisa berjuta-juta? Sebenarnya relatif. Kita berjualan pisang tanpa modal juga bisa. Pakai sistem konsinyasi, jualan dulu baru nanti hitung berapa yang terjual. Saya juga bisa menerapkan sistem itu, tapi berdasarkan pengalaman awal, hasilnya kurang maksimal. Karena nilai tanggung jawabnya agak kurang.

Saya memilih memberikan modal. Dengan modal itu, dia (penjual pisang eceran) bisa membeli pisang di Zeze Zahra. Kalau misalnya pisang dibeli 10 ribu rupiah per sisir di Zeze Zahra, urusan si penjual mau jual di harga berapa. Mau dijual di harga 15, 20 atau 25 ribu rupiah itu sudah haknya si penjual.

Hal ini akan meningkatkan semangat dan tanggung jawab penjual. Bagaimana jika ada pisang yang tidak laku terjual? Secara prinsip sebenarnya juga tanggung jawab si penjual, tapi Zeze Zahra tidak kejam-kejam amat. Keberhasilan penjual eceran pada dasarnya keberhasilan Zeze Zahra. Disisi lain, kerugian si penjual eceran juga akan berpengaruh pada daya beli dia ke Zeze Zahra.

Jadi saya biasanya fleksibel. Pisang dari penjual eceran Zeze Zahra, boleh ditukar. Tapi diverifikasi juga, jangan sampai jadi malah mengurangi tanggung jawab. Sejauh ini sih berjalan baik dan jarang terjadi. Hanya terjadi jika cuaca tidak baik atau ada kejadian tertentu (misalnya si penjual eceran sakit sehingga tidak berjualan dan stock pisangnya jadi terlalu matang).

Jangan khawatir juga jika harus mengeluarkan modal atau uang. Sepanjang hasilnya diperkirakan sepadan, pengeluaran uang bukan pemborosan. Dalam case sepupu saya yang dipinjami sepeda motor, itu juga ada kalkulasinya. Bukan kalkulasi kredit motor, melainkan kalkukasi kelancaran berjualan. Jika dia kerap gagal berjualan karena motornya mogok, efeknya tentu pada rutinitas pengambilan pisang yang ia lakukan ke Zeze Zahra. Yang lebih fatal adalah efek ke pembeli. Jika sering tidak berjualan, pembeli setiapun akan bisa berpindah ke lain hati karena merasa kecewa. Nilai kerugiannya akan jauh lebih besar.

Dari semua ikhtiar yang dilakukan, memang masih belum kelihatan apakah akan berhasil atau tidak. Menurut saya pointnya bukan soal berhasil atau tidak, melainkan apakah dilakukan atau tidak. Kalau sudah dilakukan, kita tinggal menunggu hasil. Kalau tidak pernah dilakukan, kita tidak akan pernah tahu.

“Mas, bicara apa saja enak kalau punya uang. Kalau nggak punya uang gimana? Kalau nggak ada bakat jualan gimana?”

Kalau kita selalu melihat sisi kekurangan ya tidak akan ada habisnya. Saya masih ingat, dulu saat kuliah sambil kerja dan tidak punya uang, saya berniat jualan cabai bawang di pasar. Karena modal tidak ada, saya oke saja jika harus menjadi kuli panggul atau menjadi pembantu jualan orang lain agar bisa mendapatkan modal awal. Kuncinya adalah kemauan.

Soal bakat berjualan, siapa sih yang baru lahir sudah bisa jualan. Kita kan bisa belajar dari pengalaman. Kalau kita terdesak kebutuhan hidup, kita bisa kok belajar cepat. Karena kita terdesak. Kalau kata Cak Lontong, “Kata siapa berjualan itu susah. Saya, waktu 2 bulan dipecat dari pekerjaan, saya bisa jual kulkas, TV, motor dan lain-lain. Mudah kok jualan itu”, hehehe…

Selain buah pisang, saya juga melihat potensi penjualan bibit pisang pilihan. Bibit pisang Kepok Kuning misalnya, peminatnya cukup banyak dan bibit maupun buahnya banyak tersedia di kebun Zeze Zahra. Sudah terbukti berbuah dan buahnya bagus. Ini bisa jadi nilai tambah berikutnya.

Kalau kita fokus pada suatu hal, berusaha “mastering”ilmunya, pelan-pelan kita akan menemukan kenyamanan untuk terus berusaha meningkatkan kemampuan, yang pada gilirannya akan bersinergi pada upaya kita meningkatkan pendapatan.

