Bekerja Keras dan Responsif

Hari Jumat beberapa waktu yang lalu, ada yang menghubungi saya melalui WA. Menawarkan apakah saya berminat mengambil pisang darinya.

Sama seperti tawaran rekan-rekan yang lain, secara prinsip saya terbuka terhadap peluang itu. Masalahnya hanya satu, yaitu bahwa kios saya masih kecil. Jadi kalau misalnya dikirim 1 truk, ya saya belum sanggup. Karena saya juga masih merintis usaha sekaligus membangun jaringan.

Anggaplah saya bisa menjual 5 sisir pisang per hari, berarti dalam seminggu kesanggupan saya rata-rata 30 sisir. Itu yang kadang jadi nggak klop, karena kalau pemasok kirim ke saya hanya 30 sisir, rugi bandar dan rugi di biaya transportasi.

Kadang ada juga yang berkomunikasi dengan saya, namun saat saya coba hubungi, responnya kurang optimal. Antara mau dengan tidak, bahkan saya sampai harus bertanya beberapa kali untuk memastikan hal tertentu.

Yang menghubungi saya kali ini berbeda. Saya tanyakan harga, dia terbuka pada pilihan harga. Misalnya ada 3 kategori pisang yang bisa mereka deliver. Anggaplah grade A, grade B dan grade C. Misalnya grade A adalah pisang 1 sisir dengan berat 3 kg, grade B pisang dengan berat 2 kg dan seterusnya.

Saya tanyakan foto, dia kirimkan foto. Bahkan dia tawarkan, jika perlu dia kirimkan sample. Saya tanyakan kapan bisa dikirimkan sample jika saya berminat, dia bilang hari itu juga bisa dikirimkan.

Keren. Jika awalnya minat saya hanya 40%-60% (saya hanya minat 40% karena saya punya kebun sendiri dan juga belum yakin apakah mau ambil stock dari yang lain atau tidak), perlahan tingkat peminatan saya naik.

Saat dia sampaikan pisang yang mau dikirimkan ada 3 tipe, yaitu Barangan, Mas Kirana dan Tanduk, saya semakin cocok. Karena ketiga pisang tersebut belum produtif dikebun saya.

Saya sampaikan pesan terakhir, jika mau datang diusahakan sebelum jam 4. Ini sebagai ujian juga sebenarnya, karena jam 5 saya tutup kios dan saya tidak leluasa jika saat hendak tutup kios harus ngobrol detail. Ujian terakhir ini juga lulus, karena dia bilang oke.

Sekitar pukul 14.00 WIB, ada mobil berhenti di depan kios Zeze Zahra. Saya ke depan dan ternyata benar yang datang adalah yang sebelumnya diskusi dengan saya di WA. Berdua dengan rekannya yang sama-sama wanita, dia mulai menurunkan box pisang dibantu pak driver.

Saya sampaikan padanya, wah keren ya, hebat sekali. Perempuan, panas-panas mau datang ke Bekasi. Menurunkan box pisang. Mau merintis jalur pemasaran dan mendatangi calon prospek satu per satu. Jika saya ingin merekrut team untuk perusahaan saya, saya butuh sosok seperti mereka, yang mau bekerja keras dan merintis jalur dari awal.

Saya check, kualitas pisangnya OK. Rapi dan bagus. Saya lihat tingkat tua-nya cukup merata. Buahnya halus menandakan penanganan pasca panennya rapi. Akhirnya saya memilih beberapa grade yang hendak saya ambil dan hendak saya coba display di tempat saya. Dari niatan awal mengambil beberapa sisir sebagai sample akhirnya saya mengambil lebih banyak daripada rencana semula.

Sabtu pagi saya display di toko offline Zeze Zahra. Paralel saya display juga di toko online. Kemudian update ke sosial media.

Beberapa pesanan langsung masuk secara online. Ada juga yang membeli secara offline dari display di toko offline Zeze Zahra. Jadi saya cukup percaya diri untuk mengeksekusi rencana lanjutan, yaitu mengembangkan jalur pemasaran. Misalnya membuka kios baru, membuat jalur pemasaran langsung menggunakan stand (gerobak jualan) dan juga jalur pemasaran keliling perumahan di tempat terpisah.

2 hari sebelumnya saya membaca status salah satu member di Komunitas Petani Pisang, mengenai “jalan sunyi” para petani atau penjual pisang, yang bagi orang lain kelihatannya berat menjalani pekerjaan. Pakaian bercak-bercak terkena getah. Kelihatan lelah dibandingkan mereka-mereka yang bisa tiduran atau ngerumpi ngalor-ngidul.

Tidak apa-apa, kan masing-masing punya jalan hidup berbeda. Sepanjang kita sendiri menikmati kegiatan positif yang kita lakukan, ya jalani saja. Terlalu ribet jika harus memikirkan komentar orang lain yang tidak memberikan value bagi kegiatan kita.

Itu sebabnya saya kagum pada para petani pisang yang selalu berkomitmen mengatasi kendala yang dialami. Yang tidak pernah menyerah. Yang berusaha belajar meningkatkan kualitas tanaman mereka. Kagum pada para penjual pisang, laki-laki maupun perempuan, yang tetap enjoy mengangkat box atau tandan pisang, meski berat dan butuh kerja keras, karena pada akhirnya kerja keras itu akan berbuah manis juga kedepannya.

Comments are Disabled