Menyiasati Kekurangan Hidup : Kebun dan Kios Pisang Zeze Zahra

Beberapa rekan bertanya, dimana lokasi Zeze Zahra? Jawaban saya tergantung. Tergantung yang ditanya kios aneka pisang Zeze Zahra atau kebun pisang Zeze Zahra.

Kios aneka pisang Zeze Zahra ada di Bekasi Timur. Dekat rumah saya dikawasan perumahan pinggiran kota. Kebun pisang Zeze Zahra ada di wilayah Batujaya Karawang. Butuh waktu sekitar 1.5 sd 2 jam dari kios ke kebun.

Jauh amat? Iya lah. Mahal kalau bertani pisang di kota Bekasi. Tanahnya saja bisa 5-15 juta per meter persegi. Untuk lahan 100 meter bisa habis uang 500 juta rupiah. Nggak bisa tanam pohon pisang, harus tanam pohon duit baru bisa kembali modal, hehehe…

Di Karawang pelosok, harga tanah masih cukup terjangkau. Saat awal mula bertanam pisang, saya berencana membeli lahan 100 meter saja. Disesuaikan dengan kemampuan dan daya beli. Ternyata lahan yang dijual rata-rata diatas 1000 meter. Jadilah saya ambil tabungan, agar bisa mendapat lahan yang sesuai.

Karena lokasi cukup jauh, tidak mungkin saya tiap hari mondar mandir kesana. Selain karena saya masih aktif mengurus Excellent (PT Excellent Infotama Kreasindo, IT services provider, https://www.excellent.co.id), mondar-mandir kesana tentu menyita waktu dan melelahkan. Beruntung bagi saya karena saya mendapat orang kepercayaan, yaitu pak Amoy. Pak Amoy yang membantu mengurus sawah, ladang dan ternak disana.

Adik saya Qchen punya rumah di pinggiran kampung di kabupaten Bekasi. Harga tanah disana juga lebih rendah daripada di kota Bekasi. Qchen membeli tanah di pinggiran kampung. Tanah itu gersang sekali. Saya melihatnya saat musim kemarau dan tidak berminat sama sekali. Tapi Qchen membelinya karena dekat dengan rumahnya.

Ditangan Qchen, lahan gersang itu bisa disulap jadi hijau royo-royo. Dia menebarkan pesak (sekam padi) kemudian melapisinya dengan pupuk kandang. Lahannya jadi subur. Dia menanam kangkung, tanaman obat, palawija dan bibit pisang. Dia juga memelihara ayam dan kelinci. Bagi saya yang biasa menonton serial “Live Free or Die” di NatGeo, rumah dan kebun Qchen ini cocok bagi orang yang ingin mandiri pangan, bisa mencukupi sebagian besar kebutuhan hidup sehari-hari.

Kebun Qchen dijadikan sebagai plasma nutfah. Pusat bibit yang saya beli dari beberapa tempat. Bibit bonggol Fhia17, bibit pisang mas Kirana dari Lumajang, bibit pisang Barangan dari Medan, bibit pisang Raja Bulu+pisang Ampyang/Kreas dari Kebumen dan bibit pisang Tanduk Sukabumi mampir di kebun Qchen sebelum nantinya ditanam di kebun Zeze Zahra di Karawang.

Beberapa waktu yang lalu, Qchen menambah lahan disebelahnya. Setelah dibersihkan dari gulma dan semak, dia menjadikan lahan tersebut sebagai lahan ujicoba beberapa tanaman pisang pilihan.

Uangnya banyak amat bisa beli lahan beli bibit buka kios dan lain-lain. Uangnya tidak banyak, karena kami datang bukan dari keluarga yang berkecukupan. Tapi kami punya prinsip, jika ada hobi, keinginan dan tujuan yang ingin dicapai, kami akan berusaha mendapatkannya. Kami pernah berjualan pisang goreng, es mambo dan petasan Menyiasati Kekurangan Hidup : Kebun dan Kios Pisang Zeze Zahra saat kecil. Saya pernah mengajar les privat, membuka rental komputer, menjadi buruh pabrik hingga menjadi pemetik buah-buahan.

Uang serupiah dua rupiah yang didapatkan dikumpulkan. Butuh waktu cukup lama sampai bisa membeli perlengkapan. Perlengkapan itu (komputer, akses internet) itu yang digunakan untuk mencari uang yang lebih besar agar bisa membiayai tujuan lain seperti membeli lahan dan bertanam pisang.

Bagi rekan-rekan yang lahir dari keluarga petani, dari keluarga orang kebanyakan, jangan pernah malu dan menyerah. Bagi rekan-rekan yang berpeluh keringat, baju penuh getah pisang, kotor karena lumpur, jangan lupa mencucinya, hehehe… Maksudnya, jangan pernah menyesali dan merasa malu karenanya. Penghasilan yang didapatkan adalah penghasilan yang insya Allah berkah, diusahakan dengan niat baik, dijalani dengan cara yang baik dan akan menghasilkan hasil yang baik.

Jangan khawatir jika sekarang masih belum terlihat hasil luar biasa. Air mendidih di suhu 100 derajat. Bisa jadi usaha kita baru sampai 40, 50 atau 70 derajat. Terus konsisten memperbaiki kualitas diri, insya Allah hasilnya akan sepadan.

Jika sekarang belum punya lahan, kita bisa mulai dengan menjual buah. Jika saat ini belum punya modal besar, kita bisa mulai dengan menjual daun dan jantung pisang. Kita bisa mulai dari modal yang kecil dari usaha sendiri.

Saat harga pisang jatuh, kita bisa mencari akal dan alternatif lain. Bisa dalam bentuk pengolahan pisang bisa dalam bentuk pembuatan penganan. Kalau kita dalam posisi under pressure dibawah tekanan untuk bertahan hidup, kita pasti akan selalu menemukan jalan keluar. Jangan menyalahkan kondisi, situasi, menyesal lahir dari keluarga miskin, menyalahkan hal-hal diluar diri kita.

Berusaha merawat kebun, merawat tanaman, menghasilkan panen yang bagus, belajar dari berbagai hal agar kualitas hidup kita terus meningkat.

Hidup kita milik kita, susah maupun senang, kita juga yang menjalaninya.

Menyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Saat awal menanam pisang, saya tahu lokasinya rentan banjir, karena sebelumnya lahan tersebut merupakan sawah. Posisinya juga tidak jauh dari kali Citarum. Karena hal itu, saat menanam pisang, lubang tanam tidak terlalu dalam. Saya dan Qchen adik saya memilih untuk meninggikan pokok/pangkal tanaman agar tidak terendam.

Selain itu, dibuat juga beberapa parit kecil dan kolam penampungan air.

Setelah menanam bibit, pentingnya saluran air tidak terlalu terlihat, karena saya justru harus menghadapi musim kemarau. Alih-alih menghadapi banjir, saya justru menghadapi kekeringan yang memaksa saya mengebor air dan menerapkan sistem irigasi tetes. Bisa dilihat pada beberapa foto yang saya tambahkan.

Saat musim hujan kembali datang, barulah pentingnya parit kembali muncul. Hujan beberapa hari berturut-turut menyebabkan genangan yang jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan tanaman pisang layu dan kemudian mati.

Harusnya hal ini disiapkan dan diprediksi sejak awal, ya namanya juga petani pemula, susah tahu penting tapi tidak langsung action karena tidak terlihat nilai pentingnya, ditambah lagi budgetnya diarahkan untuk keperluan yang lebih urgent.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Saat itu musim kering. Tanaman merana kekurangan air. Jika budget yang ada saya gunakan untuk menggali saluran air menghadapi musim hujan, bibit yang ada keburu mati. Ibarat orang sudah setengah mati kehausan, bukannya dikasih air malah uangnya digunakan untuk memperbaiki saluran.

Ehm, kayaknya nyari pembenaran, Iya, anggaplah begitu, hehehe…

Nah sekarang setelah tanaman terendam, apa yang harus dilakukan. Setelah berkunjung ke kebun dan melihat langsung, saya memutuskan untuk segera membuat saluran air berupa parit di masing-masing jalur. Paritnya agak lebar karena tanahnya digunakan untuk meninggikan pangkal/bonggol tanaman pisang.

Nantinya parit akan dibuat lebih dalam. Diatasnya bisa saja nanti dipasangi rel untuk mengambil hasil panen, tapi itu urusan berikutnya.

Di beberapa sudut kebun dibuatkan kolam penampungan agar jika ada air berlebih bisa ditampung, sekaligus sebagai cadangan air saat musim kemarau.

Untuk lahan kebun Zeze Zahra, saya mengerahkan 5 orang yang berbarengan membuat parit. Yang mengerjakan adalah petani sekitar yang biasa membuat parit untuk tanaman timun dan biasa bekerja di sawah. Masing-masing jadi dapat benefit. Petani dapat penghasilan tambahan, keperluan Zeze Zahra juga dapat segera dituntaskan. Diperkirakan akan memakan waktu 10 hari sampai tuntas semua.

Saat ini sebagian besar parit sudah selesai dan air sudah tidak menggenangi tanaman. Apakah sudah menyelesaikan masalah? Belum tentu, karena masih harus dilihat perkembangannya. Yang jelas, tiap proses akan selalu memberikan kesempatan kita untuk belajar.

Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita. Tsah… Menyiasati Tantangan Berkebun PisangMenyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Menyiasati Tantangan Berkebun Pisang

Saat awal menanam pisang, saya tahu lokasinya rentan banjir, karena sebelumnya lahan tersebut merupakan sawah. Posisinya juga tidak jauh dari kali Citarum. Karena hal itu, saat menanam pisang, lubang tanam tidak terlalu dalam. Saya dan Qchen adik saya memilih untuk meninggikan pokok/pangkal tanaman agar tidak terendam.

Selain itu, dibuat juga beberapa parit kecil dan kolam penampungan air.

Setelah menanam bibit, pentingnya saluran air tidak terlalu terlihat, karena saya justru harus menghadapi musim kemarau. Alih-alih menghadapi banjir, saya justru menghadapi kekeringan yang memaksa saya mengebor air dan menerapkan sistem irigasi tetes. Bisa dilihat pada beberapa foto yang saya tambahkan.

Saat musim hujan kembali datang, barulah pentingnya parit kembali muncul. Hujan beberapa hari berturut-turut menyebabkan genangan yang jika tidak segera diatasi, bisa menyebabkan tanaman pisang layu dan kemudian mati.

Harusnya hal ini disiapkan dan diprediksi sejak awal, ya namanya juga petani pemula, susah tahu penting tapi tidak langsung action karena tidak terlihat nilai pentingnya, ditambah lagi budgetnya diarahkan untuk keperluan yang lebih urgent.

Maksudnya bagaimana? Maksudnya begini. Saat itu musim kering. Tanaman merana kekurangan air. Jika budget yang ada saya gunakan untuk menggali saluran air menghadapi musim hujan, bibit yang ada keburu mati. Ibarat orang sudah setengah mati kehausan, bukannya dikasih air malah uangnya digunakan untuk memperbaiki saluran.

Ehm, kayaknya nyari pembenaran, Iya, anggaplah begitu, hehehe…

Nah sekarang setelah tanaman terendam, apa yang harus dilakukan. Setelah berkunjung ke kebun dan melihat langsung, saya memutuskan untuk segera membuat saluran air berupa parit di masing-masing jalur. Paritnya agak lebar karena tanahnya digunakan untuk meninggikan pangkal/bonggol tanaman pisang.

Nantinya parit akan dibuat lebih dalam. Diatasnya bisa saja nanti dipasangi rel untuk mengambil hasil panen, tapi itu urusan berikutnya.

Di beberapa sudut kebun dibuatkan kolam penampungan agar jika ada air berlebih bisa ditampung, sekaligus sebagai cadangan air saat musim kemarau.

Untuk lahan kebun Zeze Zahra, saya mengerahkan 5 orang yang berbarengan membuat parit. Yang mengerjakan adalah petani sekitar yang biasa membuat parit untuk tanaman timun dan biasa bekerja di sawah. Masing-masing jadi dapat benefit. Petani dapat penghasilan tambahan, keperluan Zeze Zahra juga dapat segera dituntaskan. Diperkirakan akan memakan waktu 10 hari sampai tuntas semua.

Saat ini sebagian besar parit sudah selesai dan air sudah tidak menggenangi tanaman. Apakah sudah menyelesaikan masalah? Belum tentu, karena masih harus dilihat perkembangannya. Yang jelas, tiap proses akan selalu memberikan kesempatan kita untuk belajar.

Apa yang tidak mematikan kita, akan mendewasakan kita. Tsah… Menyiasati Tantangan Berkebun PisangMenyiasati Tantangan Berkebun Pisang